Konawe, Sultrademo.co – Sektor kesehatan di Kabupaten Konawe tengah bersolek. Bukan sekadar ganti cat atau peremajaan estetika, melainkan sebuah transformasi fundamental yang menyasar akar pelayanan di tingkat akar rumput hingga kecanggihan teknologi medis di rumah sakit rujukan.
Jumat (23/1/2026) menjadi momentum bersejarah. Di bawah langit Kecamatan Lambuya, Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, S.T., secara resmi membuka babak baru pelayanan kesehatan daerah dengan meresmikan ruang rawat inap di empat Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas sekaligus: Lambuya, Anggaberi, Alosika, dan Wawotobi.
Peresmian ini bukan sekadar seremoni gunting pita. Ia adalah manifestasi dari janji politik yang mewujud dalam beton, peralatan medis, dan komitmen pelayanan yang lebih manusiawi.
1. Tiga Pilar Pelayanan: Fondasi Menuju Konawe Sehat
Dalam sambutannya yang sarat akan visi, Bupati Yusran Akbar mengingatkan para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tenaga kesehatan bahwa infrastruktur hanyalah benda mati tanpa jiwa pelayanan yang prima. Ia menitipkan tiga pilar utama yang harus menjadi “kitab suci” bagi setiap insan kesehatan di Konawe:
2. Aksesibilitas: Mendekatkan yang Jauh
Masyarakat di pelosok tidak boleh merasa dianaktirikan. Kehadiran ruang rawat inap di empat puskesmas strategis ini bertujuan agar warga tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke pusat kota hanya untuk mendapatkan perawatan standar yang membutuhkan observasi menginap.
3. Kualitas SDM: Profesionalisme Tanpa Tawar
Gedung megah tanpa perawat dan dokter yang kompeten adalah kesia-siaan. Yusran menekankan pentingnya peningkatan kapasitas teknis maupun etika pelayanan bagi seluruh tenaga medis.
- Efisiensi Pelayanan dan Belanja
Di tengah keterbatasan fiskal daerah, efisiensi adalah kunci. Bupati menekankan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan harus berdampak langsung pada kesembuhan pasien, tanpa adanya birokrasi yang berbelit atau pemborosan anggaran yang tidak perlu.
“Puskesmas adalah ujung tombak. Jika penanganan di sini sudah maksimal dan efisien, maka beban di rumah sakit rujukan akan berkurang, dan masyarakat akan lebih cepat tertangani,” ujar Yusran Akbar dengan nada tegas.
- Revolusi Medis: Hadirnya Fasilitas Cathlab Jantung di RSUD Konawe
Selain memperkuat lini depan di puskesmas, Pemerintah Kabupaten Konawe juga membawa kabar revolusioner bagi pasien penyakit degeneratif. RSUD Kabupaten Konawe kini resmi naik kelas dengan hadirnya gedung PICU (Pediatric Intensive Care Unit) dan fasilitas Cathlab Jantung.
Selama bertahun-tahun, masyarakat Konawe yang menderita penyakit jantung harus menanggung beban ganda: beban penyakit dan beban biaya rujukan ke luar daerah, seperti ke Kendari atau bahkan Makassar. Kini, hambatan geografis dan finansial itu berhasil dipangkas.
Dengan adanya alat Cathlab (Catheterization Laboratory), tindakan medis spesifik seperti pemasangan ring jantung atau diagnostik pembuluh darah dapat dilakukan di RSUD Konawe. Ini adalah lompatan kuantum dalam sejarah medis daerah ini.
“Ini adalah berkah yang patut disyukuri. Masyarakat tidak perlu lagi keluar daerah untuk urusan penyakit jantung. Kita bawa teknologinya ke sini, ke rumah kita sendiri,” lanjut Yusran.
- Investasi Masa Depan: Beasiswa untuk “Anak Daerah”
Sadar bahwa teknologi tanpa operator adalah sia-sia, Pemda Konawe melakukan langkah strategis di tahun anggaran 2026. Yusran mengungkapkan komitmennya untuk membiayai putra-putri daerah yang sedang atau akan menempuh pendidikan kedokteran dan profesi kesehatan lainnya.
Program ini dirancang sebagai skema “investasi manusia”. Pemerintah membiayai sekolah mereka, dan kelak setelah lulus, para dokter muda ini akan kembali untuk mengabdi di tanah kelahiran mereka.
“Tahun 2026, kita akan atur supaya anak-anak Konawe yang sekolah kedokteran dibantu, baik lewat beasiswa atau intervensi lainnya. Kita ingin yang merawat orang Konawe adalah anak-anak kita sendiri yang memiliki ikatan emosional dengan daerahnya,” tegas sang Bupati.
- Pemerataan hingga Pesisir: Rencana Rumah Sakit Tipe D
Visi kesehatan Yusran Akbar tidak berhenti di daratan utama. Ia secara eksplisit membocorkan rencana strategis untuk membangun Rumah Sakit tipe D di wilayah pesisir. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Konawe benar-benar terwujud dalam sektor kesehatan.
Wilayah pesisir yang selama ini memiliki tantangan aksesibilitas geografis akan memiliki pusat rujukan antara, sehingga penanganan darurat tidak terhambat oleh waktu tempuh yang lama menuju pusat kabupaten.
- Bedah Anggaran dan Kekuatan Armada Kesehatan
Transparansi menjadi bagian penting dari kepemimpinan Yusran-Yones. Kepala Dinas Kesehatan Konawe, Yones, S.E., MM., memaparkan secara rinci bahwa pembangunan fasilitas kesehatan ini merupakan kolaborasi anggaran yang apik antara pusat dan daerah:
| Fasilitas Puskesmas | Nilai Anggaran | Sumber Dana |
| Puskesmas Lambuya | Rp 3,19 Miliar | Dana DAK 2025 |
| Puskesmas Wawotobi | Rp 3,47 Miliar | Dana DAK 2025 |
| Puskesmas Anggaberi | Rp 3,43 Miliar | DAU Daerah |
| Puskesmas Alosika | Rp 3,25 Miliar | DAU Daerah |
Total investasi belasan miliar rupiah ini didukung oleh kekuatan personel yang masif. Saat ini, 29 Puskesmas di seluruh Konawe digerakkan oleh 2.769 tenaga kesehatan (gabungan ASN dan non-ASN). Di lini depan medis, terdapat 80 dokter yang siap siaga, terdiri dari 63 dokter umum dan 17 dokter gigi.
Harapan Baru di Hari Esok
Peresmian empat ruang rawat inap puskesmas dan hadirnya fasilitas mutakhir di RSUD Konawe adalah pesan kuat bahwa pemerintah hadir di tengah masyarakat. Di bawah kepemimpinan Bupati Yusran Akbar, kesehatan bukan lagi menjadi barang mewah yang sulit dijangkau, melainkan hak dasar yang dipenuhi dengan kualitas dan martabat.
Konawe kini sedang menapaki jalan menuju kemandirian kesehatan. Sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari ruang-ruang rawat inap di kecamatan, hingga kecanggihan lab jantung di pusat kota. Semuanya demi satu tujuan: memastikan setiap detak jantung warga Konawe terjaga dengan pelayanan terbaik.








