Oleh: Asman Budiman, S.Pd, M.Pd
(Kepala Pusat Studi Pendidikan Islam dan Sosial)
GURU memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Majunya sumber daya manusia sebuah negara, dapat diukur dari kualitas pendidikan. Peran itu hanya mampu dilakukan oleh guru, untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sehingga, output pendidikan akan berkualitas jika, gurunya juga berkualitas.
Menurut Sudirman pendidikan akan selalu bersingunggan dengan kehidupan sosial, selama masyarakat menjadikan pendidikan sebagai perubahan dalam setiap insan manusia (Sudirman, 2019). Merujuk teori yang dikemukakan oleh Sudirman diatas, maka dapat kita simpulkan, pendidikan yang mampu merubah kondisi sebuah masyarakat akan tergantung kepada, bagaimana masyarakat tersebut dipahamkan dengan pengetahuan. Pengetahuan itu dapat diketahui dengan cara ditransfer dari guru itu sendiri.
Kompetensi guru harus senantiasa dikembangkan. Kemendikdasmen yang saat ini dipimpin oleh Abdul Mu’ti mengatakan bahwa konsep pendidikan pemerintahan saat ini mengusung semangat pendidikan bermutu untuk semua. Dengan demikian menurutnya, peranan guru menjadi sangat penting dalam mendidik generasi muda dan tidak tergantikan oleh teknologi. Upaya pemerintah menghadirkan guru sebagai aspek yang memiliki peran penting dalam pendidikan, memberikan ruang besar kepada guru untuk selalu mengupgred diri.
Meningkatkan komptensi guru, tentunya bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak factor yang kemudian menjadikan proses ini bisa terhambat. Misalnya faktor kemampuan secara intelektual dan infrastuktur yang tidak memadai dalam menunjang pelaksanaan pembelajaran. Kemampuan sacara intelektual salah satu kompetensi yang menunjang peningkatan kompetensi yaitu memungkinkan guru untuk memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang mata pelajaran yang mereka ajarkan.
Dalam hal ini, pendekatan yang penulis anggap cocok untuk meningkatkan kompetensi guru ialah menggunakan pendekatan kesadaran kritis. Kesadaran kritis tidak hanya sekadar kemampuan untuk mempertanyakan atau mengkritisi hal-hal yang terjadi di sekitar kita, tetapi juga merupakan suatu sikap mental yang mendorong individu untuk selalu berpikir reflektif dan terbuka terhadap perubahan. Bagi seorang guru, kesadaran kritis berarti kemampuan untuk terus menerus mengevaluasi dan memperbaiki cara-cara mereka mengajar, serta untuk memahami kebutuhan dan dinamika siswa dalam konteks yang lebih luas.
Peran Kesadaran Kritis
Pendidikan saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan, baik yang bersifat internal seperti rendahnya motivasi guru untuk mengembangkan diri dan sebagainya, maupun tantangan eksternal seperti perkembangan teknologi yang pesat. Untuk menghadapi tantangan tersebut, guru perlu memiliki kemampuan untuk berpikir kritis dan kreatif. Kesadaran kritis membantu guru untuk tidak hanya mengajar dengan cara yang konvensional, tetapi juga mengembangkan pendekatan yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.
Menurut penulis, meningkatkan peran guru melalui kesadaran kritis bisa dilakukan dengan pendekatan konsep yang dikemukakan oleh Paulo Freire, salah seorang tokoh pendidikan kritis Brazil. Ia membagi tiga tipe pendidikan yaitu pendidikan magis, pendidikan naif, dan pendidikan kritis.
Guru pada konsep ini, haruslah berada pada kesadaran pendidikan kritis. karena kesadaran pendidikan kritis ialah pendidikan untuk membangkitkan kesadaran guru untuk peduli dan kritis terhadap segala persoalan yang terjadi dalam lingkungan pendidikan, sebut saja persoalan mengenai penyebab munculnya suatu persoalan kemampuan guru secara intelektual.
Kesadaran pendidikan kritis terhadap segala persoalan pendidikan juga dapat menyentuh ranah sosial, agar siswa dan guru memiliki kesadaran bahwa pendidikan pada akhirnya akan bersentuhan dengan dunia sosial. Olehnya itu, dengan cara membangun nalar berfikir yang mampu memecahkan persoalan-persoalan yang ada dalam kelas melalui guru, kemudian dibenturkan dengan realitas sosial yang mereka alami.
Hal demikian, sudah dijelaskan oleh Abdul Mu’ti bahwa ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Sehingga menurut penulis, kompetensi sosial yang dikemukakan oleh Abdul Mu’ti adalah poin penting dari konsep pendidikan yang dicanangkan hari ini. Karena pada akhirnya pendidikan akan diarahkan kepada, kemampuannya hadir sebagai pencerah di tengah masyarakat.
Membangun Kesadaran Kritis Guru
Pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan manusia yang cerdas serta berkualitas. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, diperlukan upaya-upaya nyata yang harus dicapai. Sekolah memiliki peranan yang besar dalam membangun generasi yang baik dan kritis. Dalam dunia pendidikan, diperlukan adanya kesadaran kritis yang dibangun khususnya dalam mendidik siswa.
Salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran kritis guru adalah melalui pelatihan dan pengembangan profesional yang berkelanjutan. Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan pedagogik, tetapi juga pada pengembangan sikap reflektif dan kritis. Melalui workshop, seminar, atau diskusi kelompok, guru diajak untuk mengidentifikasi tantangan yang mereka hadapi dalam pembelajaran, serta mencari solusi yang lebih baik melalui analisis kritis terhadap metode dan pendekatan yang digunakan.
Selain itu, budaya kolaborasi antar guru juga sangat mendukung pembentukan kesadaran kritis. Dengan berbagi pengalaman dan ide, para guru dapat saling memperkaya perspektif dan menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dalam mengatasi masalah pembelajaran. Kolaborasi ini juga memungkinkan guru untuk memperoleh feedback yang konstruktif dari rekan sejawat, yang dapat membuka wawasan mereka tentang bagaimana praktik pengajaran dapat ditingkatkan.
Olehnya itu, membangun kesadaran sangatlah penting untuk kehidupan. Kesadaran adalah fondasi penting dalam setiap aspek kehidupan manusia. Tanpa kesadaran, kita bisa terjebak dalam rutinitas yang monoton atau bahkan gagal dalam membuat keputusan yang bijaksana. Kesadaran memungkinkan kita untuk melihat, memahami, dan menilai dunia di sekitar kita dengan lebih jelas, memberikan ruang bagi pertumbuhan pribadi dan sosial, serta memperbaiki kualitas hubungan antarindividu.








