Garam di Danau

  • Whatsapp

Pada sebuah padepokan ada seorang anak yang dikenal suka mengeluh. Panas matahari dikeluhkan, hujan datang dia mengeluh, air tak mengalir dia mengeluh.

Pokoknya apa-apa dia keluhkan. Kawan-kawan seperguruannya dibuat bingung. Beberapa di antaranya menjauh, enggan mendekatinya.

Bacaan Lainnya

Kabar soal anak yang suka mengeluh ini, akhirnya sampai ke telinga guru di padepokan itu. Sang guru lalu memanggil anak tersebut. Dimintanya sang murid mengambil sebuah gelas, dan dua genggam garam. Disuruhnya anak itu memasukkan segenggam garam ke dalam gelas. “Minumlah, Nak,” kata sang guru. Lalu sang murid meminum air tersebut.

Bagaimana rasanya? ujar sang guru. “Asin, Pak,” jawab sang murid. Baik, ayo kita ke danau, Nak. Bawa serta sisa garam itu. Tiba di pinggir danau, guru menyuruh anak itu membuang semua garam ke danau. Lalu, dimintanya anak itu untuk mengambil air danau dan diminum. Sesudah air diminum, ditanya rasanya. “Biasa saja, Pak. Airnya tidak asin, tawar seperti air biasa.” kata muridnya.

Guru itu telah menuangkan segelas inspirasi pada muridnya. Bahwa sampah, atau masalah dalam hidup, tergantung besarnya kita menyiapkan wadah untuk menampungnya. Semakin besar wadah kita siapkan, masalah atau sampah kesulitan tadi, semakin tidak berat dihadapi. Sampah akan terdaur ulang secara alamiah pada bejana di kepala, bila ia disiapkan seluas danau.

Tiap orang hidup punya masalah-masalah sendiri. Mengeluh untuk diperhatikan, atau dengan menulis status di sosial media, tidak akan mengurangi masalah yang ada; apalagi menyelesaikan. Malah bisa jadi kesulitan akan bertambah-tambah berat. Orang akan bertanya, ada apa? Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja? Bukan karena peduli. Bukan! Tapi karena mereka penasaran. Mereka kepo.

Bila luka dan kesulitan itu sudah tak sanggup dihadapi, jangan mengeluh, usah bergantung pada mahluk. Bentangkan sajadah, lalu mengeluhlah. Berkeluhlah sepuasnya pada yang di atas. Fokuskan energi pada melihat cahaya jalan keluar yang disiapkan-Nya. Yang sebelumnya tidak terlihat, karena tertutup air mata, tersumbat oleh sempitnya pikiran.

Bukankah DIA telah bersumpah: “Bahwa sesungguhnya bersama kesulitan akan hadir kemudahan.” Kelonggaran membersamai penderitaan.

Good fighter never show their pain. Petarung yang hebat, petarung terbaik, tidak akan pernah menunjukkan lukanya, kesakitannya pada publik.***

Jakarta, 18 November 2020

Erwin Usman

#kacadiri

Pos terkait