Kopi Hitam Dingin Dibalik Isu Reshuffle kabinet Presiden Prabowo Subianto

Baso Affandi, SH

Keberanian Menentukan Arah

“Kepemimpinan bukan tentang popularitas, melainkan tentang keberanian mengambil keputusan yang tidak selalu disukai.”
— Lee Kuan Yew

Bacaan Lainnya

Isu reshuffle kabinet Presiden Prabowo Subianto beberapa hari ini, politik dan kesigapan langkah pemimpin sejatinya bukan kegaduhan, apalagi tanda kegagalan.
Ini justru penanda bahwa pemerintahan mulai memasuki fase yang lebih serius fase dimana romantisme kemenangan pemilu perlahan ditinggalkan, digantikan oleh tuntutan kinerja dan disiplin eksekusi.

Layaknya kopi hitam yang mulai mendingin, fase awal pemerintahan selalu memaksa pemimpin untuk bertanya jujur pada dirinya tentang apakah rasanya masih jujur, atau hanya tinggal aroma ?

Kabinet Besar dan Beban Ekspektasi

Kabinet Prabowo lahir dari kompromi politik yang luas. Hampir seluruh kekuatan besar dirangkul. Dari sisi stabilitas politik, ini adalah langkah rasional. Potensi konflik ditekan sejak awal. Pemerintahan mendapat ruang bernapas.
Namun dalam manajemen negara, kabinet besar hampir selalu membawa problem klasik, seperti koordinasi yang rumit dan kecepatan yang tak seragam.

Dalam teori pemerintahan modern, kabinet gemuk bukan sekadar soal jumlah kursi, melainkan soal kesulitan komando. Tidak semua menteri bergerak dengan ritme yang sama. Tidak semua memahami bahwa menjadi pembantu presiden berarti bekerja di balik layar, bukan berlomba mencari sorotan media dan popularitas individu.

Pada fase ini, reshuffle berhenti menjadi isu personal. Ia berubah menjadi kebutuhan struktural.

Reshuffle sebagai Alat Kepemimpinan

Reshuffle sering dipersepsikan sebagai hukuman. Padahal bagi pemimpin dengan latar belakang disiplin, hirarki, dan komando seperti Prabowo, reshuffle adalah alat manajemen kekuasaan.
Ada ukuran-ukuran yang jarang diucapkan, tetapi mudah dirasakan.
Apakah menteri ini mempercepat kerja presiden, atau justru menambah beban klarifikasi ?
Apakah kebijakannya hadir dalam kehidupan rakyat, atau berhenti di siaran pers ?
Apakah ia bekerja sebagai eksekutor kebijakan, atau tampil sebagai aktor politik mandiri ?

Menteri yang gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan itu biasanya tidak ditegur di depan publik. Mereka hanya pelan-pelan masuk ke ruang evaluasi, ruang dimana keputusan besar diambil.

Reshuffle Langkah Rasional

Reshuffle kerap dianggap sebagai langkah tergesa-gesa. Padahal secara politik, ia justru langkah paling aman.
Reshuffle mengirim pesan tegas kepada menteri, bahwa jabatan bukan zona nyaman,
Pesan kepada partai politik pendukung, bahwa kekuasaan tidak gratis, pesan kepada publik, bahwa presiden memegang penuh kendali pemerintahan.

Menunda reshuffle terlalu lama justru berisiko melahirkan persepsi bahwa presiden tersandera kompromi politik dan penting dicatat bahwa dalam politik, persepsi sering kali lebih berbahaya daripada fakta.

Sektor yang Paling Masuk Akal Dievaluasi
Tanpa menyebut nama, pola evaluasi dapat dibaca dengan jernih.
Pertama, kementerian yang menjadi wajah pemerintah di ruang publik. Ketika komunikasi negara tidak utuh dan pesan kebijakan simpang siur, yang diuji bukan presiden, melainkan para pembantunya.

Kedua, kementerian strategis yang seharusnya berdampak langsung, tetapi tak ada langkah dan perubahan yang signifikan. Dalam pemerintahan Prabowo, sektor maritim dan pembangunan manusia semestinya berbunyi keras. Jika tidak terdengar, itu bukan karena rakyat tak peduli, melainkan karena kebijakan tak sampai.

Ketiga, posisi-posisi yang secara administratif memang menuntut penyegaran. Ini reshuffle paling rasional—minim resistensi, minim drama, tapi efektif secara organisasi.

Figur Pengganti dan Arah Kekuasaan

Jika reshuffle terjadi, satu hal hampir pasti, yakni Prabowo tidak sedang mencari figur paling populer, yang dibutuhkan adalah mereka yang mampu bekerja cepat, loyal pada garis komando, minim kegaduhan, kuat dalam eksekusi.

Dalam fase awal pemerintahan, presiden tidak membutuhkan banyak bintang. Prabowo membutuhkan mesin yang bekerja serentak, kompak dan solid.

Seperti kopi hitam, ia pahit, namun jauh lebih jujur.
Jika Prabowo memilih melakukan reshuffle dalam waktu dekat, itu bukan tanda kegoyahan. Justru sebaliknya, menjadi tanda kepemimpinan yang sadar arah, bahwa kekuasaan bukan hanya soal merangkul semua, tetapi keberanian menentukan siapa yang masih sejalan dan siapa yang harus bergeser.

Dalam politik, keputusan yang tepat jarang terdengar manis.
Namun dari keputusan itulah negara bergerak.

Siapa saja yang bakal diganti, digeser atau bahkan diistirahatkan, pembaca lebih tahu siapa menteri atau pembantu presiden yang lebih banyak bekerja daripada mengejar citra pribadi, Prabowo pasti sudah menyimpan catatan khusus untuk mempersiapkan semuanya, kita tunggu saja keputusan dalam waktu dekat oleh sang Presiden.

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait