“Mengajar dari Hati, Memimpin dengan Cinta: Kisah Inspiratif Perjalanan Anak Yatim Piatu Menjadi Kepala Sekolah”

Sudarso lahir di Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember, pada 15 Maret 1968, sebagai anak pertama dari orang tua seorang petani yang hidup dalam kekurangan. Takdir membawanya berjuang sejak dini, saat ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SDN 4 Tanggul), ia bekerja sebagai pembersih taman dan melibatkan diri dalam pekerjaan mengecat rumah orang-orang kaya di desanya untuk membiayai pendidikan. Keberanian Sudarso dalam menghadapi keterbatasan ekonomi keluarganya menggambarkan semangat juangnya yang dibentuk sejak ia masih kecil.

Kisahnya menjadi lebih menantang saat ia kehilangan orang tua pada Kelas 6 Sekolah Dasar. Namun, tekadnya tidak surut. Meski terkendala biaya, ia terus berusaha dengan menjual rumput untuk membayar sekolah. Setelah menyelesaikan pendidikannya di tingkat SMP, keterbatasan biaya menghadang langkah Sudarso untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA. Tekadnya yang kuat mendorongnya bekerja di sebuah toko bangunan dengan harapan dapat menabung untuk melanjutkan sekolah pada tahun berikutnya. Menghabiskan tiga bulan bekerja di toko bangunan, perjalanannya kemudian membawanya ke Kota Surabaya, di mana ia menjadi seorang karyawan di Hotel Gubeng Surabaya.

Bacaan Lainnya

Bekerja di hotel membuka jendela dunia baru bagi Sudarso, memperkenalkannya pada berbagai tamu dari berbagai daerah. Suatu hari, ia bertemu dengan seorang tamu yang berasal dari Desa Bopinang, Kecamatan Poleang, Sulawesi Tenggara. Sang tamu memberikan janji berharga untuk menyekolahkan Sudarso di pulau Sulawesi. Ajakan tersebut menjadi pemicu motivasi baginya untuk merantau ke Sulawesi Tenggara demi mewujudkan impian pendidikannya.

Pada pertengahan 1985, Sudarso merantau ke Sulawesi Tenggara dengan harapan bisa melanjutkan pendidikannya. Namun, perjalanan tidak semulus yang diharapkan. Dari janji teman untuk menyekolahkannya, hingga diusir dan berpindah-pindah desa mencari nafkah.

Meski hidupnya terus dipenuhi dengan bergagai macam ujian, Sudarso tak pernah menyerah. Dengan tekad bulat, ia bekerja di berbagai tempat, dari menanam coklat hingga menjadi karyawan hotel. Keberuntungan akhirnya menyertainya ketika bertemu dengan bapak H. Zainuddin yang memberinya peluang untuk bekerja di tempat usahanya dan diberikan kesempatan untuk melanjutkan sekolah di SMA Mutiara Baubau. Saat menempuh pendidikan di SMA, ia tak hanya menjadi pelajar yang rajin, tetapi juga mencari rezeki untuk membiayai hidup dengan bekerja di toko milik Kak Rasyid, anak dari bapak H. Zainuddin. Peranannya semakin berkembang ketika Sudarso terpilih menjadi Ketua Osis selama 2 tahun.

Cerita hidup Sudarso menggambarkan perjalanan yang penuh tantangan dan kejutan. Rupanya, sejak kecil ia memiliki dua cita-cita besar yang ingin diraihnya yaitu menjadi seorang Tentara dan Guru. Sayangnya, ia mengalami kegagalan dalam seleksi Akabri meskipun berhasil mencapai posisi 6 besar dari 600 peserta. Namun, kegagalan tersebut tidak menghentikan langkahnya menuju impian, karena ia yakin bahwa Tuhan memiliki rencana yang lebih indah. Sudarso mendapatkan kesempatan baru dengan lolos bebas tes untuk kuliah di Diploma 2 Matematika Unhalu. Kisah ini menunjukkan bahwa dalam setiap kegagalan terdapat pintu gerbang menuju peluang baru yang bisa membawa seseorang ke arah yang tak terduga. Setelah satu tahun kuliah di Diploma 2 Matematika, karena merasa kurang mampu di jurusan tersebut, maka ia mengikuti tes supenmaru dan berhasil lulus di jurusan Pendidikan Sejarah S1. Selama kuliah, ia menjalani berbagai pekerjaan, dari buruh tukang hingga karyawan Hotel Kendari Beach dan PT. Cinta Damai. Pada semester ke-3 di Jurusan Sejarah, ia berhasil meraih beasiswa Supersemar yang menjadi langkah penting dalam perjalanan pendidikannya.

