Kendari, Sultrademo.co – Sebagai warga dalam negara demokrasi kita memiliki hak memilih maupun tidak menggunakan hak pilih yang dijamin konstitusi. Untuk membangun demokrasi yang berkualitas, maka setiap individu maupun kelompok dapat megambil peran dalam proses tersebut melalui edukasi masyarakat.
Menurut Ketua Presidium Nasional Jaringan Kerja Akar Rumput Bersama Ganjar (Jangkar Baja), I Ketut Guna Artha yang dipanggil Igat mengatakan bahwa demokrasi harus semakin partisipatif, melibatkan sebanyak mungkin partisipasi masyarakat, masyarakat semakin melek politik sehingga tahu hak dan kewajibannya.
“Politik kedepan itu kalau mau baik harus benar-benar melihat rekam jejak. Harapan kita demokrasi kedepan makin substantif, makin baik, makin berkualitas dengan memilih orang-orang terbaik,” kata Igat.
Ia menyebut, pada Januari 2020 pihaknya telah memulai dengan menyiapkan transformasi organisasi dari Jangkar Jokowi menjadi Jangkar Baja. hal tersebut dilakukan agar tetap mengawal kepemimpinan presiden Jokowi soft landing di 2024 dengan mendorong regenerasi, dan paling rasional adalah sosok Ganjar Pranowo.
“Memang mengorganisir relawan nasional tidak cukup hanya punya modal SDM, pengalaman organisasi namun harus ada dukungan logistik, terlepas dari pilihan idealisme karena memahami tidak mudahnya mengorganisir relawan maka saya bisa katagorikan sikap relawan Jokowi terbagi 3 (tiga) yakni, Ada yang sudah tentukan sikap pilihan figur capres 2024, Ada yang bermain semua potensi capres/cawapres (termasuk ada yg usung 3 periode) Ada yang belum tentukan sikap menunggu pilihan pak Jokowi (termasuk ada yg usung 3 periode),” urainya.
Menurutnya, apapun sikap dari rekan-rekan sesama relawan Jokowi tentu harus dihormati. Pihaknya tegaskan menentukan sikap atas pilihan figur capres 2024, Ganjar Pranowo karena apa yang sudah dicapai hari ini selama kepemimpinan Jokowi harus diteruskan.
“Baik pak Jokowi maupun mas Ganjar tentu berbeda. Tapi mereka memiliki kesamaan dalam visi, berupaya keras mewujudkannya, visi besar Bung Karno mewacanakan pemindahan ibukota negara sedang direalisasikan oleh Presiden Jokowi dalam waktu yang sangat terbatas ditengah kondisi geopolitik global semakin kompleks. Oleh karena itu Indonesia membutuhkan seorang Ganjar Pranowo untuk mampu melanjutkannya. Karena pesan pak Jokowi bahwa pemimpin kedepan harus punya nyali, tidak tunduk diatur bangsa asing,” katanya.
Sementara, IKN Nusantara didesain sebagai masa depan peradaban Indonesia yang merepresentasikan kemajuan dan keberagaman. Karena keberagaman bangsa Indonesia adalah take for granted, anugerah yang harus kita terima dengan yakin sebagai kekuatan. Dan itu telah ditunjukkan oleh seorang Ganjar Pranowo dalam kebijakannya memayungi keberagaman. Menjaga local wisdom, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah.
“Pondasi sistem dan program besar legasi pak Jokowi harus dilanjutkan.
Maka mas Ganjarlah paling rasional sebagai suksesor Jokowi,” tegas Igat.
Dijelaskannya, peran relawan adalah bagaimana mengagregasi kekuatan figur dengan kehendak aspirasi rakyat dan pemanfaatan disrupsi teknologi. Sehingga kehadiran relawan itu seharusnya menguatkan sebagai bentuk demokrasi partisipatif. Dengan bekal literasi yang cukup relawan juga wajib membangun narasi positif dalam menciptakan iklim demokrasi yang sehat dan yang paling penting adalah mengangkat popularitas dan elektabilitasnya Ganjar Pranowo.
“Jadi jika ada misalnya fenomena relawan yang begitu agresif tampil di media mainstream (bukan di akar rumput) menyatakan dirinya sebagai relawan terdepan Ganjar Pranowo lalu kemudian melalui media massa menyampaikan membubarkan diri atau membatalkan dukungannya untuk Ganjar Pranowo tentu menjadi pertanyaan besar apa motivasinya walaupun itu hak pribadinya,” katanya.
“Kami mengajak semua relawan pendukung mas Ganjar Pranowo tetap solid tak terpengaruh manuver relawan abu-abu,” pungkas Igat. (*)

















