KORBAN PEMILU SERENTAK 2019

  • Whatsapp

Oleh : Subhan Alba M.Si

Jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia kembali bertambah. Kini jumlah petugas KPPS yang meninggal berjumlah 225 Orang.
“Bertambah, jumlah anggota wafat sebanyak 225 dan sakit 1.470,” ujar komisioner KPU Viryan Aziz kepada wartawan, Kamis (25/4/2019), (detikNews).

Bacaan Lainnya

Pemilu jangan membuat Rakyat Sengsara, Pesta Demokrasi 5 tahunan yg seharusnya di rayakan dengan hati riang malah musibah.

Banyaknya beban kerja, tarikan dan tekanan kepentingan politik, administrasi yang rumit, aturan yang mengharuskan KPPS independen, sumberdaya manusia yang minim pengetahuan administrasi pemilu, waktu dan tenaga yang dituntut tepat dan cepat serta terbatasnya kompensasi kerja KPPS menjadi masalah yang sangat kompleks dan cukup beralasan untuk membuat anggota KPPS tertimpa “setres tingkat dewa” dan mengakibatkan yang tadinya kurang sehat menjadi sakit dan yang tadinya punya penyakit jadi meninggal dunia,
ada juga yg shock mendadak struck dan serangan jantung .

Damainya pelaksanaan Pemilu 2019, yang di puji berbagai dunia kini telah ternoda karena begitu banyaknya pelaksanaan pemilu kali ini memakan korban.
Hal Ini menjadi titik balik bahwa *DPR dan presiden yang baru hasil pemilu 2019 harus bekerja serius mengevaluasi dan memperbaiki mekanisme teknis pemilu 2024* agar kedepan tidak ada korban lagi.

Pelaksanaan serentak pemilu Presiden dan Pemilu legislatif 2019 yang pertama kali ini
Harus menjadi pengalaman penting untuk mempersiapkan Pemilu 2024 yang akan datang , untuk itu berikut beberapa hal yang harus menjadi perhatian:

*1.Pengelompokan Pemilu*
Pemilu tetap serentak secara nasional, akan tetapi perlunya pengelompokan dengan waktu yang berbeda, menjadi Pemilu serentak legislatif dan pemilu serentak Eksekutif.
Pemilu serentak legislatif meliputi Pemilu DPR RI , DPD,DPRD dan Pemilu serentak Eksekutif meliputi Pemilu Presiden, Gubernur dan Bupati/walikota.

*2.Parlementary Threshold 10%*
Untuk efektivitas dan efisiensi managemen aspirasi masyarakat dan mengurangi jumlah partai yang tidak terlalu banyak, kita tetap pada multi partai sistem, akan tetapi lebih aimpel bila Pemilu kedepan cukup dengan 3 Sampai 5 Partai saja jumlah Partai yang mengikuti pemilu di Indonesia.

*3.Sistem Proporsional tertutup*
Pemilu legislatif sebaiknya menggunakan sistem Proporsional tertutup , Dengan Proporsional tertutup maka pemilih hanya memilih partai saja tanpa memilih Caleg, hal itu juga ,bagian dari upaya menekan angka money Politics terlalu besar dan masif yang dampaknya pada saat anggota dewan terpilih bekerja,akan berburu balik modal yg mengakibatkan anggota dewan terjebak korupsi.

*4.E-Voting*
E-Voting bisa menjadi alternatif Pemilu efektif di era teknologi digital ini , Puluhan Negara menggunakan Pemilu sistem E-Voting diantaranya India dan Brazil kita bisa belajar dari dua negara itu, tinggal kita siapkan sistem E-voting ini untuk Pemilu serentak 2024, dalam sekala lokal dicoba juga pada Pilkada- Pilkada yang akan datang. Sehingga Pemilu serentak 2024 sudah matang E-voting
Dengan E-voting cukup menggunakan KTP saja tanpa berurusan dengan DPT yang begitu rumit dan tanpa rekapitulasi yang berjenjang (melibatkan PPK , KPU Kabupaten Kota, KPU Provinsi serta KPU RI) yang membutuhkan waktu berbulan bulan yang sangat lama. Sehingga selesai Pemilu di hari yang sama hasil pemilu sudah bisa di umumkan secara Nasional.

Pemilu serentak Pilpres dan Pileng 2019 yang pertama kali ini kita lakukan harus benar benar menjadi titik balik Evaluasi bagi Anggota DPR-RI dan Presiden terpilih hasil Pemilu 2019 , karena ternyata Pemilu kali ini ada faktor yang membahayakan Fisik maupun psikis bahkan nyawa bagi rakyat Indonesia yang dalam hal ini para penyelenggara pemilu di bawah terutama KPPS, Meninggalnya 225 Orang dan sakitnya 1.470 orang anggota KPPS sebagai korban Pemilu serentak 2019 harus menjadi perhatian semua pihak.
Terimakasih semoga bermanfaat.

Jakarta, 26 April 2019

Pos terkait