Oleh : Makmur Ibnu Hadjar
Alumni UGM & Curtin
Komisi Pendidikan MUI Sultra
Mata hati dapat dilatih dan dipertajam – agar bisa sensitive menangkap resonansi realitas batiniah dan realitas atau fenomena sosial yang bersifat metafora, yaitu realitas yang mendapat ruang pancaran Ilahi Rabbi. Salah satu jalan mempertajam mata hati yaitu dengan berpuasa (shiayam) – suatu aktifitas spiritual, untuk mengendalikan syahwat dan NAFS kepada kecendrungan propan (materialistis), dalam batas takaran waktu dan batas takaran kuantitas – seperti yang diterangkan dalam ilmu Fiqih.
Hati adalah wadah yang dapat menampung cahaya ALLAH, dan tidak satu pun ruang dan wadah di jagat raya ini yang bisa menampung cahaya ALLAH, hanya hati itu an sich. Dalam sebuah hadist qudsi, ALLAH Subhana Wata’ala berfirman: Aku tidak cukup ditampung oleh langit dan bumi, melainkan dapat tertampng di dalam hati seorang beriman yang tulus”.
Hati adalah sebuah kuil yang ditempatkan Tuhan di dalam diri setiap umat manusia – sebuah rumah suci untuk menampung percikan cahaya ILAHI, di dalam diri manusia. Kuil yang ada di dalam diri setiap manusia itu – lebih suci dari kuil tersuci yang ada dimuka bumi. Itulah sebabnya “jika kita melukai hati sesama manusia maka dosanya lebih besar dari pada menodai tempat suci di dunia ini”, demikian tulis Syekh Ragip al-Jerrahi.
Dalam konteks ini, pada tataran interaksi sosial – disemua strata lingkungan, maka harus selalu hadir kesadaran trasedental, bahwa setiap manusia yang kita temui, atau yang kita berinteraksi dengannya – sesungguhnya adalah individu yang di hatinya ada kuil Tuhan. Maka konsekwensinya adalah kita tidak boleh menodai kuil Tuhan yang ada di balik dada setiap manusia.
Itulah alasannya kenapa memutuskan hubungan persaudaraan dengan sesama manusia, terlebih-lebih sesama saudara muslim, adalah perbuatan yang dibenci oleh ALLAH. Untuk itu, hati harus terus kita pelihara, dan terus kita mintai perlindungan dari ALLAH SWT, karena kondisi hati yang senantiasa bergejolak, sangat rawan untuk terperosok, pada kedengkian, kepada dendam, kepada kemurtadhan – juga dapat mendorong pisik melakukan perbuatan kezholiman, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.
Kepercayaan dalam pemahaman “Iman” yang ada di dalam hati senantiasa berubah-ubah, pagi hari beriman, petang hari ingkar, atau sebaliknya petang hari beriman, pagi hari kufur. Perubahan hati sangat cepat dan kadang-kadang tidak mampu dikendalikan dengan baik.
Boleh jadi, hati dihiasi oleh sifat-sifat yang luhur, namun dalam masa yang sama, ia boleh dililit dengan sifat-sifat yang tercela. Hati dapat merasakan ketenangan ketika bersama ALLAH namun, ia juga boleh merasa resah ketika menghadap ALLAH kerana ia merasa banyak dosa saat menghadapNya. Hati dalam bahasa Arab disebut dengan ‘QALB’ yang artinya bolak-balik karena memang sifatnya yang cepat berbolak-balik (berubah). Hati bagaikan bulu ayam yang tergantung di atas dahan pohon yang dibolak-balikkan oleh angin sehingga bahagian atas terbalik ke bawah dan bahagian bawah terbalik ke atas. Demikianlah yang di sabdakan oleh Rasulullah SAW : “Hati dinamakan ‘qalb’ kerana sifatnya yang cepat berubah.
Hati itu bagaikan bulu (ayam) yang tergantung di atas sebuah pokok, yang dibolak-balikkan oleh angin sehingga bahagian atas terbalik ke bawah dan bahagian bawah terbalik ke atas.” (HR Ahmad) Bahkan dalam hadits yang lain, bergejolaknya perubahan hati digambarkan sangat cepat melebihi perubahan air yang sedang mendidih. Rasulullah SAW dalam sebuah bersabdanya : “Sesungguhnya hati anak cucu Adam lebih cepat perubahannya dari periuk yang berisi air mendidih.” (HR Ahmad).
Meskipun eksistensi hati senantiasa berubah-ubah, bagi seorang mukmin, hendaknya setiap kita harus sekuat tenaga berusaha menjaga dan merawat kebersihan hati dari penyakit yang hendak merusaknya. Bulan ramadhan dihadirkan oleh Allah SWT untuk umat muslimin sebagai media untuk melatih pengendalian hati, agar ihlas menahan (shiyam) semua kecendrungan sahwat, semua kecendrungan NAFS al-ammarah (NAFS yang memerintah kepada keburukan), dan kecendrungan materialistik yang berlebihan. Wallahuallam bissawab*.
 






