Kendari, Sultrademo.co — Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Kendari semakin sulit diperoleh dalam beberapa hari terakhir. Akibatnya, pengendara roda dua maupun roda empat harus rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan BBM tersebut.
Pantauan di sejumlah SPBU menunjukkan antrean kendaraan mengular panjang, di antaranya di SPBU Andounohu, SPBU Djamalianingsih Saranani, hingga SPBU di Jalan Ahmad Yani kawasan SMKN 2 Kendari.
Kondisi ini semakin terasa setelah harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax mengalami kenaikan. Banyak masyarakat yang sebelumnya menggunakan Pertamax kini beralih ke Pertalite karena selisih harga yang cukup jauh.
Kesulitan warga semakin bertambah setelah penjual BBM eceran tidak lagi diperbolehkan membeli Pertalite di SPBU untuk dijual kembali. Padahal, sebelumnya masyarakat yang tidak sempat mengantre biasanya membeli BBM dari pengecer meski dengan harga lebih tinggi.
Aniyati, warga Andounohu, mengaku harus berkeliling mencari Pertalite selama lebih dari satu jam sebelum akhirnya mendapatkan BBM tersebut.
“Saya dari Anggoeya ke SPBU Andounohu tidak dapat, penjual ecer juga sudah tidak ada. Akhirnya saya antre lebih dari satu jam hanya untuk dapat 3 liter. Kalau beli Pertamax, 3 liter harganya sudah Rp48 ribu. Selisih Rp18 ribu itu bagi kami ibu-ibu lumayan sekali untuk kebutuhan dapur,” ujarnya, Selasa, (07/07/2026).
Keluhan serupa disampaikan Riana. Ia menilai keberadaan penjual eceran sebelumnya cukup membantu masyarakat yang tidak memiliki waktu untuk mengantre lama di SPBU.
“Susah sekali cari Pertalite sekarang. Kalau harus antre dua jam di bawah terik matahari rasanya malas. Kadang terpaksa beli Pertamax sedikit saja. Sebaiknya penjualan eceran diperbolehkan lagi karena membantu masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Tajuddin, pedagang BBM eceran di sekitar SPBU eks Rabam, mengaku keberatan dengan aturan pelarangan pembelian Pertalite untuk dijual kembali.
“Kami sebenarnya membantu masyarakat. Untung yang kami cari juga tidak seberapa. Mau kami jual atau tidak, Pertalite di SPBU tetap habis juga,” ungkapnya.
Di sisi lain, operator SPBU Saranani, La Dolo, membenarkan terjadi peningkatan jumlah pembeli sejak kenaikan harga Pertamax.
“Kami tetap melayani semua masyarakat sesuai ketentuan dan harga yang berlaku,” katanya.
Hal senada disampaikan Arifin, operator di SPBU eks Rabam. Menurutnya, pasokan Pertalite dari Pertamina masih berjalan normal.
“Setiap hari ada kiriman tiga tangki, masing-masing berisi 4.000 liter. Kalau stok habis kami tutup, kalau masih ada tetap kami layani,” ucapnya.
 






