Kendari, Sultrademo.co – Mantan Menteri Hukum dan HAM RI, Hamid Awaluddin, mengenang kembali momen-momen penting dalam proses perundingan damai antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang berlangsung di Helsinki, Finlandia. Dalam narasinya yang dikutip dari Kaidah.id, Hamid mengisahkan bagaimana cuaca beku di Ibu Kota Finlandia justru kontras dengan panasnya tensi di meja perundingan.
“Di bulan Januari, Helsinki berselubung salju. Dinginnya membekukan ujung-ujung jari. Tapi, dalam cuaca sebeku itu, saya – yang memimpin delegasi kecil Pemerintah Indonesia – tetap merasakan panas yang menggelegak,” tulis Hamid.
Menurut Hamid, seluruh anggota tim perunding, baik dari pihak Indonesia maupun GAM, memegang bara yang harus dipertautkan demi menemukan titik damai. Salah satu sosok penting yang dikenangnya adalah Zaini Abdullah, tokoh sentral GAM yang dikenal dingin, tenang, dan sangat diplomatis.
Hamid menjelaskan bahwa Zaini kerap dianggap sulit diajak berdiskusi. Mantan Menteri Luar Negeri RI, Hassan Wirajuda, bahkan pernah mengingatkan bahwa Zaini Abdullah mudah marah dan tidak mudah percaya pada lawan bicaranya.
Namun, situasi mencair ketika mereka mencoba menjalin komunikasi secara personal di luar forum resmi. Di taman belakang mansion tempat perundingan berlangsung, Hamid mengajak Zaini Abdullah dan Tengku Malik Mahmud berjalan menyusuri tepian sungai kecil untuk berbincang dari hati ke hati.
Momen mencair pun terjadi saat Zaini Abdullah menanyakan latar belakang Hamid. “Pak Hamid dulu aktif di HMI ya?” tanya Zaini dengan nada akrab. Hamid menjawab, “Iya, Tengku. Saya alumnus HMI.” Zaini pun mengungkap bahwa dirinya juga pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam saat kuliah kedokteran di Universitas Sumatera Utara dan bahkan sempat menjadi pengurus Badko HMI Sumut.
Persinggungan masa lalu ini menjadi pintu masuk bagi hubungan yang lebih personal dan cair. “Sedikit-sedikit, saya menautkan ihwal HMI ini dengan perundingan yang tengah kami jalankan,” ujar Hamid.
Ia menyebut bahwa perundingan damai antara Pemerintah RI dan GAM sejatinya menjadi semacam reuni antar alumnus HMI. Di pihak GAM ada Zaini Abdullah, sementara di pihak pemerintah ada Hamid Awaluddin, Sofyan Djalil, dan Farid Husein — semuanya pernah aktif di HMI pada masanya.
Kisah ini menyoroti sisi humanis di balik proses damai yang kompleks, dan bagaimana ikatan emosional dan sejarah bersama mampu menjadi jembatan untuk membangun kepercayaan, bahkan di tengah perbedaan tajam.
Laporan: Arini Triana Suci R
Sumber : Kaidah.id
 






