In Memoriam : Sulastomo Tjitrosugiarto

  • Whatsapp

Innalilahi wa ina ilaihi rojiun.

Pak Sulastomo wafat. Sy berdoa semoga Allah SWT mengampuni segala dosanya dan memperoleh tempat yg sebaik baiknya di sis-Nya. Amin YRA.

Bacaan Lainnya

Untuk mengenang almarhum “yang sudah seperti orangtua sy sendiri”, dg menitikkan airmata, saya turunkan kembali tulisan saya yg dimuat dalam buku 80 tahun Sulastomo “Katur Ibu”, yg pernah diluncurkan di kantor MN KAHMI, 23 Agustus 2018.

===========

Sosok Bersahaja,
Panutan Saya


Dalam suatu kesempatan saya berfoto dengan Mas Tom, panggilan akrab dr. H. Sulastomo, MPH. Foto itu saya unggah di media sosial, Facebook dan Instragram. Saya cek kembali tayangannya, foto itu saya unggah 27 April 2017. Mas Tom mengatakan ketika itu kepada saya, tahun depan usianya sudah memasuki delapan puluh tahun, dan bermaksud menerbitkan buku.

Tanpa disadari waktu cepat berlalu, ketika ponsel saya bunyi. Saya lihat ada nama Mas Tom di layarnya. Segera setelah saya angkat, Mas Tom menyampaikan pesan agar saya ikut bersedia memberi tulisan kesan-kesan untuk menyemarakkan bukunya. Tak lupa, Mas Tom juga meminta saya untuk mengingatkan tulisan serupa dari Bang Akbar Tandjung, mengingat setelah pernah ikut Mas Tom di Gerakan Jalan Lurus (GJL), dalam perkembangannya saya ikut Bang Akbar di lembaga yang dibikinnya akhir 2014, Akbar Tandjung Institute.

Foto kami, Mas Tom dan saya, yang dimaksud di atas, berlokasi di suatu hotel di Bintaro. Kebetulan kami, Mas Tom dan saya sama-sama anggota Lembaga Pengkajian Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (Lemkaji MPR-RI).

Malam itu, kebetulan kami tengah berdiskusi mematangkan narasi argumentasi tentang tema khusus yang diturunkan dari konstitusi. Hingga tulisan ini dibuat, kami masih sama-sama aktif di lembaga tersebut. Alhamdulillah, silaturahim terus berjalan, termasuk “silaturahim pemikiran”.

Ketika papasan dengan Mas Tom, seringkali beliau melontarkan pengantar diskusi, “Bagaimana perkembangan politik kita, dik? Bagaimana dengan Golkar? Bagaimana dengan yang lain?”

Lantas saya coba untuk merespons pertanyaan-pertanyaan itu, tentu sepanjang informasi dan pengetahuan saya, lantas membingkainya dengan perspektif. Begitupun, Mas Tom selalu kritis dengan pertanyaan-pertanyaan baru, asumsi-asumsi baru, pun logika-logika baru, yang secara tak langsung memaksa saya untuk berpikir ulang atas jawaban-jawaban yang telah saya lontarkan sebelumnya.

Mas Tom punya perspektif, kendatipun dalam beberapa hal terkesan normatif-konservatif. Beliau punya pegangan nilai-nilai, punya disiplin logika perbandingan. Zaman Reformasi, dalam banyak hal, tak selalu lebih baik ketimbang zaman sebelumnya, bahkan dalam beberapa hal justru mengalami kemerosotan. Demikian salah satu catatan saya terkait pandangan-pandangan Mas Tom, termasuk ketika mengomentari konstitusi kita pasca-amandemen dan praktik kebangsaan kita dewasa ini. Dalam diskusi memang kita menjumpai ragam paradoks, bahkan kerancuan. Dan, Mas Tom selalu mengingatkan itu.

