Oleh: Hamiruddin Udu
Kendaei, Sultrademo.co – Universitas Halu Oleo (UHO) saat ini berada di titik pentingdalam perjalanannya jelang pemilihan Rektor UHO Tahap II untuk periode 2026-2031. Sebagai salah satu perguruan tingginegeri di kawasan Indonesia Timur, UHO memiliki potensibesar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Pertanyaannyabukan lagi mampukah UHO menjadi universitas kelas dunia, tetapi bagaimana UHO melompat ke kelas dunia dengan carayang autentik dan berdampak.
Indonesia saat ini membutuhkan lompatan kuantum (quantum leap) dalam pendidikan tinggi. Posisi universitas-universitas Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan tetangga kita di kawasan regional—National University of Singapore (peringkat 10 dunia), Nanyang Technological University (peringkat 12), dan Universiti Malaya (peringkat 56). UHO tidak bisa lagi mengandalkan pola pengembangankonvensional. Dibutuhkan keberanian untuk mendefinisikanulang identitas, fokus, dan lintasan pertumbuhan institusi.
Mari kita lihat dengan jujur. Evaluasi terhadap RencanaStrategis UHO 2020–2024 memberikan gambaran yang gamblang—fondasi kita kokoh, tetapi masih banyak ruangperbaikan. Capaian positif patut diapresiasi misalnya, jumlahdosen berkualifikasi doktor meningkat, kerja samainternasional, termasuk dengan Universiti KebangsaanMalaysia, mulai terbangun. FISIPOL UHO bahkan telahmemulai langkah konkret menuju akreditasi internasional. Ini adalah modal berharga yang harus kita syukuri dan lanjutkan.
Namun, tantangan serius masih menghadang. Pertama, kualitas lulusan kita masih menghadapi kesenjangan dengankebutuhan pasar kerja. Kurikulum belum sepenuhnya adaptif. Kedua, keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran di luarprogram studi masih rendah—padahal pengalaman di luarkelas, seperti magang dan riset, sangat penting. Ketiga, pemanfaatan data kinerja belum optimal. Sistem pelaporandan validasi data belum terintegrasi, sehingga pengambilankeputusan berbasis data masih terhambat. Keempat, budayakinerja dan integritas di seluruh unit kerja masih perlupenguatan yang signifikan.
Akar dari tantangan ini, menurut penulis, mengacu pada apayang disebut Hambrick & Mason (1984) sebagai Upper Echelon Theory, yakni mutu pimpinan puncak menentukanarah strategis serta kinerja institusi. Di UHO, sebagaimana di banyak PTN lain, pemimpin umumnya berasal dari jalurakademik yang menghadapi kurva belajar yang masih perluperbaikan dalam mengelola institusi yang kompleks. Empathambatan struktural yang teridentifikasi seperti: belum adanyastandar kompetensi kepemimpinan, pergantian pimpinansetiap lima tahun yang menyebabkan diskontinuitas, minimnya program pembinaan kepemimpinan, dan lemahnyajejaring antarpimpinan perguruan tinggi.
Di tengah tantangan itu, penulis melihat UHO memilikipotensi unggulan yang dapat menjadi game changer. Keunggulan ini tidak dimiliki banyak perguruan tinggi lain dan dapat menjadi identitas pembeda UHO di panggungglobal. Pertama, kepakaran di bidang kelautan dan perdesaan. Ini bukan pilihan arbitrer, tetapi respons strategisterhadap realitas Sulawesi Tenggara. Wilayah ini memilikigaris pantai panjang, ekosistem laut kaya, serta masyarakatagraris yang membutuhkan intervensi teknologi dan kebijakan. UHO memiliki posisi alami untuk menjadi pusatriset dan inovasi bagi permasalahan pesisir, kelautan, dan perdesaan—relevan tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara berkembang lainnya di Asia-Pasifik dan Afrika.
Penulis terinspirasi oleh pernyataan Zaini Ujang, tokoh yang berperan meloloskan banyak kampus Malaysia ke jajaranuniversitas kelas dunia. Beliau mengatakanbahwa “universitas harus sangat jelas tentang target dan deliverables yang ingin dicapai secara terfokus dan terukur. Bagi Malaysia, ranking pada dasarnya adalah marketing exercise. Jika sistem kita memenuhi standar global, dunia akan mengenal dan mempercayai kualitas kita.” Dengan fokusyang jelas pada kelautan dan perdesaan, UHO dapatmembangun reputasi yang kuat dan terukur.
Kedua, kearifan lokal Nusantara. Nilai-nilai seperti sipakatau, sipakalebbi, sipakainge dari budaya Bugis-Makassar, ataupomae-maeka, popia-piara, pomaa-masiaka, poangka-angkataka dalam budaya buton, atau Dapoangka-angkatau, Dapopia-piara, Dapomasi-masigho, Dapoadha-adhati, dan Koemo Badha Sumanomo Liwul dalam budaya Muna, atauKalosara, dan Medulu mbenao, Medulu mbonaa, Medulumboehe dalam masyarakat Tolaki, atau gotong royong dalambudaya nasional, bukanlah nostalgia. Dalam kepemimpinanmodern, nilai-nilai tersebut dapat menjadi fondasi etis yang kuat dan strategi pembeda. UHO, yang berada di tengahmasyarakat dengan tradisi lokal kuat, memiliki posisi unikuntuk mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam tata keloladan pengembangan ilmu pengetahuan.
Ketiga, letak geografis strategis di kawasan Timur Indonesia. Sulawesi Tenggara adalah pintu gerbang menujuPasifik dan Australia. UHO dapat memposisikan dirisebagai hub pendidikan dan riset bagi kawasan ini, menjalinkemitraan dengan universitas di Australia, Pasifik, dan Asia Tenggara. Isu-isu seperti perubahan iklim, konservasi laut, dan pengembangan wilayah kepulauan—semakin relevan di panggung global—dapat menjadi fokus utama.
