Kendari, Sultrademo.co — Pemerintah Kota Kendari memperketat upaya penurunan angka stunting dengan mengaktifkan kembali program Satu ASN Satu Anak Asuh, sebuah skema pendampingan langsung aparatur sipil negara (ASN) kepada keluarga balita berisiko stunting. Program ini ditujukan agar intervensi tidak berhenti pada layanan kesehatan semata, tetapi benar-benar menyentuh pola pengasuhan dan keseharian keluarga sasaran.
Wali Kota Kendari Siska Karina Imran, Rabu (11/2/2026), menegaskan penanganan stunting tidak bisa dibebankan hanya kepada tenaga kesehatan. Menurut dia, persoalan gizi kronis pada anak berkaitan erat dengan perilaku keluarga, sanitasi, hingga pemahaman orang tua tentang pengasuhan.
“Program satu ASN satu anak asuh harus dijalankan secara konsisten. Ini bukan bantuan sesaat, tetapi tanggung jawab bersama untuk masa depan anak-anak Kendari,” ujar Siska.
Data Pemerintah Kota Kendari menunjukkan terdapat 462 balita stunting pada 2026 yang menjadi sasaran perhatian khusus. Para ASN, mulai dari wakil wali kota, sekretaris daerah, pimpinan dan anggota DPRD, hingga seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), ditugaskan menjadi orang tua asuh yang memantau kondisi anak secara berkala.
Pendampingan dilakukan melalui kunjungan langsung ke keluarga, pemantauan status gizi, serta koordinasi dengan tenaga kesehatan dan kader posyandu. Selain pemberian makanan tambahan, ASN juga memberikan edukasi mengenai pola makan anak, kebersihan lingkungan, serta pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Kendari Sahuriyanto Meronda mengatakan peran ASN kini diperluas dari fungsi administratif menjadi bagian dari solusi lapangan.
“ASN tidak lagi hanya bekerja di belakang meja. Mereka menjadi bagian dari intervensi nyata melalui pendampingan keluarga secara berkelanjutan,” kata Sahuriyanto.
Program tersebut juga didukung Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) melalui bantuan pemenuhan kebutuhan dasar keluarga balita berisiko stunting. Pemerintah daerah berharap kombinasi bantuan gizi, edukasi, dan pendampingan intensif mampu mempercepat penurunan prevalensi stunting.
Langkah Pemkot Kendari ini sejalan dengan kebijakan nasional Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang digagas Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program nasional itu menekankan pencegahan sejak dini melalui perbaikan gizi dan pengasuhan anak.
Melalui keterlibatan lintas instansi dan masyarakat, pemerintah daerah optimistis angka stunting dapat ditekan sekaligus meningkatkan kesadaran keluarga tentang pentingnya gizi dan perawatan anak sejak usia dini.