***
Saya “mengenal” Mas Tom dari Majalah Panji Masyarakat. Kendati tinggal di suatu desa di Klaten, Jawa Tengah, ayah saya yang aktivis Muhammadiyah berlangganan majalah yang dipimpin Buya HAMKA (wafat 1981) itu, mengoleksinya dengan jilidan-jilidan rapi.

Pada sekitar kelas 5 atau 6 SD, karena ikut membaca Panji Masyarakat, banyak tokoh menempel di benak saya. Dari Buya HAMKA (punya kolom tetap Dari Hati ke Hati), Emha Ainun Nadjib, Ahmad Tohari atau Ayib Bakar yang rajin menulis kolom, hingga Rusydi HAMKA, Dawam Rahardjo, Nurcholish Madjid, dan M Amien Rais.

Dalam suatu laporan utama tentang bahaya Komunisme dan mengenang kembali peristiwa G30S/PKI di majalah itu, pengalaman dan pandangan Mas Tom dikutipnya. Dari situ tertera keterangan bahwa Sulastomo ialah Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) pada 1963-1966.

Kelak, ketika saya mahasiswa dan ikut aktif di organisasi HMI, saya semakin tahu kiprah dan sepak terjang Mas Tom dalam masa kritikal ketika HMI menerima cobaan berat berupa tekanan dan ancaman pembubaran dari PKI/CGMI, justru karena saya membaca buku karangannya yang luar biasa dan dicetak berkali-kali itu, Hari-Hari yang Panjang.

Pada awal Era Reformasi, usai menjalankan tugas dalam kepengurusan PB HMI terkhusus sebagai pimpinan Badan Koordinasi Nasional Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Bakornas LAPMI), saya aktif sebagai asisten Viva Yoga Mauladi dalam posisinya sebagai Sekretaris Eksekutif Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).

Kantor KAHMI saat itu berada di Jl. Johar No. 1 Gondangdia Jakarta Pusat. Ketuanya, Anniswati R Kamaluddin atau populer dengan panggilan Mbak Annis. Tugas saya di kantor itu, ikut membentu penyelenggaraan rapat-rapat dan acara-acara yang melibatkan para alumni HMI.

Dalam suatu rapat di kantor Pak Ahmad Ganis (tokoh HMI Cabang Bandung pada zamannya selain misalnya Immaduddin Abdulrahim, Sugeng Sarjadi, Adi sasono dan yang lain), Pak Sulastomo, atau akrabnya dipanggil Mas Tom menyapa saya, meminta agar saya bersedia menulis di Harian Pelita.

Mas Tom tak lain Pemimpin Redaksi suratkabar itu tahu kalau saya sering menulis artikel di Harian Kompas. Pada masa itu, kalau saya menulis di harian yang didirikan oleh Jakob Oetama dan P.K. Ojong itu, identitas yang saya lekatkan selalu “Ketua Umum Bakornas LAPMI PB HMI”. Selain saya, aktivis HMI yang suka menulis artikel di sana, Anas Urbaningrum.

Tentu saya saya sangat antusias dengan “perintah” Mas Tom. “Nanti nulisnya di Pelita Hati,” kata Mas Tom. Saya tersanjung dengan ajakan itu. Pelita Hati rubrik legendaris. Pada masanya ruangan kolom tersebut pernah disinggahi para penulis, kalau bukan ilmuwan-aktivis yang hebat-hebat. Sebut saja misalnya Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Quraish Shihab. Juga Mas Tom sendiri. Pernah juga Swi Edi-Swasono, Abdul Gafur, dan sekarang ini ada Gus Solah (KH Salahuddin Wahid), pun Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Nasaruddin Umar dan ilmuwan politik senior Prof. Amir Santoso.

“Nanti, Dik Alfan, nulisnya seminggu sekali, tiap hari Jumat,” kata Mas Tom. Demikianlah, dengan semangat membara saya menunaikan ajakan, kalau bukan “perintah” itu sepenuh hati. Saya mengisi kolom Pelita Hati setiap Jumat sejak Januari tahun 2000, waktu ketika Alam, anak saya yang pertama lahir.

