Sejarah Selalu Tertulis Antara Penindasan vs Keadilan

  • Whatsapp

Oleh; Hidayatullah*)

Pemangku kekuasaan, penegak hukum dan pemegang senjata, kenapa dilarang dzolim dan dilarang menindas karena ilmu pengetahuan tidak akan pernah berkembang dalam situasi penuh rekayasa dan penindasan terhadap kebebasan berpikir dan pemenuhan keadilan.”
(Hidayatullah, 6 April 2021)

Bacaan Lainnya

Sesungguhnya cara menindas dengan kekuasaan, dengan senjata dan dengan hukum akan memproduksi generasi-generasi pembangkangan sosial dalam dosis tinggi, sisi paradoksnya akan memproduksi generasi yang serba linglung atau terjadinya kebingungan sosial yang kolektif.

Ilmu pengetahuan tidak akan maju berkembang ketika kebebasan berbicara dan berpikir dikekang. Keadilan akan sirna ketika hukum terlalu banyak direkayasa untuk menjadi alat kekuasaan. Peta jalan hukum itu adalah keadilan, maka keadilan selalunya menjadi sumber terciptanya hukum itu yang selalu dibutuhkan disetiap sendi-sendi kehidupan masyarakat dalam sebuah negara yang berhukum. Bahkan komunitas masyarakat yang hidup tanpa berhukum pun pastilah keadilan yang menjadi sandaran kerukunan dalam kehidupan mereka.

Kalau penindasan dan ketidakadilan serta diskriminasi ini tidak segera disadari untuk diperbaiki, maka generasi kedepan akan menerima kenyataan begitu pahitnya warisan penindasan. Sementara dimasa depan kalian yang memproduksi sistem ini telah termakan usia tua renta, sakit-sakitan dan mungkin saja sudah berkalang tanah. Generasi masa depan yang akan hidup bertarung dengan pahitnya kebodohan akibat warisan peninggalan yang tidak nampak terpuji. Bahkan pertarungan generasi penindas akan berhadapan dengan generasi yang melawan penindasan dan pasti referensinya lewat cerita sejarah yang ditulis.

Perlu saat ini mengingatkan ketiga elemen; pemegang kekuasaan, penegak hukum dan pemegang otoritas senjata bahwa, sejarah selalu akan ditulis oleh para pemenang. Maka semua peristiwa-peristiwa kontroversial yang sensitif yang melukai rasa keadilan, diskriminasi hukum, sosial dan politik serta membiarkan penindasan akan menjadi tulisan sejarah kedepan. Lalu, nanti sejarah akan diajarkan secara sepihak oleh penguasa baru yang berbeda dengan cara kalian berkuasa. Pasti laku dzalim, diskriminasi dan penindasan akan didesain ceritanya sebisa mungkin supaya menjadi satu versi resmi yang telah disusun oleh para pembuat kebijakan baru.

Bisa saja sejarah kelam akan menjadi roman sejarah yang masuk dalam kurikulum di pelajaran sekolah nanti. Akibatnya sejarah tertulis akan lebih punya muatan dendam, politis ketimbang akademis.

Tetapi itu tidak akan terjadi ketika pemangku kekuasaan, pemegang otoritas senjata dan penegak hukum secepatnya merubah diri untuk berlaku adil, tidak diskriminatif dan tidak merekayasa apapun, maka pasti sejarah juga akan ditulis dengan adil, obyektif dan akademis. Maka lewat sejarah pasti generasi kedepan yang memimpin bangsa ini akan berbuat adil pula, tetapi sebaliknya lewat sejarah ditulis ketika saat ini kekuasaan dijalankan secara semborono dan diskriminatif.

Maka berbuat adil lah, dan jangan pertontonkan diskriminasi, penindasan dan membiarkan pembunuhan karakter dengan cara berhukum yang tidak adil, apalagi membunuh diluar hukum dan merekayasa sesuatu yang publik sendiri tidak percaya. Fakta-fakta yang realistis terjadi saat ini sulit untuk tidak ditulis dalam sejarah kelam bangsa ini.

