Kendari, Sultrademo.co – Di tengah tantangan sektor perkebunan rakyat, kabar baik datang dari dunia kampus. Laboratorium Entrepreneur Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Kendari resmi digandeng Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Indonesia sebagai tim pakar edukasi untuk program Beasiswa SDM Sawit 2025.
Sebuah misi pengabdian untuk mendekatkan akses pendidikan tinggi kepada anak-anak petani sawit di Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kolaborasi ini bukan hanya soal beasiswa, tapi bagian dari ikhtiar panjang membentuk SDM unggul di sektor perkebunan rakyat. Program ini merupakan inisiatif Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, yang tahun ini kembali menggulirkan peluang bagi generasi muda di komunitas sawit untuk kuliah dengan dukungan penuh negara.
Ketua Umum SPKS Indonesia, Sabarudin, mengatakan bahwa kerja sama ini bukan kebetulan. Menurutnya, Lab. Entrepreneur FEBI IAIN Kendari punya pendekatan khas yang menggabungkan ilmu dan kepekaan sosial.
“Kami percaya, pendekatan berbasis keilmuan dari tim Lab. Entrepreneur akan memperkuat pemahaman petani tentang pentingnya pendidikan dalam membangun masa depan sektor sawit rakyat,” ujar Sabarudin, Sabtu (24/5/2025).
Sementara itu, dosen dan pakar Lab. Entrepreneur FEBI, Muhamad Tonasa, menyebut keterlibatan ini sebagai bentuk nyata pengabdian kampus kepada masyarakat.
“Kami merasa terhormat jadi bagian dari gerakan ini. Ini bukan cuma soal beasiswa, tapi bagaimana membentuk mentalitas petani muda jadi pelaku ekonomi masa depan,” kata Tonasa.
Kegiatan edukasi dan sosialisasi ini menyasar langsung komunitas-komunitas tani, termasuk kelompok tani dan koperasi lokal di Sultra. Salah satu yang terlibat adalah Koperasi Oheo dari Konawe Utara.
Ahmad, salah satu peserta dari komunitas tersebut, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran tim dari kampus.
“Penjelasannya rinci dan mudah dipahami. Kami jadi lebih yakin untuk dorong anak-anak petani ikut program beasiswa ini. Siapa tahu kelak mereka bisa balik dan bangun desa,” ujarnya.
Beasiswa SDM Sawit bukan hanya menyekolahkan anak petani, tapi bagian dari transformasi sektor sawit yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan. Dengan menggandeng institusi akademik seperti IAIN Kendari, program ini mendorong terciptanya jembatan ilmu di tengah kebun sawit.
Sinergi antara SPKS dan IAIN Kendari ini membuktikan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari kota besar, tapi bisa tumbuh dari desa-desa, dari ladang sawit, dan dari ruang dialog antara petani dan akademisi.
“Kami ingin lebih dari sekadar menyampaikan info beasiswa. Kami ingin menumbuhkan harapan, bahwa anak petani bisa jadi sarjana, bisa jadi pemimpin, bisa jadi inovator,” tutup Tonasa.
Laporan: Muhammad Sulhijah

