Hingga tulisan ini diketik, ketika beberapa menit yang lalu saya mendapat informasi Alam lolos ujian dan diterima kuliah di sebuah PTN, saya masih konsisten mengisi Pelita Hati.

Saya masih ingat ketika istri tengah melahirkan Alam di PKU Muhammadiyah Solo. Keuangan saya cekak. Saya terus berdoa, ikhtiar dan menunggu kejaiban. Saya tahu kalau ATM saya isinya Cuma beberapa ribu, sehingga tak cukup untuk diambil. Tapi, ah siapa tahu, ada keajaiban. Berjalan kakilah saya ke ATM Hotel Novotel, tak jauh dari PKU.

Dan, kejaiban terjadi.

Sejumlah uang muncul di sana. Selidik punya selidik, ternyata itu honor beberapa tulisan saya di Harian Pelita. Dengan bungah, terbayang-bayanglah wajah sejuk Mas Tom sebagai semacam “Dewa Penolong”. Tentu bukan besar uang yang mampir di ATM saya itu yang penting, tetapi kemanfaatannya tepat saat dibutuhkan.

Tentang cerita semacam ini tentu Mas Tom belum pernah tahu. Tetapi, bayangkan saja kalau saya tak diberi kesempatan menulis di Harian Pelita. Pasti ceritanya akan lain atau hanya akan termenung lesu saja di rumah sakit.

Karena saya “bisa menulis” dan punya reputasi, Mas Tom juga mengajak saya bergabung mengelola Majalah Amanah. Bersama Mas Gambar Anom, tak lain Sekretaris Jenderal PB HMI semasa Ketua Umum Akbar Tandjung (1972-1974), saya diposisikan sebagai Dewan Redaksi. Para reporter, staf redaksi, atau karyawan di majalah itu, memandang kami sebagai “orangnya Mas Tom”, kendatipun demikian saya tentu tetap menjalankan tugas-tugas yang diembankan secara profesional.

Ketika mendirikan dan mengaktifkan Gerakan Jalan Lurus (GJL), suatu perkumpulan yang bergerak di bidang pemikiran masalah-masalah kebangsaan didirikan, Mas Tom juga mengajak saya. Maka jadilah saya semacam sekretaris eksekutif atau pengelola kantor, yang secara teknis mengurus hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk rapat-rapat dan kegiatan-kegiatan diskusi. Dengan kantor yang strategis, di Jl Proklamasi, hari-hari saya ada di sekretariat GJL.

Saya bersyukur atas kesempatan yang diberikan oleh Mas Tom sebagai koordinator GJL, yang membuat predikat saya sebagai “orangnya Mas Tom” makin kuat. Misalnya ketika saya dibandingkan dengan Mas Tomi (almarhum Tommy A Legowo) yang oleh sementara kalangan yang sering diskusi dengan kami disebut “orangnya Pak Harry Tjan”, kendatipun kami sepakat dengan Mas Tomi bahwa kami tidak mengenal “orang-orangan” kecuali orang-orangan alias memedhi sawah.

Pak Harry Tjan Silalahi, tentu banyak yang mengenal beliau sebagai tokoh CSIS, adalah sahabat dekat Mas Tom. Beliau tokoh PMKRI dan lantas Partai Katolik, ketika Mas Tom Ketua Umum PB HMI di masa kritikal 1960-an.

Ketika HMI ditekan, dipojokkan, bahkan diancam oleh kekuatan Komunis (CGMI/PKI) untuk dibubarkan (mereka mendesak Presiden Sukarno agar membubarkan HMI), PMKRI sebagai kekuatan anti-Komunis dan pro-Pancasila menunjukkan pembelaannya kepada HMI.