Dedikasinya tidak hanya terbatas pada dunia akademisi saja. Sudarso juga aktif di berbagai organisasi baik internal maupun eksternal kampus, seperti menjadi Ketua HMJ IPS, Pengurus Senat FKIP, Pengurus SMPT Unhalu, Ketua HMI Komisariat FKIP, Sekretaris Umum HMI Cabang Kendari dan masih banyak lagi. Prestasinya semakin memuncak saat ia diwisuda pada Tahun 1995 sebagai Sarjana Pendidikan dan menjadi guru honor di SMA Negeri 1 Kendari dan mengajar sebagaiGuru Antropologi dan Sejarah.

Sudarso lulus dalam tes CPNS pada Tahun 1997 dan ditempatkan di SMP Negeri 3 Palangga. Selama menjadi guru di SMPN 3 Palangga dan mengajar mata pelajaran matematika, sejarah, dan geografi, ia juga diberi tanggungjawab sebagai Kepala Perpustakaan dan Wakasek Kesiswaan. Pada tahun 2001, Sudarso dipindahkan ke SMP Negeri 7 Kendari. Seiring dengan perjalanannya, sekitar tahun 2002, ia dipercaya untuk merintis pembukaan SMA Negeri 8 Kendari, di mana kemudian ia dipercayai kembali sebagai Wakasek Kesiswaan.

Prestasinya terus bersinar di SMP Negeri 7 Kendari, di mana ia menjadi Wakasek Kesiswaan dan mendapatkan beasiswa S2 jurusan manajemen Pendidikan pada tahun 2004. Setelah menyelesaikan studi S2, ia dipercaya untuk mengajar di SMA Negeri 9 Kendari. Di SMA Negeri 9 Kendari, Sudarso bukan hanya menjadi guru berprestasi, tetapi juga membimbing siswa hingga mencapai tingkat nasional. Ia juga pernah menjadi ketua rombongan siswa dan guru studi banding ke pulau Jawa dan Bali serta ke beberapa negara di Asia Tenggara dan terlibat dalam merintis berdirinya Sekolah Keberbakatan Olahraga (SKO).

Pada tahun 2007, Sudarso memutuskan untuk beristirahat dari posisinya sebagai Wakasek dan memfokuskan diri dalam mengikuti lomba-lomba karya tulis. Dedikasinya dalam perlombaan tampak saat ia berhasil meraih juara 1, baik di tingkat kota Kendari maupun tingkat provinsi Sulawesi Tenggara. Selain itu, ia juga terlibat sebagai instruktur dalam pengembangan kurikulum, termasuk kurikulum 2006 dan kurikulum 2013. Kesuksesannya dalam lomba guru berprestasi tahun 2009 membawanya meraih juara 1, tidak hanya di tingkat kota, tetapi juga tingkat provinsi Sulawesi Tenggara. Prestasinya yang gemilang membawanya maju ke tingkat nasional dan masuk nominasi dalam 5 besar.

Kemampuan dan dedikasi Sudarso dalam bidang pendidikan terus memperoleh pengakuan. Pada tahun 2010, Kementerian Pendidikan mengutusnya untuk mengikuti program Japan Foundation bersama dengan lima rekan dari Yogyakarta, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, dan Bengkulu. Mereka berangkat ke Jepang sebagai utusan Indonesia dan bertemu dengan perwakilan dari sekitar 17 negara lainnya. Selain mendalami program kebudayaan di Jepang, utusan ini juga melaksanakan program kunjungan untuk mengamati perkembangan sistem pendidikan dari tingkat SD, SMP, hingga SMA dan dari hasil kunjungan tersebut lalu diadakan seminar di Tokyo yang dihadiri oleh perwakilah dari 17 Negara lainnya.

