Opini : Rasmin Jaya (Ketua DPC GMNI Kendari Periode 2023-2025)
Kendari, Sultrademo.co – Di tengah gegap gempita peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2025, Ketua DPC GMNI Kota Kendari, Rasmin Jaya, mengajak semua pihak untuk melakukan refleksi mendalam. Ia mempertanyakan arah sistem pendidikan Indonesia: Apakah kita membangun manusia utuh atau sekadar mengikuti tren global tanpa mempertimbangkan jati diri bangsa?
Pendidikan Jangan Jadi Ajang Politik
Rasmin menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh dijadikan alat kepentingan politik atau produk kebijakan tanpa sasaran strategis. “Pendidikan adalah aset masa depan untuk membangun SDM unggul. Momentum Hardiknas harus menjadi ruang evaluasi, bukan sekadar seremonial,” ujarnya.
Ia mengkritik praktik ganti menteri, ganti kebijakan yang kerap membuat sistem pendidikan gamang. Menurutnya, pendidikan adalah proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi. “Pendidikan tidak butuh perubahan tanpa arah, tapi keberlanjutan dan evaluasi jujur. Fondasinya harus dibangun dengan sabar,” tegas kader GMNI ini.
Rasmin mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk:
-
Mengoptimalkan alokasi anggaran pendidikan di APBN/APBD, khususnya untuk Sulawesi Tenggara (Sultra).
-
Memperbanyak program beasiswa bagi siswa dan mahasiswa di semua jenjang.
-
Meningkatkan akses pendidikan tinggidengan mempermudah persyaratan masuk perguruan tinggi.
“Beasiswa bukan hanya bantuan finansial, tapi motivasi untuk menciptakan SDM kompetitif. Jika anggaran dan kesempatan diperluas, generasi potensial bisa menjemput peluang,” paparnya.
Rasmin menyoroti pentingnya meningkatkan kualitas pendidikan Sultra. Ia meminta pemangku kebijakan fokus pada:
-
Peningkatan kompetensi guru dan infrastruktur sekolah.
-
Penyusunan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan lokal dan global.
-
Pemangkasan birokrasi yang menghambat inovasi di sektor pendidikan.
“Kita butuh SDM yang tidak hanya pintar secara akademis, tapi juga berkarakter dan kritis. Ini hanya bisa tercapai jika pemerintah serius mengevaluasi kebijakan yang ada,” terangnya.
Mengutip sejarah perjuangan bangsa, Rasmin mengingatkan bahwa pendidikan adalah instrumen perubahan. “Pendidikan adalah kawah candradimuka untuk membentuk generasi yang membawa kemajuan ekonomi dan pembangunan,” katanya
Ia mendorong mahasiswa dan pelajar untuk aktif dalam tradisi intelektual: membaca, diskusi, menulis, dan aksi nyata. “Tradisi kritis harus hidup di kampus. Mahasiswa adalah garda terdepan penjaga semangat pendidikan,” serunya.
Rasmin menutup dengan pesan tegas: “Pendidikan bukan proyek sesaat. Ia butuh komitmen lintas generasi. Mari hentikan politisasi, tingkatkan anggaran, dan jadikan Sultra contoh pembangunan SDM berkelanjutan.”
Redaksi: Uci Lestari








