Kendari, Sultrademo.co — Zohran Mamdani, calon Wali Kota New York, kembali menjadi sorotan publik setelah pernyataannya yang kontroversial pada akhir 2024 mencuat kembali. Dalam wawancaranya dengan jurnalis Mehdi Hasan, Mamdani menegaskan akan menangkap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, jika ia terpilih sebagai wali kota dan Netanyahu berkunjung ke New York.
“Sebagai wali kota, saya akan menangkap Netanyahu jika datang ke New York. Ini adalah kota yang nilainya sejalan dengan hukum internasional,” ujar Mamdani seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu (25/6/2025).
Pernyataan tersebut berkaitan erat dengan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap Netanyahu atas dugaan kejahatan perang dalam agresi Israel di Jalur Gaza yang berlangsung sejak Oktober 2023.
Mamdani, seorang politikus Muslim keturunan India berusia 33 tahun, selama ini dikenal vokal menentang kebijakan agresif Israel terhadap Palestina. Ia secara terbuka menyebut tindakan Israel sebagai genosida dan merupakan pendukung gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) terhadap produk dan entitas yang berafiliasi dengan Israel.
Mengenai slogan “Globalize the Intifada”, Mamdani menjelaskan bahwa seruan tersebut bukan untuk kekerasan, tetapi sebagai bentuk solidaritas global terhadap mereka yang tertindas. Ia menegaskan bahwa slogan-slogan perjuangan dari dunia Muslim kerap disalahartikan dan dimanipulasi sejak peristiwa 11 September 2001.
“Sudah saatnya tindakan kita juga sejalan,” tambah Mamdani, menekankan pentingnya konsistensi antara nilai yang diklaim dan kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah daerah maupun nasional.
Jika terpilih dalam pemilihan 4 November mendatang, Mamdani akan mencatat sejarah sebagai Wali Kota Muslim pertama keturunan India di New York.
Namun, langkah politik Mamdani mendapat tentangan dari tokoh-tokoh konservatif, termasuk Donald Trump. Dalam sebuah pernyataan, Trump menyebut Mamdani sebagai “komunis yang gila,” menandakan ketidaksenangannya terhadap posisi politik progresif yang diambil Mamdani, khususnya dalam isu Palestina-Israel.
Pencalonan Mamdani sekaligus menggambarkan perubahan lanskap politik di New York, di mana suara-suara dari komunitas minoritas dan Muslim mulai mendapat tempat dalam struktur kekuasaan yang lebih luas di Amerika Serikat.
Laporan : Arini Triana Suci R
Sumber : cnnindonesia
 






