Kendari, Sultrademo.co – Tak terasa setahun berjalan pandemi menghantui kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Tak ada satu wilayahpun yang tak dilaluinya. Beragam cerita dan kesedihan yang ditimbulkan dalam benak setiap insan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan pun berganti ke tahun namun tetap saja situasinya masih sama Covid -19 masih menjadi buah bibir dimana-mana.
Terbesit dalam benak, apakah pandemi ini akan berakhir? atau mungkin akan selamanya begini!. Ahh sudahlah,,, ini hanya soal waktu, kita percayakan semuanya kepada sang pemilik dunia dan isinya. Jika dia berkendak apa yang tidak mungkin semuanya akan terjadi. Insya allah.
Sebagai manusia berakal, kita hanya bisa melakukan apa yang bisa kita lakukan. Semisal membantu pemerintah setempat dalam mengurangi terjadinya penambahan angka positif Covid di masing-masing wilayah. Memang tidak mudah, kalau kata orang-orang di sekitar lingkungan tempat tinggalku ” Bicara itu gampang ” melakukannya itu yang susah. Mendengar itu saya hanya berfikir, ah positif thinking saja, anggap itu bualan anak SD yang sedang bermain bersama teman sebayanya.
Memang sulit menghadapi ini semua, tapi semuanya akan lebih sulit jika tidak dilakukan dibarengi dengan ke ikhlasan. Apapun bahasa yang terbuang dari mulut orang-orang, yang jelasnya semua harus berjalan sesuai aturan dari pemerintah. Aturan yang dibuatpun juga untuk kepentingan bersama bukan untuk kepentingan pribadi pemerintahnya.
Semisal nih ya,, saat Ramadhan tahun 2020 kita diwajibkan untuk beribadah di rumah saja. Jangankan beribadah hampir semua kegiatan malah dianjurkan di rumah saja. Bekerjapun di anjurkan di rumah saja. Tidak ada kegiatan buka bersama seperti tahun-tahun sebelum pandemi. Merayakan hari kenangan pun kita tetap harus berada di rumah saja bersama orang-orang tercinta. Tujuannya tidak lain agar kita membantu pemerintah dalam mencegah terjadinya klaster baru penularan Covid-19.
Tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun kemarin. Masih sama dalam masa pandemi namun beberapa kegiatan sudah boleh dilakukan di luar rumah. Kalau istilah kerennya New Normal. Meski terbilang New Normal, tetap saja kita diharuskan menerapkan protokol kesehatan (Prokes) seperti mencuci tangan, menjaga jarak dan yang paling penting tetap gunakan maskermu.
Ramadhan kali ini juga sedikit berbeda, masyarakat sudah dibolehkan beribadah di mesjid masing-masing namun tetap patuhi prokes. Kabar ini sedikit melegakan hati masyarakat karena tidak seperti yang lalu mereka hanya bisa beribadah di rumah saja. Setidaknya ramadhan tahun ini sudah ada sedikit kelonggaran untuk beraktifitas.
Namun tidak untuk merayakan kemenangan (Idul Fitri 1442 Hijriah). Masyarakat kali ini juga tidak diperkenankan untuk merayakan hari kemenangan bersama orang-orang tercinta yang berada di wilayah perantauan. Sama ketika momen lebaran di tahun 2020. Pasalnya tahun ini pun masih tetap diberlakukan aturan larangan mudik lebaran yang dikeluarkan oleh Pemerintah pusat melalui surat edaran yang berlaku sejak tanggal 06 Mei sampai 17 Mei mendatang.
Tak banyak yang bisa menerima aturan tersebut, boleh dikata dari angka 1 hingga 10 hanya ada 4 persen masyarakat yang bisa memahami maksud dari aturan tersebut selebihnya mereka mempunyai pemikiran sendiri untuk mengartikan maksud dari diberlakukannya aturan tadi.
Imbas dari aturan tadi juga beragam, mulai dari yang selow hingga yang mengarah ke anarkis. Misalnya saja masyarakat yang kurang setuju dengan aturan tadi, justru mengadakan demo di beberapa tempat seperti di pusat-pusat perbelanjaan bahkan di wilayah perbatasan yang menjadi posko penghalau keluar masuknya kendaraan baik itu lintas kabupaten/kota maupun provinsi.
Sekilas apa yang mereka lakukan bisa dibenarkan dengan alasan masyarakat yang ingin keluar maupun masuk dalam kota tidak diizinkan karena akan menimbulkan klaster baru sedang pusat perbelanjaan yang terpampang nyata menimbulkan kerumunan masih dibolehkan untuk melakukan aktifitas jual belinya. Jelaslah masyarakat menuntut melihat hal itu. Namun apapun alasannya pemerintah jelas punya alasan tersendiri mengapa mengambil kebijakan seperti itu.
Sebagai warga negara yang baik, kita hanya butuh berfikir dan memposisikan diri kita jika berada di lingkup pemerintahan atau paling tidak ambil sisi positif dari apa yang dilakukan pemerintah setempat. Bayangkan saja jika tidak ada batasan untuk keluar masuknya warga ke wilayah kita bisa saja akan timbul klaster baru dan mungkin akan menambah jumlah angka pasien atau bahkan jumlah ngka kematian akibat Covid-19.
Jika itu terjadi jelas pemerintah harus bekerja dari nol lagi untuk mengatasi penularan dalam jumlah besar. Sementara kita tau bahwa hingga saat ini kota Kendari mungkin masuk dalam kategori kota paling sedikit pasien Covid-19 yang tengah menjalani perawatan.
Sedang untuk larangan mudik itu sendiri, pemerintah bukan sepenuhnya melarang, boleh saja ada warga yang keluar atau masuk jika ada keperluan mendesak ataupun tidak bisa ditunda, namun harus dibarengi dengan surat keterangan bebas Covid baik itu berupa bukti PCR ataupun hasil swab antigen.
Jadi buat masyarakat sekalian yang kiranya marah atau kesal dengan adanya aturan tersebut, sekiranya rajin-rajinlah membaca biar tau apa alasan dibuatnya suatu kebijakan. Jangan hanya mendengarkan dari sebelah pihak lalu mengambil kesimpulan sendiri. Be a smart society, suatu wilayah tidak akan berkembang maju dan berkembang jika pemimpinnya bobrok begitu juga sebaliknya tidak akan berkembang suatu wilayah jika masyarakatnya mau bertindak seenaknya.
Hidup itu bukan soal panjang pendeknya usia, tapi seberapa besar kita dapat membantu orang lain. Sebab, karena virus corona kita jadi paham artinya rindu dan berharganya pertemuan. Dan yang perlu diIngat, kita tidak sedang saling bertarung, tapi kita sedang berjuang melawan virus. Mereka bukan musuh, musuh kita adalah virusnya (Minggu, 16/05/21).
Laporan : Hani








