Muna, Sultrademo.co –Nama Rene Van Den Berg belum begitu populer dikalangan masyarakat Wuna masa kini. Padahal, karya-karyanya sudah sangat memberi manfaat bagi kebanyakan orang bahkan peneliti lain hingga ke mancanegara.
Pakar linguistik berkebangsaan Belanda ini merupakan konsultan senior bersertifikat dari Summer Institute of Linguistics atau SIL International, dia juga merupakan editor serial Data Papers on Papua New Guinea Languages.
Penelitian dan serangkaian publikasinya mencakup bahasa-bahasa Austronesia, bahasa-bahasa di Sulawesi, bahasa-bahasa Austronesia di Papua Nugini, deskripsi dan dokumentasi bahasa, linguistik historis komparatif serta leksikografi.
Adapun salah satu yang menjadi lokasi penelitiannya yaitu di Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), dia mengangkat tentang kearifan lokal budaya utamanya Bahasa Daerah Wuna.
Rene Van Den Berg mengatakan, sejak dahulu sampai saat ini dia datang Daerah ini (Wuna) untuk melakukan penelitian pada bahasa daerah Wuna dengan alasan yang begitu sederhana.
“Dari dulu sampai sekarang saya datang kesini sebagai peneliti bahasa Wuna, saya melakukan pekerjaan lapangan disini. Sejak pertamakali mengunjungi daerah Wuna ini, dan sampai sekarang saya cinta terhadap kearifan lokal budaya Wuna,” ujarnya kepada awak media ketika ditemui di Raha, Kabupaten Muna, Sultra, pada Kamis (20/10/2022) beberapa hari lalu.
Dia pun menuturkan, ketika pertama kali dirinya mulai mempelajari bahasa Wuna, belum satupun lembaga masyarakat maupun pemerintah setempat yang menggarap Bahasa Daerahnya secara ilmiah.
“Pertama kali waktu saya mulai belajar bahasa Wuna belum pernah di garap secara ilmiah, belum ada kamus, jadi saya menggali sedalam-dalamnya melakukan penelitian linguistik tentang bahasa daerah Wuna, sehingga lahirlah kamus Muna–Indonesia yang kami garap bersama akademisi dan tokoh adat di Muna,” tambahnya.
Meski minimnya perhatian dari pemerintah daerah, lanjut Rene, pihaknya tetap optimis untuk terus mempromosikan kearifan lokal budaya Wuna.
“Masih banyak karya yang akan kami buat dan saya masih sementara mengedit kumpulan cerita rakyat Wuna, termasuk mitos, legenda, teka-teki, ungkapan tradisional dan sastra lisan kabhanti, yang nantinya akan diterbitkan dalam bentuk online dalam satu halaman yang fokus untuk bahasa Wuna lalu diterjemahkan dalam tiga bahasa,” bebernya.
Tiga bahasa dimaksud, adalah bahasa Wuna, Indonesia, dan Inggris. Hal itu di lakukan demi menjaga agar khazana lisan bahasa Wuna tidak punah.
“(Bahasa) ini merupakan kekayaan yang berhubungan dengan budaya, sejarah, dan identitas orang (masyarakat) Wuna. Olehnya itu, belajarlah bahasa Wuna dari orang tua yang benar-benar mengetahui bahasa daerah itu sendiri, jangan lupakan bahasa daerahmu (Wuna) yang merupakan warisan dari leluhur jati diri kita,” tutup salah satu pencetus kamus bahasa Muna–Indonesia ini.
Laporan: Mohammad Pitra
 






