Beranda Berita Terkini Kisah Sufi Syaqiq al-Balkhi dan Sayap Patah

Kisah Sufi Syaqiq al-Balkhi dan Sayap Patah

74

Ada sebuah kisah nyata tentang dua orang sufi bernama Syaqiq al-Balkhi dan guru/mursyidnya Ibrahim bin Adham. Kepada gurunya, sang murid meminta izin kepada sang mursyid untuk berdagang beberapa pekan. Namun, baru beberapa hari, Syaqiq sudah nampak lagi dalam majelis gurunya.

Syaqiq menjawab pertanyaan gurunya: “Dalam perjalanan dagang, saya melewati sebuah oase. Di sana ada seekor burung kecil yang patah sayapnya, sehingga tidak bisa terbang mencari makan. Dalam keadaan itu, tiba-tiba mendarat burung besar dan menyuapinya.”

Sang mursyid mengatakan: “Begitulah sesama manusia mestinya saling mengasihi. Lalu apa yang membuatmu pulang?”

Sang murid menjawab: “Allah maha kuasa untuk memberikan rizki kepada hambanya, sebagaimana burung kecil yang patah sayap itu mendapatkan rizki. Maka saya ingin fokus beribadah kepada Allah dan berpasrah total kepada Allah”.

Paradigma yang disampaikan oleh sufi besar Ibrahim bin Adham ini pada kenyataannya justru tidak dimiliki oleh masyarakat kalangan pesantren. Belum banyak santri yang mendapatkan bekal keterampilan yang memadai untuk menghadapi kehidupan dunia ini.

Ilustrasi kaum sufi
Ilustrasi kaum sufi. Foto: Unsplash

Kisah sufi Syaqiq al-Balkhi dan pemahaman yang keliru

Mirip kisah sufi Syaqiq al-Balkhi, rerata mereka keliru dalam pemahaman duniawi. Mereka menganggap bahwa kehidupan di dunia itu tidak begitu penting. Mereka keliru memahami doktrin bahwa hidup di dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan kehidupan sejati adalah akhirat.

Akibatnya, umat Islam kalah dalam dinamika kehidupan dunia, baik secara ekonomi maupun sains dan teknologi. Padahal kekalahan dalam dua hal itu merupakan awal kekalahan dalam politik.

Nabi kita adalah nabi yang profesional, kaya, dan menikah dengan perempuan kaya raya pemilik 2/3 kekayaan Makkah. Namun sering disalahpahami sebagai manusia miskin, hanya karena meninggal dalam keadaan baju perangnya tergadai.

Baca Juga :  Kasatpol PP Konut Tegaskan Internalnya Jika Terlibat Politik Praktis Bakal Dicopot

Nabi Muhammad dan istrinya menghabiskan harta kekayaannya untuk berdakwah. Tidak hanya secara kultural, tetapi juga struktural dengan menjadi presiden di Madinah. Kedua jalan dakwah itulah yang membuat Nabi Muhammad saw. menuai sukses besar. Mestinya kita para santri ini malu kalau sampai tidak meneladani nabi kita yang hebat luar biasa itu.

Untuk merealisasikan cita itu, Planet NUFO memfasilitasi seluruh santri dengan domba dan kambing untuk dipelihara. Yang berasal dari keluarga berkecukupan, dibiayai oleh orang tua masing-masing. Sedangkan yang berasal dari keluarga pra sejahtera difasilitasi oleh koperasi Planet NUFO dengan mekanisme bagi hasil.

Sekolah Alam Planet Nufo. Foto: Planet Nufo
Sekolah Alam Planet Nufo. Foto: Planet Nufo

Dengan cara ini, berdasarkan kalkulasi rasional, setiap murid yang lulus SMP NUFO atau menjalani usaha ini selama tiga tahun, akan sudah bisa memiliki belasan ekor domba/kambing. Dengan cara ini, diharapkan semua santri akan bisa menempuh pendidikan sampai strata tertinggi dan tidak ada yang menjadi pengangguran.

Kebiasaan berwirausaha sejak dini ini akan membuat mereka menjadi muslim intelektual profesional dengan daya kontribusi yang signifikan bagi pembangunan umat dan bangsa Indonesia. Kualitas muslim dibangun dengan program menghafalkan Alquran yang diselenggarakan dengan metode yang terus diperbaiki sehingga tingkat keberhasilannya makin baik.*

Dr. Mohammad Nasih
Pendiri Planet NUFO, dosen pascasarjana ilmu politik UI dan FISIP UMJ

Komentar