Kendari, Sultrademo.co – Sastrawan ternama Indonesia, Seno Gumira Ajidarma, hadir sebagai pembicara utama dalam Gelar Wicara bertema “Penulisan Sastra dan Pengalihwahanaan” yang digelar oleh Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara di Mall The Park Kendari, Senin (20/10/2025).
Dalam kesempatan itu, Seno membedah proses kreatif di balik penulisan karya sastra dan bagaimana karya tersebut bisa dialihwahanakan ke bentuk lain, seperti film, drama, hingga media digital.
Menurutnya, menulis sastra bukan sekadar menciptakan cerita, tetapi juga tentang kejujuran batin dan keberanian menyuarakan pengalaman manusia.
“Sastra adalah ruang kebebasan bagi penulis untuk berbicara tentang kenyataan, bahkan ketika kenyataan itu tidak ingin dibicarakan,” ujar Seno di hadapan peserta yang memenuhi area acara.
Seno kemudian menjelaskan konsep pengalihwahanaan, yakni proses mengubah karya sastra menjadi bentuk lain tanpa kehilangan makna dan esensi aslinya. Ia menegaskan bahwa pengalihwahanaan bukan sekadar adaptasi teknis, tetapi juga tafsir kreatif terhadap teks.
“Ketika sebuah karya dialihwahanakan, yang berpindah bukan hanya cerita, tetapi juga semangatnya. Tantangannya adalah menjaga jiwa karya agar tetap hidup di medium yang berbeda,” jelasnya.
Di tengah derasnya arus digital, Seno juga mengingatkan pentingnya peran penulis dalam menjaga keotentikan karya. Ia mendorong para penulis muda untuk tidak menulis hanya demi tren, melainkan menggali pengalaman pribadi dan kepekaan sosial.
“Menulis yang baik lahir dari kejujuran dan kepekaan terhadap realitas di sekitar kita,” katanya.
Acara tersebut mendapat antusias tinggi dari peserta yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, dan pegiat literasi. Banyak di antara mereka mengaku terinspirasi oleh cara Seno memandang hubungan antara sastra, kehidupan nyata, dan peluang pengalihwahanaan di industri kreatif.
Gelar wicara bersama Seno Gumira Ajidarma ini menjadi salah satu agenda utama Semarak Bulan Bahasa dan Sastra 2025, yang digelar Balai Bahasa Sultra untuk menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap bahasa dan sastra Indonesia di era modern.
Laporan: Nur Mina (Magang)





