Jeritan Perempuan Pesisir di Kendari

Ilustrasi

Kendari, sultrademo.co – Seorang wanita bernama Rahmania (43) warga Kelurahan Tipulu, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari tertunduk lesu saat menceritaan nasip yang sedang dialaminya. Wanita yang kesehariannya berprofesi sebagai Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Anjungan Teluk Kendari mengeluhkan persoalan iuran yang selama ini dibebankan kepada dirinya dan pedangang yang lain.

Pasalnya iuran yang dibebankan sebelumnya sejumlah Rp250 Ribu perbulan kemudian awal 2023 tiba-tiba berubah menjadi Rp20 Ribu permalam. Ditengah pengunjung yang sudah tidak seramai dulu.

Bacaan Lainnya
 

“Kadang satu malam kita buka kosong tidak ada kita dapat. Ini pun kita bayar iuran Rp20 Ribu tiap malam ada pembeli dan tidaknya tetapi kita bayar,” keluh Rosmina.

Rosmina merasa kebijakan tersebut sangat memberatkan. Iuran sebelumnya yang senilai Rp250 saja pertanggung jawabannya berupa fasilitas yang disediakan tidak jelas. Tiba-tiba dihadapkan dengan aturan Rp 20 Ribu permalam. Ia mengkalkulasi jika diakumulasikan selama 30 hari totalnya mencapai Rp600 Ribu.

“Sebenarnya memang berat kalau tidak dapat pembeli mau tidak mau kita bayar,” ujarnya.

Ia menceritakan sejak memasuki tahun 2023 pendapatan di kawan Anjungan Teluk Kendari mengalami penurunan yang sangat signifikan. Berbeda dengan sebelumya, tiap malam minggu bisa menerima pemasukan 1 Juta hingga 2 Juta.

“Sekarang Rp500 Ribu saja sudah setengah mati,” kata Rosmina.

Ketakutan Dibalik Penataan Kota

Masih di Kendari, tepatnya Kelurahan Sodohoa, Kecamatan Kendari Barat, Nasriati (46) dengan mata yang berkaca-kaca menceritakan keresahan yang selama ini menakutinya. Ibu tujuh anak yang kesehariannya menjual ikan di pinggir laut samping Pasar Pelelangan itu khawatir akan adanya penataan kota yang sewaktu-waktu akan menggusur lokasi tersebut.

“Jadi kami minta dengan pemerintah jangan sampai kami digusur dari tempat kami. Karena itu sudah turunan dari nenek moyang kami untuk berjualan, untuk cari makan,” pintanya.

Aktivitas penjualan ikan di lokasi tersebut berlangsung setiap hari. Mulai pukul 14.00 WITA hingga 22.00 WITA. Nusriati menceritakan dirinya bersama dengan 23 pedagang ikan yang lain telah sering dipindahkan, bukannya malah tambah baik tapi sebaliknya ongkos bertambah mahal dan kerugian bertambah banyak.

“Kami tidak bisa menyekolahkan anak-anak,” ujarnya.

Suaminya yang berprofesi sebagai nelayan kadang melaut hingga sepuluh hari. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari Nurianti bersama dengan ibu-ibu yang lain bekerja sampingan dengan berjualan ikan.

Penghasilannya sebagai penjual ikan, dinilainya cukup membantu dalam meningkatkan perekonomian keluarga. Ia meminta kalaupun ada penataan Kota agar jangan digusur cukup dirapikan saja.

“Jangan dipisahkan cukup dirapikan saja,” tuturnya.

Laporan: Muh Sulhijah

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait