Konawe, Sultrademo.co – Perkara terjadi simpang siur pemaknaan atas ucapan KSK yang tidak menghitung Lukman Abunawas pada perhelatan Gubernur Sultra seperti yang dilontarkan ketua DPC PDIP Kota Kendari melahirkan sorotan tajam dari salah satu politisi muda Sulawesi Tenggara.
Sorotan tersebut dikemukakan oleh mantan Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Kabupaten Konawe.
Achmad Mubarak Feni menyoal pemilihan Diksi Ketua DPC PDIP Kota Kendari yang dinilainya kurang baik dan dapat merusak peradaban politik Sulawesi Tenggara.
Menurutnya, mengakui bahwa sejak awal memang ucapan KSK itu selalu menghadirkan perdebatan dibeberapa kalangan, khususnya dari kalangan Elite Politik Sulawesi Tenggara. Namun baginya ucapan itu masih dapat dimaklumi karena termasuk bagian dari disiplin logika ilmu sejarah yang berusaha merekonstruksikan sebuah peristiwa.
“Ya, bagi saya pak KSK itu sekedar menguraikan kondisi peristiwa politik yang dialaminya saat berucap itu bahwa berdasarkan penilaiannya pada kondisi politik terkini saat itu LA tidak masuk dalam kalkuasi politik dia dan menurut saya hal itu sah-sah saja,” ungkapnya.
Mantan Ketua Umum BPL HMI Konawe 2010-2011 ini balik mengingatkan Ketua PDIP Kota Kendari untuk menjaga kearifan komunikasi politik di Sulawesi Tenggara dan sanantiasa berusaha memilih diksi yang baik untuk diucapkannya kepada publik.
“Jujur saya kaget dengan pemilihan diksi yang dipakai Bang Ishak Ismail Itu. Bagi saya kata “Madoraka” tidak baik buat dicontoh generasi kita untuk menghakimi pribadi dalam sebuah perdebatan politik, menjadi seorang Politisi itu memang tidak cukup hanya dengan bekal pengalaman sebagai pengusaha tanpa pemahaman politik dan sejarah peradaban bangsa yang mumpuni walaupun dalam ilmu ekonomi kita ada yang namanya Politik Bisnis,” terangnya.
Lanjutnya, bahwa sejarah pada dasarnya bersifat perdebatan, terutama ketika yang bersifat fakta itu sudah diselesaikan.
Harapan Petinggi Angkatan Muda Partai Golkar Konawe ini, semoga peringatan yang dilayangkan kepada ketua DPC PDIP Kota Kendari menjadi sebuah accepted history bagi publik dari perdebatan politik yang tidak mendidik yang menghiasi peradaban politik Sulawesi Tenggara. Karena menurutnya hal yang harus dipertegas bagi pelaku politik Sultra adalah arah tujuan politik harus bermuara pada kesejahteraan rakyat bukan alibi konyol maupun landasan akademis untuk memuluskan sebuah bisnis orang perorang, serta pemuda ini berharap para akdemis untuk tidak tinggal diam melihat fenomena yang dapat melahirkan degradasi peradaban politik di Bumi Anoa ini.
“Mungkin kondisi hari ini masyarakat kecil seperti dirinya dianggap tidak memiliki kapasitas dalam perdebatan politik dikarenakan strata sosial namun hal yang terpenting bagi politisi jangan sampai diajar oleh anak kecil terkait formulasi sejarah yang memperhitungkan latar belakang seseorang dan menjadi titik penting dalam ilmu historiografi.
Jadi, dengan tegas saya ingatkan buat Bang Ishak Ismail bahwa sejarah itu bukan hanya tentang hal yang diingat oleh generasi selanjutnya, namun juga tentang kearifan yang tentu menjadi pendidikan buat peradaban politik generasi Sulta Selanjutnya, Sekali kali Bang Ishak mampir diwarkop lah untuk melengkapi bekal menjadi politisi yang baik,” imbuhnya.
 






