Kendari, Sultrademo.co — Pemerintah Kota Kendari terus mendorong penguatan ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat melalui Program B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) yang menyasar langsung rumah tangga, khususnya masyarakat kurang mampu.
Program B2SA dilaksanakan dengan memanfaatkan pekarangan dan teras rumah warga sebagai media tanam pangan lokal.
Salah satu bentuk konkret pelaksanaannya adalah pemberian bibit tanaman, terutama cabai, kepada masyarakat agar dapat ditanam dan dikelola secara mandiri.
“Konsep B2SA yang kami jalankan memanfaatkan teras rumah, bukan lahan pertanian luas. Masyarakat bisa langsung menanam, memetik, dan mengonsumsi hasilnya,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Kendari, Abdul Rauf, Selasa, (27/0/2026).
Pada tahap awal pelaksanaan, Pemkot Kendari telah menyalurkan sebanyak 500 bibit cabai kepada rumah tangga sasaran. Program ini difokuskan kepada warga miskin agar mereka dapat memenuhi sebagian kebutuhan pangan sehari-hari sekaligus mengurangi pengeluaran rumah tangga.
“Yang diberikan adalah bibit, bukan tanaman siap panen, supaya masyarakat terlibat langsung dalam perawatannya,” jelasnya.
Program B2SA dinilai efektif karena manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Warga tidak hanya memperoleh akses pangan, tetapi juga didorong untuk memahami pentingnya konsumsi pangan yang beragam dan bergizi, serta tidak bergantung sepenuhnya pada beras.
Selain cabai, Pemkot Kendari berencana mengembangkan komoditas pangan lokal lainnya dalam program B2SA. Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk melestarikan pangan lokal sebagai alternatif sumber karbohidrat, seperti sinonggi dan kabuto.
Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat, pangan lokal akan ditampilkan dalam peringatan Hari Ulang Tahun Kota Kendari. Langkah ini diharapkan dapat mendorong masyarakat lebih mengenal dan mengonsumsi pangan nonberas.
Melalui Program B2SA, Pemkot Kendari menegaskan komitmennya menjaga ketersediaan pangan yang aman, terjangkau, dan bergizi, serta memastikan tidak ada masyarakat yang mengalami kesulitan pangan, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan.








