Pariaman, Sultrademo.co – Momen tak terlupakan dialami Assyifa Rahma Fiandra (17), siswi asal Kota Pariaman yang berhasil lolos ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Kediamannya di Jalan Malalak, Desa Apar, Pariaman Utara, mendadak didatangi langsung oleh Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara.
Kedatangan orang nomor satu di kampus tersebut bukan tanpa alasan. Assyifa dinyatakan lulus sebagai mahasiswa baru Program Studi Geologi ITB melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2026.
Siswi SMAN 1 Pariaman ini merupakan putri dari Radikal (52) dan almarhumah Fitriani (47). Di balik keberhasilannya, tersimpan kisah pilu yang tak terlupakan. Sang ibu meninggal dunia pada 2023 akibat kecelakaan saat mengantarnya ke sekolah.
Bagi Assyifa, kelulusan ini menjadi persembahan terindah untuk mendiang ibunya. Bahkan, ia tetap mengirimkan kabar bahagia itu ke nomor WhatsApp sang ibu yang masih tersimpan.
“Alhamdulillah diterima di ITB, bunda,” kata Assyifa menceritakan kembali pesan yang dikirim ke bundanya kepada langgam, Minggu (5/4/2026).
Meski menyadari pesan itu tak akan pernah terbalas, Assyifa mengaku kebiasaan tersebut menjadi cara untuk melepas rindu. Ia juga sering mencurahkan cerita tentang suka dan duka, serta menyelipkan doa-doa dalam setiap kesempatan.
“Jujur Assyifa tidak menyangka, diterima di ITB ini masih tidak menyangka. Terharu. Ini kado untuk bunda,” kata dia.
Kepergian sang ibu tidak mematahkan semangatnya. Dengan tekad kuat, Assyifa terus bangkit dan menorehkan berbagai prestasi, di antaranya Juara 1 Olimpiade Kebumian SMAN 3 Padang dan Olimpiade Kebumian SMAPSIC SMAN 1 Padang.
Minatnya pada ilmu kebumian mengantarkannya diterima di Program Studi Geologi ITB melalui jalur prestasi akademik. Ia dijadwalkan berangkat ke Bandung pada Juni 2026.
Assyifa juga mengungkapkan pesan yang disampaikan langsung oleh Rektor ITB saat berkunjung ke rumahnya.
“Pesan pak rektor dan tim, mereka berharap nanti Assyifa di sana jadi mahasiswa membanggakan dan berprestasi. ‘Kami menunggu di Bandung’,” kata Assyifa menirukan pesan tersebut.
Kenangan bersama sang ibu masih membekas kuat dalam ingatannya. Kecelakaan tragis itu terjadi saat dirinya duduk di bangku kelas 10, tepatnya Kamis, 26 Oktober 2023.
“Waktu itu Assyifa kelas 10, hari Kamis 26 Oktober 2023, bunda mengantarkan ke sekolah dengan sepeda motor. Di persimpangan, kami berdua ditabrak mobil,” kenangnya.
Akibat kejadian itu, Assyifa mengalami cedera serius hingga harus menjalani operasi tulang panggul. Sementara sang ibu sempat koma di ruang ICU sebelum akhirnya meninggal dunia setelah tiga hari dirawat.
Alumni Geologi ITB, Nofrins Napilus, yang turut hadir bersama rombongan rektor, mengaku terharu dengan perjuangan Assyifa. Ia juga mengapresiasi langkah pihak kampus yang datang langsung menyambut calon mahasiswanya.
“Ini memberikan motivasi lebih bahwa calon mahasiswa dengan lika liku perjuangannya, untuk bisa kuliah,” kata Nofrins.









