IMM Sultra Bakal Usut Tindakan Represif Kepolisian

Kendari, Sultrademo.co – Ketua Umum Dewan Pengurus Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhamadiah (IMM), Marsono membantah telah menjadi pemicu pelemparan batu pada aksi demonstrasi peringatan 2 tahun tragedi “Sedarah” didepan Markas Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Senin lalu (27/9/2021).

Bahkan ia mengaku bahwa, pada saat diamankan karena dianggap sebagai pemicu pelemparan batu, dirinya mendapatkan tindakan represif dari pihak kepolisian yang menyebabkan luka lebam dibeberapa bagian tubuhnya.

Bacaan Lainnya

“Kita mencoba menenangkan masa aksi agar tidak melempar, namun diruas kiri jalan ada pihak yang melakukan lemparan dan kami terus melarang hingga lemparan batu dari masa aksi dibalas dengan tembakan dari kepolisian,” ungkap Marsono saat dimintai keterangan oleh awak Sultrademo.co, Jumat (1/10/2021).

Lanjutnya, pada saat polisi menembakkan ‘Gas Air Mata’ kepada demonstran ia bersembunyi dibawah pohon agar tidak tekena tembakan, namun seorang aparat yang disusul dengan sekerumunan polisi mendatanginya dan memberikan perlakuan kasar.

“Kita mengamankan masa aksi agar bisa ada diskusi dengan pengacara dan penyidik kasus Randi dan Yusuf adalah upaya yang dilakukan agar masa aksi ada titik terang, tapi saya justru mendapat pemukulan dari pihak kepolisian” bebernya.

Menurut Marsono, tindakan represif yang ia terima dari pihak kepolisian memancing kemarahan kader IMM seluruh Indonesia, sehingga pihaknya akan mengusut kejadian yang ia alami dengan menempuh jalur hukum.

“Harus di tangkap pelaku penganiayaan. Tindakan represif sudah terlalu sering terjadi khususnya di Sultra dan ini tidak boleh terus dibiarkan,” tandasnya.

Selain itu, ia telah menjalani visum dan saat ini pihaknya tengah mengumpulkan bukti-bukti kekerasan yang ia alami guna melaporkan penganiayaan tersebut.

“Sudah visum dan hasilnya sudah ada. Saat ini kami lagi kumpulkan bukti-bukti. Tinggal melapor di propam,” pungkasnya.

Sebelumnya, ribuan mahasiswa dari berbagai kampus melakukan aksi demonstrasi di depan Markas Polda Sultra (27/9) guna memperingati wafatnya Randi dan Yusuf Kardawi pada tragedi September Berdarah (Sedarah) yang terjadi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sultra pada 26 September 2019 lalu.

Pos terkait