Menakar Peluang Irham dan Surunuddin Merebut Tiket Golkar di Konsel

  • Whatsapp

Oleh : Aliyadin Koteo
Penulis adalah pengamat rekonsiliasi politik pemuda milenial, praktisi event publik hearing Pilkada/Pemilu. Founder OASIS Sultra, Founder GMKM Konsel, founder Rumpun Yatim Piatu Menginspirasi (Sultra).

Bismillah, Assalamu’alaikim Warahmatullaahi Wabarakaatuhu.

Bacaan Lainnya

Salam sejahterah.

Ada yang menarik ditelisik pada konstalasi politik di Konsel, khususnya di tubuh Partai Golkar.

Sebagai partai penguasa di wilayah itu, kehadiran Irham menantang sang petahana, Surunuddin Dangga akan menambah kebingungan bagi petinggi partai berlambang pohon beringin itu.

Pasalnya, Irham Kalenggo adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar Konsel yang juga Ketua DPRD Konsel dua periode. Sementara sang petahana Surunuddin Dangga adalah Bupati Konsel, kader tulen Golkar yang sekaligus guru politik Irham sepanjang jejak karirnya.

Golkar sendiri melalui sekretaris DPD I Partai Golkar Sulawesi Tenggara (Sultra) Hasan Basri telah menegaskan, bahwa Golkar dipastikan akan mengusung kader maju calon bupati. Dan Golkar hanya akan mengusung satu diantara Irham dan Surunuddin. Kendati keduanya berencana berpasangan, kecil kemungkinan Golkar akan meridhoi itu.

Hal itu dikuatkan dengan pernyataan Ketua DPD I Golkar, Ridwan Bae beberapa pekan lalu, bahwa dirinya sangat bingung memilih diantara keduanya. Irham dan Surunuddin Dangga memilki sumbangsi yang sangat besar terhadap Golkar. Hanya saja tidak menguntungkan bagi Golkar jika keduanya harus maju, baik berpasangan apalagi harus berlawanan.

Lebih detail, Irham periode lalu 2014-2019 menjabat sebagai ketua DPRD Konsel daerah pemilihan (dapil) Ranomeeto, Ranomeeto Barat, Landono, Sabulakoa, Mowila, Angata, Benua, dan Basala. Pria yang akrab disapa bapak Salsa itu pada Periode ini 2019-2024 kembali duduk sebagai Ketua DPRD Konsel dari dapil yang sama. Golkar berhasil meraih kursi terbanyak dari empat dapil se Konsel.

Sementara Surunuddin Dangga pada Pilkada 2015 lalu berhasil menjadi jawara, Golkar sebagai salah satu partai pengusung, dan Irham sebagai ketua Tim Pemenangan berhasil mengantarkan Surunudrin menjadi orang nomor satu di Konsel hingga sekarang.

Jika Pilkada lalu keduanya adalah satu kesatuan merebut pucuk nomor wahid, maka tahun ini keduanya akan bertarung.

Irham melalui gerakan masiv telah melakukan sosialisasi, peraga kampanye baik dunia nyata maupun dunia maya tepampang rapi, pernyataan tegas nampak telah berketetapan hati melawan sang petahana.

Sementara Surunuddin, dengan Tageline “Lanjutkan” satu kali lagi di baliho ragam desain telah tersebar luas di seluruh jazirah Konsel, nampak keyakinan akan kembali menahkodai Konsel.

Lalu bagaimana dengan tiket menuju bursa pencalonan, khususnya di tubuh Golkar. Biar bagimanapun, Golkar memiliki posisi kursi sangat kuat, hanya butuh satù kursi lagi, atau satu partai koalisi untuk dapat menjadi paket tiket mendaftar ke KPU. Surunudin berpeluang, Irham juga demikian.

Mari kita telisik.! Partai secara umum dapat mengeluarkan/memberikan rekomendasi bila beberapa indikator telah dipenuhi, diantaranya adalah, popularitas, elektabilitas, kesiapan financial, visioner sesuai ideologi partai, dan nilai tambah jika kader tulen partai yang sudah berkontribusi banyak, indikator lain kemampuan meyakinkan DPP menggunakan berbagai pendekatan.

Kewenangan mengeluarkan rekomendasi sepenuhnya ditangan Dewan Pimpinan Pusat, melalui tim penjaringan DPD II lalu diteruskan ke DPD I.

Mari kita ukur peluang keduanya melalui pendekatan observasi popularitas elektabilitas, (track record) dan faktor lain yang penulis nilai sangat vital. Yakni financial/kesiapan biaya politik dan kontribusi terhadap partai.

Tulisan ini hanyalah opini berdasarkan pengamatan penulis. Kita semua tentu memiliki pandangan berbeda, dan berhak untuk memberi pandangan sepanjang itu tidak melanggar etik.

Pertama penulis ingin membatasi tulisan ini dengan mengkorelasikan antara popularitas dan elektabilitas, dalam berbagai survey, dan fakta lapangan, popularitas sangat mempengaruhi elektabilitas, dengan kata lain, tingkat ketenaran selalu signifikan dengan tingkat keterpilihan.

Secara politik geografis, Irham selama ini bergelut di DPRD Kabupaten Konsel melalui pilihan rakyat di dapil dua meliputi delapan kecamatan. Dengan demikian wilayah ketenaran tentu terbatas di wilayah itu saja, kata lain sosialisasi dan ketenaran Irham terpusat di dapil dua, namun bukan berarti tidak dikenal di daerah lain di Konsel, hanya saja, dominan pengenalnya adalah orang-orang tertentu, Itu karena posisi iIrham sebagai ketua DPRD yang urusannya kedewanannya menjadi melebar hingga ke wilayah lain.

