Erwin Usman (foto: Dok. Pribadi)

Oleh : Erwin Usman

Hari-hari ini kita menyaksikan sesama anak bangsa bentrok, baku hantam. Yang aksi menolak UUCK jadi korban, demikian juga korban di pihak aparat yang hanya menjalankan tugas di lapangan.

Ribuan orang harus ditangkap aparat. Sejumlah fasilitas umum dirusak dan dibakar. Di media sosial tak kurang sengit dan riuhnya; caci maki, dan sumpah serapah bertaburan. Sahut-sahutan memantik segregasi yang makin lebar.

Kita sedih melihatnya. Yang saling terlibat bentrok di lapangan hanyalah akar rumput. Mereka dari kalangan biasa. Bukan dari kalangan elit dan oligarki. Mereka semua penghuni piramida terbawah dari suatu sistem bernama: kekuasaan.

Aparat yang jadi korban, pengunjuk rasa yang jadi sasaran amuk aparat, jurnalis yang kena imbas kekerasan, fasum-fasos yang rusak, semua korban.

Entah siapa yang ingin selalu seperti ini? Ada peraturan terkait hajat hidup banyak orang mau dikeluarkan, dibuat saja lekas-lekas, dratnya diusahakan disembuyikan, aneka protes diabaikan saja. Lalu, bila UU sudah disepakati, dan ada protes meluas, kerahkan saja aparat keamanan biar berhadap-hadapan baku hantam di jalanan. Biar mereka anak negeri saling memangsa satu sama lain.

Baca Juga :  BNNP Sultra Kembali Musnahkan 1.002 Gram Narkotika Jenis Sabu

Korban manusia dan harta dihitung hanyalah sebagai konsekuensi. Dianggap risiko. Sesederhana itu alurnya. Dan selalu berulang. Padahal tahun kemarin, pola serupa sudah akibatkan ada 2 orang mahasiswa pemprotes yang meninggal dunia. Tidak jadi pertimbangan, rupanya.

Bidablah master mind di balik semua ini!

Komentar