Disetiap momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia, ada saja hal yang menjadi sorotan Publik, salah satunya baju adat yang dikenakan Presiden saat memimpin khidmatnya acara penaikan sang saka Merah Putih di Istana Merdeka Jakarta.
Dibalik megahnya baju kebesaran Kesultanan Buton yang dikenakan Presiden Joko Widodo ternyata didesain oleh Husain Sampaga Taylor yang lahir di Sowa Togo Binongko, 1 Juli 1970 buah pasangan dari Bapak Umar dan Ibu Sawiah yang berprofesi sebagai tukang besi.
Husain merupakan penjahit dari Kepulauan Tukang Besi tepatnya Pulau Binongko, Wakatobi yang sudah puluhan tahun menekuni profesinyanya di Kota BauBau Sulawesi Tenggara.
Husain memilih merantau ke Kota Bau bau tahun 1996 untuk belajar menjahit, dan memulai profesinya sejak tahun 2000an sebagai penjahit profesional dengan nama Sampaga Taylor.
Haru dan bangga menyelimuti hati bapak Husain sekeluarga, ketika melihat buah tangannya dipakai lansung oleh Orang nomor 1 di Negara ini, apalagi di momentum HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 77.
Baju adat Dolomani buatannya hanya di kerjakan selama 2 hari, dari tanggal 12 s/d 14 Agustus karena harus dikirim ke Jakarta.

Dengan segenap kemampuan penuh dan semangat profesional, baju adat Dolomani diselesaikan tepat waktu.
“Saya bangga dan senang akhirnya lelah saya selama 2 hari full untuk mengerjakan baju Dolomani ini terbayarkan dengan menyaksikan bapak Presiden memakainya di Acar HUT RI ke 77 ini,”ungkapnya.
Penjahit Asli Togo Binongko ini, sudah menggeluti profesi menjahit sejak tahun 2000 di Kota Bau bau dan sudah banyak pejabat di Sulawesi Tenggara yang memakai hasil tangan dingginnya termaksud Bapak Gubernur Sultra H. Alimazi SH, dan puncaknya adalah Pakaian Adat Dolomani Bapak Presiden RI.
“Karya ini saya persembahkan untuk seluruh masyarakat Indonesia, khususnya Sulawesi Tenggara, Kota bau bau, Wakatobi, Pulau Binongko dan Warga Buton Seluruh Indonesia, saya berharap kedepannya banyak lagi generasi yang bisa mengharumkan nama Daerah kita, tutupnya.
 