Berdasarkan analisis di atas, penulis mengusulkan lima pilar transformasi yang saling terintegrasi. Ini bukan sekadar daftar keinginan, tetapi strategi yang harus diimplementasikan secaraserius dan terukur.
Pilar 1: Tata Kelola Berbasis Kinerja dan Akuntabilitas. Tanpatata kelola yang baik, semua strategi akan sia-sia. UHO perlumereformasi tata kelola berbasis kinerja dan manajemenrisiko, memperkuat sistem penjaminan mutu internal, dan mengintegrasikan sistem informasi manajemen. Tata kelolayang baik bukan tentang prosedur, tetapi menciptakan culture of excellence di seluruh lini.
Pilar 2: Pengembangan SDM Unggul dan TalentaGlobal. SDM adalah faktor penentu utama. UHO perlumeningkatkan kualitas dan kuantitas dosen doktor dan guru besar, mengembangkan kurikulum adaptif berbasis OBE, Case Method, dan Project-Based Learning, sertamembangun leadership pipeline yang berkelanjutan. Program AKPT dan sejenisnya harus diikuti oleh seluruh jajaranpimpinan, tetapi pembinaan kepemimpinan tidak bolehberhenti di level puncak.
Pilar 3: Diversifikasi Pendapatan dan KemandirianFinansial. Ketergantungan pada APBN adalah kelemahanstruktural. UHO harus mengoptimalkan status BLU, mengembangkan unit usaha dan hilirisasi produk riset, membangun endowment fund, dan memperkuat jejaringalumni. Kemandirian finansial memberi fleksibilitas untukberinvestasi dalam program prioritas.
Pilar 4: Riset, Inovasi, dan Hilirisasi Berdampak. Riset tidakboleh hanya berorientasi pada kuantitas publikasi. Riset harusberdampak dan menyelesaikan masalah nyata. UHO perlumengembangkan peta jalan riset unggulan berbasis kelautandan perdesaan, meningkatkan publikasi dan paten, sertamemastikan hasil riset dimanfaatkan dalam kebijakan publikdan pengembangan ekonomi lokal. Pengabdian masyarakatjuga harus berbasis riset dan kebutuhan riil.
Pilar 5: Internasionalisasi dan JejaringGlobal. Internasionalisasi adalah alat untuk mencapaikeunggulan, bukan tujuan akhir. UHO harus memperluasjejaring global, terutama dengan universitas terkemuka di ASEAN, mendorong akreditasi internasional, dan meningkatkan mobilitas mahasiswa dan dosen. Diplomasiakademik yang cerdas, seperti yang diajarkan dalam”Geopolitical Leadership” di AKPT, menjadi kompetensikunci.
Transformasi tanpa implementasi hanyalah mimpi. Penulismengusulkan peta jalan yang selaras dengan struktur program AKPT yang terdiri dari lima tahap:
Tahap 1: periode tahun pertama rektor baru UHO, perludilakukan perumusan visi transformasi dan kepemimpinanstrategis. Seluruh jajaran pimpinan harus memilikipemahaman yang sama tentang urgensi, arah, dan strategi transformasi.
Tahap 2: periode tahun awal tahun kedua perludilakukan penguatan tata kelola dan strategi universitas. Strategi detail untuk setiap pilar disusun dengan indikatorkinerja yang jelas dan terukur.
Tahap 3: periode pertengahan tahun kedua perlu dilakukantransformasi institusi dan inovasi. Strategi mulaidiimplementasikan di tingkat institusi dan fakultas.
Tahap 4: periode akhir tahun kedua perlu dilakukan penguatanjejaring global dan diplomasi akademik. UHO secara aktifmembangun kemitraan strategis internasional.
Tahap 5: periode awal tahun ketiga perlu dilakukan finalisasidan presentasi Capstone Project sebagai bukti nyatatransformasi institusi, dengan rencana keberlanjutan jangkapanjang.
Dengan demikian, penulis meyakini bahwa Quantum Leap UHO menuju World-Class University yang berdampakbukanlah mimpi. Dengan strategi transformasi terintegrasiyang mencakup lima pilar yang telah diuraikan, UHO dapatmelampaui batas-batas yang selama ini membatasi potensinya.
Keunggulan di bidang kelautan dan perdesaan, kearifan lokalNusantara, serta letak geografis yang strategis di kawasanTimur Indonesia adalah modal dasar yang sangat berharga. Dengan kepemimpinan visioner, komitmen institusi yang kuat, dan partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan, UHO tidak hanya dapat meningkatkan peringkatnya, tetapi juga menjadi lokomotif peradaban dan menyumbang pengetahuanbagi dunia, sekaligus memberikan dampak sosial-ekonomiyang nyata bagi masyarakat Sulawesi Tenggara dan Indonesia Timur.
Quantum Leap bukan sekadar slogan. Quantum Leap adalahpilihan strategis untuk melompat, bukan berjalan. Quantum Leap adalah keberanian meninggalkan zona nyaman dan mengejar standar global. Quantum Leap adalah komitmenuntuk memberikan dampak, bukan sekadar meningkatkanperingkat. UHO memiliki potensi untuk melakukan quantum leap tersebut. Yang diperlukan adalah kepemimpinan yang visioner, strategi yang terintegrasi, dan tekad yang bulat untukbertransformasi.
Saatnya UHO mengambil langkah berani untuk menjadibagian dari perubahan itu. Saatnya kita semua, sebagai bagiandari sivitas akademika UHO, bergerak bersama mewujudkanvisi besar ini. Masa depan UHO ada di tangan kita. Mari kitawujudkan bersama.
 






