Medan, Sultrademo.co – Idul Adha tak sekadar menjadi peringatan ritual keagamaan, namun juga menjadi momentum reflektif bagi kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk menakar ulang arah perjuangan dan keberpihakan mereka terhadap umat dan bangsa. Seruan itu disampaikan oleh Advokat M. Taufik Umar Dani Harahap, SH, Instruktur HMI Cabang Medan, melalui tulisan reflektif bertajuk “Teladan Rasulullah Ibrahim AS: Makna Perjuangan dan Qurban bagi Pergerakan Kaum Muda Hijau Hitam.”
Dalam tulisannya, Ia menekankan bahwa kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS merupakan simbol keberanian eksistensial yang harus menjadi inspirasi bagi kader HMI saat ini.
“Qurban bukan hanya tentang penyembelihan hewan, tetapi menyembelih ego, membakar kepentingan pribadi, dan mengabdi total bagi umat dan bangsa,” tegasnya.
Ia menyebut, Nabi Ibrahim AS bukan sekadar tokoh spiritual, tetapi juga figur revolusioner yang menantang dominasi kekuasaan dan keberagamaan yang menyimpang. Dalam konteks kekinian, Taufik mengingatkan bahwa “berhala” tidak lagi berbentuk patung, melainkan menjelma sebagai kekuasaan absolut, loyalitas buta, dan budaya patronase dalam organisasi.
“Menjadi kader HMI bukan jalan mencari jabatan, tetapi jalan pengabdian. Semangat Ibrahim adalah gugatan terhadap sistem yang membungkam nurani,” ujarnya.
Taufik juga menyoroti fenomena kader HMI yang lebih tertarik mengakses jejaring kekuasaan daripada menjadi penggugatnya. Menurutnya, krisis integritas elite bangsa harus dihadapi dengan keberanian moral dan konsistensi berpihak pada suara yang terpinggirkan.
Tulisan ini juga mengangkat warisan pemikiran para tokoh Islam progresif seperti Deliar Noer, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, dan Azyumardi Azra yang pernah menjadi bagian dari HMI. Mereka dinilai sebagai teladan keberanian dalam menolak kooptasi kekuasaan dan menjaga integritas pemikiran Islam modern.
“Cak Nur memperingatkan bahwa identitas keislaman tak boleh sekadar simbol. Sementara Wahib menunjukkan bahwa qurban sejati adalah berani berpikir bebas meski ditinggalkan. Ini warisan yang harus dihidupkan kembali,” ungkapnya.
Mengutip pemikiran Paulo Freire, ia menyebut pembebasan hanya bisa lahir dari dialektika refleksi dan aksi. Dalam hal ini, HMI dituntut melahirkan kader yang tidak hanya tajam dalam diskusi, tetapi juga berani dalam tindakan nyata.
“Forum bukan panggung pencitraan, tetapi ruang pengabdian. Qurban adalah keberanian untuk berbeda, menolak arus, dan berdiri tegak ketika semua memilih diam,” tuturnya.
Menutup refleksinya, Taufik mengajak kader Hijau Hitam untuk menjadikan Idul Adha sebagai momen kontemplasi: apakah masih setia pada nilai atau telah terseret dalam kenyamanan struktural.
“Sejarah tak mencatat mereka yang ramai mengikuti kerumunan. Sejarah mengenang mereka yang berani mencintai kebenaran, meski harus terluka. Di sanalah jalan Ibrahim bertemu jalan HMI di jalan sunyi, yang tak menjanjikan pujian, tapi menyelamatkan martabat,” pungkasnya.
Refleksi tersebut menjadi ajakan terbuka bagi kaum muda HMI agar menjadikan organisasi sebagai rumah pembebasan, bukan batu loncatan kekuasaan. Spirit Idul Adha, menurut Taufik, mestinya menjadi panggilan untuk what to sacrifice, bukan what to gain.
Laporan: Arini Triana Suci R