Maka cara dan lakon berkuasa saat ini dimasa depan nanti pasti sejarah ditulis dan diajarkan sebagai ilmu pengetahuan dengan desain fakta dan rasionalitas. Kenapa ? karena setiap peristiwa sejarah diajarkan dengan landasan hukum kausalitas: hukum sebab-akibat. Setiap peristiwa sejarah yang muncul tak begitu saja turun dari langit; tak ada tragedi meletup tanpa asal-muasal; dan begitu pula tak mungkin kita yang hidup saat ini terlepas seluruhnya dari masa lalu. Kita juga hidup saat ini karena bagian dari masa lalu itu. In het heden ligt verleden in het nu wat komen zal, dalam masa kini terletak masa lalu dan (apa yang dilakukan) pada masa kini kelak akan ditemui di masa depan.

Saat ini bangsa kita sungguh menanggung beban masalah yang sudah begitu berat dan menumpuk; pandemi covid-19, pro-kontra vaksin covid-19, perekonomian mulai morat-marit, bencana alam disana-sini. Kerusakan lingkungan akibat pertambangan legal maupun ilegal. Utang negara yang menumpuk dan membengkak, komunitas-komunitas bangsa yang terbelah. Media sosial yang menjadi sarana cacian dan umpatan. Media arus utama (Mainstream media, MSM) banyak memberitakan kebohongan yang justru tidak faktual. Produksi hoax dan speaker para buzzer yang memberangus dialektika yang sehat dalam demokrasi.

Bukannya kita konsentrasi mengatasi masalah krusial itu, malah energi kekuasaan terlebih aparat hukum terus saja berkutat terhadap radikalisme, ekstrimisme dan menguras energi mereka dan menyita perhatian publik hanya untuk organ-organ kecil yang dipaksa hal-hal yang tidak dilakukkannya. Apa yang membuat bangsa ini, saat ini kita tidak bisa lagi bekerjasama dan bersama-sama bekerja membangun bangsa ?

Jujur penulis sudah muak dengan keadaan saat ini. Banyak rekayasa-rekayasa yang sudah over menjurus kepada sensitifnya pada kebebasan berpikir dan berekspresi, phobia ajaran agama tertentu baik organ maupun tokoh dan pengikutnya. Sudah terlalu sesak kita dengan cara adu domba (devide at impera).

Sudahlah..! kekuasaan dan aparat hukum berhentilah diskriminatif, dramatisir dan rekayasa sana-sini, juga pemegang otoritas senjata berhentilah memamerkan kekuatanmu, dan akhiri hati yang keras dan egoisme ini, karena masyarakat sudah cerdas dan paham apa yang dilihat dan dilakukan. Masyarakat juga sudah cukup cerdas bagaimana kebijakan diproduksi dan bagaiman peran-peran rekayasa dan diskriminasi itu terlalu nampak dan semborono. Untuk apa semua ini ? Siapa yang mendesainnya ? hentikanlah semua ini karena membuat terbelah bangsa kita dan tidak punya nilai sosial dan historis yang terpuji.

Mari kita bekerjasama dengan melihat kedepan adalah suatu masa yang pasti berbeda, dan kita bangsa Indonesia selalunya tidak ingin jatuh ke jurang yang sama. Hanya keledai yang dungu yang jatuh dilubang yang sama. Kita bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang dan warga negara yang hidup dibangsa ini selalu diliputi rasa empati terhadap kemanusiaan dan memiliki religiusitas yang tinggi. Kelola dan hargai ini dengan cara mengelola kekuasaan negara secara adil dan berkeadaban.

Sebagai penutup mari kita mengajarkan generasi kedepan bahwa dengan hukum yang berkeadilan, keberanian menegakkan yang hak, hati yang lembut dan sikap yang tidak egois yang dapat menaklukan surga. Jauhkanlah generasi kedepan untuk tidak harus menghamba matahari yang bersinar karena suatu waktu matahari itu pasti terbenam. Bebaskanlah generasi ini untuk bebas berpikir dalam memajukan ilmu pengetahuan karena semua sumbernya dari ke-Illahi-an.

Demikian, semoga apa yang terjadi hari ini dapat dievaluasi, diperbaiki untuk masa depan yang cemerlang demi generasi kita yang lebih baik dan berkeadaban.

*)Penulis; Ketua Presidum JaDI Sultra/Praktisi Hukum

Pos terkait