Di SMA Negeri 9 Kendari, kesuksesannya tidak hanya terbatas pada prestasi sebagai guru berprestasi tingkat nasional. Sudarso juga menjalani pelatihan intensif sebagai calon kepala sekolah selama 3 bulan, menghasilkan sertifikat calon kepala sekolah. Ia juga mengikuti pelatihan sebagai calon pengawas dan berhasil meraih sertifikat calon pengawas.

Prestasinya tidak hanya dalam ruang kelas. Sudarso juga menjadi asesor di Badan Akreditasi Nasional cabang Sultra selama 10 tahun. Dengan pengalamannya tersebut, ia berhasil melintasi beberapa kabupaten untuk menilai akreditasi sekolah-sekolah, memberikan kontribusi berharga dalam peningkatan kualitas pendidikan di wilayah tersebut.

Di tengah tantangan masa pandemi pada tahun 2020, Sudarso tetap aktif dan berdedikasi. Ia berhasil membimbing siswa dalam bidang kesejarahan, meraih juara 3 di tingkat Indonesia Timur. Selain itu, prestasinya tak berhenti di situ, karena Sudarso juga meraih juara 1 sebagai guru dalam lomba resensi buku rumah peradaban destinasi Pendidikan arkeologi Balai Arkeologi Sulawesi Selatan. Prestasi ini menegaskan bahwa semangat dan dedikasi Sudarso terus berkembang, bahkan di tengah kondisi yang tidak pasti.

Puncak perjalanan terjadi saat Sudarso mendapat nota tugas sebagai pelaksana kepala sekolah SMA Negeri 12 Kendari yang merupakan sekolah baru pada Juli 2021 dan dilantik pada Desember 2021. Setelah mengalami berbagai tantangan dan hambatan, termasuk menempati gedung sementara di SMAN 4 Kendari, lalu SMAN 12 Kendari akhirnya memiliki gedung baru yang berada di Jl. MT. Haryono Lorong Praja No. 90 Kelurahan Lalolara Kecamatan Kambu Kota Kendari dan diresmikan pada 30 Januari 2023. Sejak saar itu, proses belajar mengajarpun dilaksanakan di gedung baru tersebut sampai sekarang. SMAN 12 Kendari terus menorehkan berbagai prestasi baik di bidang akademik maupun nonakademik dan akan terus berupaya memberikan Pendidikan yang berkualitas untuk peserta didik di Kota Kendari khususnya dan di Sulawesi Tenggara umumnya. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara terus melengkapi sarana dan prasarana sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Perjalanan dari Bayangan Menuju Bintang. Di balik kisah kepala sekolah yang penuh prestasi, terdapat perjalanan hidup yang menginspirasi. Kisah Sudarso mengajarkan kita bahwa semangat, ketekunan, dan tekad yang bulat dapat mengubah takdir dan menggapai impian, bahkan dari bayangan tergelap sekalipun.

Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi setiap pembaca, terutama generasi muda. Cerita ini mengajarkan pentingnya tekad, kerja keras, dan doa dalam meraih cita-cita. Melalui perjuangan dan semangat yang ditunjukkan oleh Sudarso, diharapkan pembaca dapat memperoleh motivasi untuk menghadapi rintangan dengan kekuatan pikiran dan hati yang bulat. Dengan tekad yang kuat, usaha yang gigih, dan doa yang tulus, setiap impian yang diinginkan bisa tercapai.

Penulis: Sudarso
Kendari, 22 November 2023

Note: “Tulisan ini dibuat untuk memperingati Hari Guru Nasional yang akan dilaksanakan pada, Sabtu (25/11/23), besok”

 
*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait