Kendari, Sultrademo.co – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari menggelar aksi damai dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day di pelataran eks Tugu MTQ Kendari, Jumat (1/5/2026).
Aksi yang dimulai sekitar pukul 10.15 Wita itu diikuti anggota AJI Kendari, sejumlah jurnalis di Kota Kendari, serta pers mahasiswa dari IAIN Kendari.
Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan penolakan terhadap maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang terjadi di sejumlah perusahaan pers di Indonesia.
Ketua AJI Kendari, Nursadah, mengatakan kesejahteraan jurnalis masih kerap diabaikan oleh perusahaan pers. Padahal, menurutnya, jurnalis merupakan profesi yang rentan mengalami intimidasi hingga kekerasan saat menjalankan tugas jurnalistik.
“Selama ini jurnalis sudah bekerja maksimal di tengah tekanan intimidasi serta tindak kekerasan selama bertugas mendapatkan informasi,” ujar Nursadah dalam orasinya.
AJI Kendari dalam aksi tersebut menyampaikan tiga tuntutan utama. Pertama, menolak dan mengutuk keras PHK massal terhadap jurnalis tanpa kejelasan pesangon dan pemenuhan hak pekerja. Kedua, meminta perusahaan pers memberikan perlindungan kepada jurnalis yang bekerja di bawah naungan perusahaan. Ketiga, menuntut adanya jaminan keselamatan dan kesejahteraan jurnalis sebagai bentuk perlindungan profesi serta upaya menjaga demokrasi dan kebebasan informasi.
Sementara itu, Koordinator Komisi Keselamatan Jurnalis (KKJ) Sulawesi Tenggara, Fadli Aksar, menilai banyak perusahaan pers tidak lagi menjalankan fungsinya secara maksimal dalam melindungi pekerja media.
Menurut Fadli, maraknya PHK sepihak menjadi cerminan lemahnya komitmen perusahaan terhadap kesejahteraan karyawan.
“Untuk itu, kami meminta kepada perusahaan pers untuk memberikan jaminan bagi pekerja yang di-PHK. Itu menjadi kewajiban dan harus dilaksanakan,” kata Fadli.
Ia juga mengimbau para pekerja media agar tidak takut memperjuangkan hak-haknya yang diabaikan perusahaan. Selain itu, Fadli meminta negara turut hadir mengawal dan melindungi hak-hak pekerja pers di Indonesia.