Kata kunci, popularitas Irham terbatas oleh ruang sosialisasinya selama beberapa kali mencalonkan, dan ini akan menjadi kerja keras Irham untuk menjual popularitasnya melalui sosialisasi secara masiv, belum lagi batas waktu yang sangat singkat.

Selanjutnya elektabilitas, tingkat keterpilihan Irham sangat bergantung pada persentase popularitasnya. Bukan hanya nama, tapi track recordnya juga. Tugas irham dalam waktu kurang lebih satu tahun ini sangat berat yakni mengenalkan diri dan prestasi, sebab itu akan menjadi tolak ukur elektabilitas.
Jika dilihat dari hasil pemilu 2014 lalu, Irham berhasil meraup suara sebanyak 4.575 di dapil II, dan Pemilu tahun ini, di dapil yang sama, Irham berhasil menaikan suara menjadi 5.465 dari 60.323 pemilih.

Selanjutnya kesiapan financial. Perihal ini, penulis tidak bisa memberikan gambaran jelas, sebab penulis bukan bendahara Irham. Penulis sudah berusaha mencari data LHKPN tapi kesulitan memperoleh. Yang pasti Irham pasti punya itu, kendati baru baru ini biaya politik menuju parlemen kembali menguras dompet. Kalau dilihat dari baground, Irham berlatar belakang politisi, mungkin juga pengusaha dan memiliki aset, Tapi, ah sudahlah takut over disini.

Berikutnya Surunuddin. Bicara popularitas, maka hampir dipastikan dari 200 ribu lebih pemilih se Konsel, 99,9 persen telah kenal Surunuddin. Bahkan yang bukan pemilih pun, semisal anak SD dan SMP tentu sudah tau siapa Surunuddin.

Hal itu didasari oleh posisi Surunuddin sebagai petahana, atau Bupati Konsel. Dia juga telah beberapa kali mencalonkan di Konsel, meski sebelumnya gagal berulang.

Dibanding Irham, Surunuddin sangat jauh lebih unggul dikenal. Sebab wilayah politik dan urusan pemerintahannya menyentuh seluruh sendi sendi pelosok Konsel.

Popularitas di atas seperti dimaksud penulis tentu akan berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan (elektabilitas). Jika dilihat Pilkada 2015 lalu, Surunuddin berpasangan Arsalim berhasil meraih suara 57.099 , suara itu paling tertinggi dari empat pasang calon yang memperebutkan suara rakyat berkisar 200 ribu kurang lebih.

Posisinya sebagai bupati saat ini sangat menguntungkan bagi elektabilitas Surunuddin, ada banyak faktor disana, selain posisinya sebagai petahana yang sudah memiliki kekuatan struktur sampai ditingakatan desa, Surunuddin juga tentu telah memiliki keberhasilan membawa Konsel (prestasi) yang tentu dapat menambah elektabilitas.

Menyangkut kesiapan financial. Penulis rasa termaksud pembaca akan bersepakat bila Surunuddin kita nobatkan sebagai balon bupati paling siap biaya politiknya. Ukurannya adalah selain bupati, “Surunuddin adalah seorang pengusaha besar yang memiliki banyak aset, bahkan di luar negeri”, kata orang. Belum lagi ditunjang oleh anak-anaknya yang memiliki baground pengusaha, rekanan juga.

Tidak lupa, ada juga pengusaha-pengusaha atau kontraktor, bukan rahasia umum lagi. Biasanya, momentum Pilkada adalah ladang “tanam saham” bagi pengusaha aliaas kontraktor untuk invest dapat paket pekerjaan. Umumnya mereka berinvest pada orang yang memiliki elektabilitas tinggi dan peluang memenangkan kompetisi.

Selanjutnya terkait kontribusi terhadap partai. Surunuddin dan Irham telah banyak berkontribusi. Namun bila diamati, Surunuddin adalah politisi senior di Golkar, dia pernah menjadi ketua DPRD pertama di Konsel, hingga kemudian menjadi mentor bagi Irham yang belakangan terjun dunia politik.

Bisa dikata, karier politik Irham di partai Golkar sangat besar dicampuri Surunuddin. Sementara Irham, Irham adalah Ketua DPD II Golkar, mengukur kontribusinya agak menyulitkan penulis menerawang, mungkin iya, dia berhasil mempertahankan posisi Golkar sebagai partai penguasa, tapi tentu Surunuddin juga menjadi bagian disana dengan posisinya sebagai Bupati.

Nilai plus bagi Surunuddin, ia bukan hanya menjadi patron kader Golkar di Konsel, ia bahkan berhasil mengantarkan istri dan anaknya tembus DPRD provinsi melalui Golkar. Satu anak lainnya menjadi penyumbang suara bagi Ketua DPD I Partai Golkar, Ridwan Bae melenggang ke DPR RI.

Dari ulasan diatas perbandingan popularitas, elektabilitas, kesiapan biaya politik, kontribusi terhadap partai, tentu menunjukan keunggulan bagi Surunuddin Dangga.

Sehingga penulis menyimpulkan Surunudrin Dangga jauh lebih berpeluang mendapatkan tiket Golkar menuju bursa pencalonan dibandingkan Irham Kalenggo. Tapi tidak lupa, bicara struktur partai, Bapilu Golkar Konsel telah memberi signal bahwa pengurus Golkar Konsel dominan memberi dukungan ke Irham, hanya saja, perihal rekomendasi, mutlak urusan DPP.

Pos terkait