Saya mewawancarai Pak Harry Tjan, ketika beliau mengisahkannya, sebagai bahan saya menyusun buku yang diprakarsai Mas Tom dan para senior alumni HMI (terutama Pak Sularso, Pak Jusuf Sjakir, Pak Solichin, Pak Harun Kamil, Bang Nazaruddin Nasution, Pak Mar’ie Muhammad) kemudian diterbitkan Penerbit Kompas. Judulnya, HMI 1963-1966: Menegakkan Pancasila di Tengah Prahara (2013).

Tetapi tentu sebutan apakah “orangnya Mas Tom” atau “orangnya Pak Harry Tjan”, hanyalah simplifikasi. Mereka adalah para senior yang memberi kesempatan pada kami yang junior, untuk ikut berpartisipasi dan berdiskusi secara independen dan merdeka. Intinya adalah, betapa saya bersyukur memperoleh kesempatan berinteraksi dengan para senior di GJL.

Selain Mas Tom dan Pak Harry Tjan, tentu terdapat banyak senior lain, termasuk Mas Sumarno Dipodisastro, Pak Solichin, Pak Sularso, Pak Sunarso, Pak Adham, Pak Dharmansyah, Mas Winarno Zain, Pak Jalil, dan yang lain. Kami juga sering berinteraksi dengan Cak Nur (Nurcholish Madjid), Pak Ahmad Syafii Maarif, Gus Solah, Pak Kiki Syahnakri, Mas J Kristiadi, Bang Azyumardi Azra, Pak Djohan Effendy, Mbak Ita (Rosita Noer) dan segenap kolega, kalau bukan “kelompok epistemik” GJL.

Dari diskusi ke diskusi. Itulah kegiatan GJL. Beberapa buku diterbitkan dari hasil diskusi itu, terutama yang terkait dengan “peta jalan mewujudkan cita-cita kemerdekaan”. Berbagai bidang direkomendasikan dalam buku tersebut. Itu sumbangsih yang berharga dari GJL.

Mas Tom sendiri memiliki pendapat yang cukup berbeda dengan arus pendapat dan praktik sistem politik, dalam hal ini sistem pemilu di Indonesia dewasa ini, dengan mengusulkan penerapan sistem distrik. Mas Tom tentu punya argumentasi sendiri yang kuat, mengapa sistem distrik dipandang merupakan bagian dari solusi masalah bangsa di bidang politik dan demokrasi.

Kendatipun bukan ilmuwan politik, Mas Tom rajin mengulas dan memberikan pandangan-pandangan terhadap peristiwa-peristiwa sosial politik di tanah air dan mancanegara. Minatnya mengulas masalah-masalah bangsa sedemikian tinggi. Tulisan-tulisannya enak dibaca dan inspiratif.

Suatu saat kami pernah saling tanggap-menanggapi di suratkabar, yakni Harian Kompas. Misalnya, pada Kompas, 4 Maret 2006, Mas Tom menulis artikel “Masih Relevankah Pancasila?”. Saya ikut urun rembug atas pertanyaan itu dalam artikel yang dimuat pada 15 Maret 2006, “Tak Kunjung Mimpi Pancasila”. Kendati sudut pandang berbeda, tetapi ia saling melengkapi, bukan semacam polemik yang “menjatuhkan”, tetapi menyemarakkan wacana relevansi Pancasila di tengah dinamika bangsa.

***
Tentu saja saya harus mengatakan secara jujur bahwa Mas Tom adalah panutan saya. Sikapnya yang bersahaja, santun dalam bertutur dan memilih kalimat dalam tulisan, tidak “neko-neko”, humanis, kritis-intelek, hingga memberi kesempatan pada yang muda, itulah yang membuat saya menaruh simpati dan rasa hormat pada beliau. Mas Tom saya anggap sudah seperti orangtua sendiri.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan dan keberkahan kepadanya, dalam memasuki usianya yang sudah delapan puluh tahun ini. ***

  • Whatsapp

Pos terkait