Kendari, Sultrademo.co – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Halu Oleo (UHO) mempercepat penyusunan dan penyelarasan Rencana Strategis (Renstra) periode 2025–2029. Langkah ini dilakukan untuk memastikan arah pengembangan fakultas linear dengan visi pembangunan nasional, kebijakan kementerian, serta target jangka panjang universitas menuju tahun 2045.
Upaya penyelarasan tersebut dibahas dalam lokakarya bertajuk ”Penyelarasan Rencana Strategis FISIP” yang digelar di Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (16/12/2025). Forum ini menjadi landasan krusial bagi fakultas dalam merespons dinamika perubahan kebijakan di tingkat pusat.
Plt. Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) Dr. Herman menegaskan, penyusunan Renstra bukanlah sekadar rutinitas administratif tahunan. Dokumen ini harus memiliki benang merah yang kuat dan hierarkis, mulai dari visi Presiden, kementerian, universitas, hingga turun ke level fakultas.
”Standar-standar penyusunan mungkin berubah, tetapi yang terpenting adalah kejelasan sistem dan arah pengembangan. Renstra FISIP harus menekankan pada inovasi dan dampak nyata, baik dari aspek sosial maupun ekonomi bagi masyarakat,” ujar Herman saat membuka kegiatan.
Dalam kesempatan tersebut, Herman mengapresiasi inisiatif FISIP yang dinilai paling responsif memulai pembahasan Renstra dibandingkan fakultas lain di UHO. Ia mencatat, secara tata kelola, FISIP menunjukkan perbaikan signifikan dan kini masuk dalam jajaran lima besar fakultas dengan tata kelola terbaik di universitas Halu Oleo.
”Ini menunjukkan bahwa FISIP mampu berbenah. Dokumen Renstra ini nantinya akan menjadi standar bagi siapa pun yang memimpin, khususnya dalam merumuskan prioritas anggaran dan rencana kegiatan,” tambahnya.
Sementara itu, Dekan FISIP UHO Prof. Eka Suaib menjelaskan, penyesuaian Renstra mutlak dilakukan menyusul adanya perubahan nomenklatur serta visi dan misi baru di tingkat kementerian pendidikan tinggi.
Menurut Eka, FISIP UHO berupaya melahirkan visi yang adaptif. Tidak hanya berorientasi pada keunggulan akademik, tetapi juga membangun daya saing internasional serta berkontribusi pada isu-isu spesifik kewilayahan.
”Kami mengidentifikasi berbagai isu strategis untuk periode 2025–2029. Fokus utamanya adalah kontribusi terhadap pembangunan Indonesia, khususnya dalam konteks masyarakat pedesaan, kelautan, dan wilayah pesisir yang menjadi karakteristik Sulawesi Tenggara,” kata Eka.
Lokakarya ini menghadirkan narasumber Ketua Forum Fakultas Ilmu Sosial PTN se-Indonesia Periode 2019-2021, Prof. Armin Arsyad, serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari dosen, praktisi, alumni, hingga mahasiswa. Pelibatan multipihak ini diharapkan menghasilkan dokumen perencanaan yang komprehensif dan aplikatif untuk lima tahun ke depan.
Editor: Muhammad Sulhijah
Laporan: Nur Mina (Magang)








