Kendari, Sultrademo.co – Dinamika kehidupan mahasiswa yang kerap terjebak dalam dilema antara tuntutan akademik, tanggung jawab organisasi, dan kewajiban ibadah menjadi sorotan Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO). Ketidakmampuan menentukan skala prioritas dinilai sering membuat kader mahasiswa lalai dalam salah satu aspek tersebut.
Hal ini mengemuka dalam Tabligh Akbar bertajuk ”Fiqh Aulawiyat (Fikih Prioritas): Skala Prioritas Kader dalam Menyeimbangkan Ibadah, Akademik, dan Organisasi” yang digelar HMI MPO Cabang Kendari di Aula Bachtiar, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Sabtu (13/12/2025).
Ketua Umum HMI MPO Cabang Kendari Agusta Ngkurere mengakui bahwa kader HMI saat ini dihadapkan pada aktivitas yang padat. Tidak jarang, ketidakseimbangan pengelolaan waktu menimbulkan kebingungan hingga pengabaian kewajiban.
”Kadang kita lalai dalam beribadah, atau justru akademik dan organisasi tidak terkelola dengan baik. Banyak yang belum mampu mengorganisasi ketiga hal tersebut secara proporsional, sehingga hanya menghindar tanpa solusi,” ujar Agusta.
Oleh karena itu, Agusta menekankan pentingnya pemahaman Fikih Aulawiyat agar setiap kader mampu menyikapi pilihan-pilihan aktivitas dengan bijak dan kaffah.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah Kendari, Riyan Saputra, yang hadir sebagai narasumber utama menjelaskan bahwa Fikih Aulawiyat adalah pemahaman mendalam mengenai perkara-perkara yang harus didahulukan. Konsep ini menjadi krusial ketika beberapa kewajiban atau amal saling berbenturan dalam satu waktu.
”Ketika beberapa amal atau kewajiban saling bertabrakan, maka yang paling utama harus diprioritaskan,” kata Riyan.
Ia mencontohkan aktivitas penggalangan dana yang kerap dilakukan mahasiswa. Menurut Riyan, meski kepedulian sosial adalah hal positif, kegiatan tersebut tidak boleh menggeser kewajiban ibadah mahdah.
”Ketika waktu shalat telah tiba, maka shalat wajib harus didahulukan. Aktivitas sosial dapat dilanjutkan setelah kewajiban utama ditunaikan,” tuturnya menegaskan.
Riyan juga mengingatkan agar organisasi tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi harus memiliki ”ruh” yang menjaga amanah perjuangan. Ia mengutip kisah ulama terdahulu, Juraij, sebagai pelajaran tentang pentingnya ilmu dalam menimbang prioritas antara ibadah sunnah dan kewajiban berbakti kepada orangtua.
Sementara itu, Ketua Bidang Pengembangan Keislaman HMI MPO Cabang Kendari Abdurrahman berharap kegiatan ini menjadi pedoman bagi kader untuk menata waktu secara lebih seimbang dan bertanggung jawab.
Editor: Muhammad Sulhijah
Laporan: Aji Said (Magang)








