Kendari, Sultrademo.co – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulawesi Tenggara, Asrun Lio, mewakili Pj. Gubernur Komjen Pol. (P) Andap Budhi Revianto, secara resmi membuka dialog kerukunan umat beragama lintas generasi yang digelar di Kendari pada Sabtu (9/11/2024).
Dialog ini mengusung tema “Penguatan Peran FKUB dalam Menjaga Kerukunan Umat Beragama dan Kondusivitas Pilkada 2024.”
Dalam sambutan awal, Asrun Lio menyampaikan salam dari Pj. Gubernur yang tidak bisa hadir karena tugas dinas, seraya menyampaikan apresiasi atas dialog ini sebagai upaya memperkuat hubungan antarumat beragama, khususnya menjelang Pilkada serentak Sultra 2024.
“Kerukunan beragama di Sultra sangat penting karena kita hidup dalam keberagaman agama, budaya, dan suku. Ini adalah aset yang harus kita jaga untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis dan sejahtera,” ujar Asrun.
Ia memaparkan di Sulawesi Tenggara, dengan mayoritas penduduk Muslim sebesar 95,81 persen diikuti penganut Hindu, Protestan, Katolik, dan Buddha, menunjukkan keberagaman yang menurutnya menjadi modal sosial berharga untuk keharmonisan.
FKUB sebagai wadah perwakilan agama diharapkan mampu menjadi penjaga stabilitas masyarakat di tengah keberagaman ini.
Asrun juga menekankan pentingnya kerukunan sebagai tanggung jawab bersama, yang tidak hanya melibatkan pemerintah, tetapi juga tokoh agama, masyarakat, pemuda, dan perempuan di seluruh Sultra.
Menjelang Pilkada serentak yang akan diikuti 62 pasangan calon, Asrun mengingatkan pentingnya menjaga kondusivitas untuk menghindari polarisasi yang dapat memicu ketegangan antarumat.
Dalam acara tersebut, Asrun menggarisbawahi empat pesan utama: mencegah penyebaran kebencian antarumat, menjaga toleransi, berhati-hati dalam menerima informasi, dan meminta tokoh agama menjadi penjaga perdamaian.
“Pilkada harus menjadi sarana memperkuat demokrasi, bukan memecah belah. Mari kita buktikan bahwa Sultra mampu melalui Pilkada ini dengan damai dan penuh persaudaraan,” tandasnya.
Dialog ini dihadiri Ketua DPRD Sultra, Forkopimda Tingkat I, dan perwakilan tokoh masyarakat, agama, pemuda, dan perempuan, menunjukkan komitmen bersama untuk menjaga kerukunan dan kedamaian di Bumi Anoa.






