Kendari, Sultrademo.co – Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Drs. Asrun Lio, M.Hum, Ph.d. mengumumkan bahwa pembelajaran secara tatap muka (Offline) akan segera direalisasikan dilingkup pendidikan provinsi Sultra, Sabtu (21/8).
Sebelumnya, proses belajar mengajar di musim pandemi dilaksanakan secara online guna memutus mata rantai penyebaran
Covid-19 di kalangan guru dan pelajar.
Hingga saat ini belum ada kebijakan yang sah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia (RI) untuk segera mengadakan pembelajaran secara tatap muka. Namun Kadis Dikbud Sultra, Asrun Lio menilai, kebijakan pembelajaran secara daring tersebut sangat kurang efektif bagi siswa.
Ia mengumumkan kabar gembira untuk proses pendidikan khusus di provinsi Sultra. Ia mengatakan, proses pembelajaran tatap muka segera dilakuakan dengan tiga syarat.
“Pembelajaran tatap muka inshyaa Allah akan segera kita lakukan dengan syarat mematuhi protokol kesehatan yang ketat, ada izin dari pemerintah Kabupaten/Kota dan ada izin dari orang tua/wali siswa,” ungkap Asrun lio saat menjadi pemateri Webinar Dialog Kemerdekaan 76 Tahun, Sabtu (21/8).
Perwakilan Polda Sultra, Kombes Pol Tumpal Dawayanus, S.H.,M.H menyampaikan bahwa, Polda Sultra turut mendukung proses pembelajaran tatap muka tersebut dan akan membantu jika dilaksanakan dengan memenuhi tiga syarat tersebut.
Sedangkan Korwil Sultra BEM
DEMA se-Sulawesi, Akhyar mengungkapkan, pihaknya juga menginginkan proses pembelajaran secara Luar Jaringan (Luring) segera direalisasikan pada semester selanjutnya. Sebab menurutnya, pada proses belajar secara online ini cukup memberatkan mahasiswa. Pembayaran SPT dan UKT tetap normal sedangkan Kemendikbud dan pihak Kampus belum mengeluarkan kebijakan untuk menurunkan biaya tersebut.
“Bantuan kuota internet sendiri, saya lihat mandek dan bantuan bantuan lain-nya pada mahasiswa/siswa ini juga tidak segera dicairkan,” ungkap Akhyar dalam rilis yang diterima Sultrademo.co, Selasa malam (24/8).
Menurutnya, proses sekolah secara online ini ada dampak negatif dan positifnya. Jika pembelajaran online ini dilakukan secara terus menerus dapat membuat pendidikan di Idonesia makin merosot.
“Dikhawatirkan rasa nasionalisme dan kualitas pendidikan kita akan semakin sulit melahirkan generasi-generasi unggul di daerah,” pungkasnya.
Seharusnya, pada generasi muda perlu dilakukan pembinaan dan pemantapan mulai dari leadership, kompetensi bakat dan minat masing-masing serta kemandirian dan akhlakul karimah.
Akhyar berharap, proses pembelajaran tatap muka tersebut dapat segera diimplementasikan secara menyeluruh dan yang tidak kalah penting adalah terjaminnya kualitas dan intensif guru, terutama guru honorer yang selalu dikesampingkan.
“Olehnya itu, saya harapkan Kemendikbud dan terkhusus Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Sultra untuk segera bisa menyusun dan mengimplementasikan sistem pendidikan di daerah-daerah yang bermutu dengan merdeka belajar yang telah dicanangkan tersebut,” tukasnya.

















