Pohon Besar, Halte Hingga Timbunan Lumpuhkan Jalan Andoolo-Tinanggea

  • Whatsapp
ketgam : suasana pemblokiran jalan oleh warga sekitar

Andoolo, Sultrademo.co- Amarah masyarakat tiga desa di Kecamatan Tinanggea rupanya tidak hanya sekedar dibibir.

Permintaan perbaikan jalan ruas Andoolo- Tinanggea yang sebelumnya dijanjikan terealisasi Maret 2021 kembali mengundang kekesalan warga setempat, antara lain, Warga Desa Lalowatu, Lalonggasu dan Palotawu.

Bacaan Lainnya

Pasalnya, oleh Ketua Komisi III DPRD Provinsi Sultra, Andi Suwandi, dirinya menjanjikan membenahi jalan pada Maret ini. Namun hingga April tiba, janji yang dituangkan dalam berita acara kesepakatan yang juga ditandatangani para kepala desa setempat beserta lembaga pemuda hanya sekedar janji manis.

Buntutnya, ratusan masyarakat tiga desa tersebut berbondong-bondong melumpuhkan jalan secara total. Tak satupun kendaraan bisa melintas.

Dari pohon berukuran besar yang sengaja ditebang membentang ke badan jalan, puluhan pohon pisang yang ditanam tepat ditengah ruas jalan, timbunan material, hingga halte berukuran besar juga diangkat dan diletakan di tengah jalan.

Hingga berita ini tayang, terlihat Kepala Bidang Bina Marga Kabupaten Konawe Selatan yang kabarnya sedang menunggu pihak Pemprov hendak berkunjung meninjau sekligus melakukan rapat dengar pendapat.

Wartawan sultrademo.co tidak sempat memintai keterangan, karena Kabid Bina Marga langsung menuju kantor Kecamatan menunggu kedatangan Pemprov.

Dipantau, mobil plat merah yang dikendarai Kabid Bina Marga, Samsul Alam masih terparkir tepat di lokasi blokade jalan pertigaan yang menghubungkan Desa Lalowatu-Lalanggasu, dan Palotawu. Sementara, Samsul sendiri menurut warga mengambil jalan alternatif lain menggunakan kendaraan roda dua menuju Kantor Camat Tinanggea.

Yogi, salah satu tokoh masyarakat yang juga inisiator gerakan blokade ruas jalan Andoolo-Tinanggea menjelaskan, sejak pagi, pihaknya telah mendirikan tenda besi dua lokal tepat ditengah jalan, yang dilokasi itu juga dilakukan pemalangan jalan menggunakan pohon besar, halte, dan timbunan.

Sesuai rencana dan hasil koordinasi, lanjut dia, masyarakat tiga desa bersama Pemkab Konsel menunggu kunjungan pemprov ke lokasi pemalangan jalan untuk hearing sebelum akhirnya beranjak ke Kantor Camat Tinanggea.

“Alih-alih, pemprov memberi kabar bahwa mereka lewat jalur lain langsung ke Kantor Camat, sehingga kami tetap akan disini melakukan blokade jalan sampai akhirnya pihak Pemprov datang disini,”kesalnya.

Ditempat sama, Pipin penanggung jawab gerakan menegaskan, bahwa blokade jalan yang dilakukannya bukanlah upaya menghalangi jalan umum, ataupun merusak jalan.

Akan tetapi, tambah dia, jalan ruas Andoolo-Tinanggea adalah jalur jalan rusak yang hampir tiap hari menelan korban lakalantas. Ditambah, pihaknya telah dijanjikan oleh DPRD Sultra beberapa pekan lalu di Balai Desa Lalowatu, bahwa jalan dimaksud mulai dibenahi awal Maret.

“Jadi ini bentuk kekecewaan kami, dan upaya kami melindungi masyarakat, daripada tambah banyak korban, kami juga hanya makan debu, lebih baik lumpuh total jalan,”tegasnya. Selasa 06/4.

Dipertegas Ketua Umum GMKM Konsel, Kiki Ikram, bahwa bagaimanapun bentuk negosiasinya di Kecamatan, pihaknya hanya akan membuka blokade jalan ketika alat berat sudah tiba dan mulai bekerja.

“Kami konsisten, apapun kesepakatan hari ini disana, kami tidak akan berhenti aksi dan meblokade jalan kalau alat berat belum turun bekerja,”tutupnya.

Pos terkait