Memberi Kail Pancing Perubahan Sosial

Memberi Kail Pancing Perubahan Sosial
Varhan Abdul Aziz / Foto: Dok. Pribadi

Oleh : Varhan Abdul Aziz*

“Gagal – Bangkit, Gagal – Bangkit Sampai Kegagalan Takut Padamu.”
– Tri Rismaharini –

Bacaan Lainnya
 

Sepenggal kata motivasi tersebut terpampang di Millenial Koffie. Sebuah usaha kafe di Mojokerto binaan mensos Risma yang dikreasikan oleh mantan anak-anak jalanan. Hidup mereka kini berubah karena telah memiliki pekerjaan yang membuat mereka berdiri tegak mandiri berdikari.

Hal ini menjadi implementasi Program Menteri Risma ketika pertama kali ia menjabat sebagai Mensos. Yaitu pemberdayaan masyarakat berbasis kerjasama dengan beberapa Kementerian seperti Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perdagangan juga Kementerian Perindustrian. Seperti pepatah mengatakan, beri kail, jangan hanya ikan.

Memang tidak semua orang ditakdirkan menjadi pengusaha, tapi bukan berarti tidak bisa. Menurut data 2017 Usaha Mikro menyerap sekitar 107,2 juta tenaga kerja (89,2%), Usaha Kecil 5,7 juta (4,74%), dan Usaha Menengah 3,73 juta (3,11%); sementara Usaha Besar menyerap sekitar 3,58 juta jiwa. Artinya secara gabungan UMKM menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional, sementara Usaha Besar hanya menyerap sekitar 3% dari total tenaga kerja nasional!

Artinya semakin banyak Kemensos memberikan porsi kepada program Wirausaha Sosial akan membuat semakin banyak kail pancing pembuka umpan lapangan kerja dan menjadi solusi komperhensif pengentasan kemiskinan, pengangguran juga peningkatan ekonomi nasional.

Kementerian Sosial sejak akhir 2020 telah meluncurkan Program Kewirausahaan Sosial (Prokus) yang menyasar Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang sudah graduasi atau keluar dari Program Keluarga Harapan (PKH) agar ekonomi mereka tidak kembali terpuruk. Basis program yang mengembangkan perputaran roda ekonomi ini sangat tepat diberikan kepada kandidat yg memang memiliki kemampuan dalam mengelola dana yang diberikan.

Oleh karena itu mekanismenya tentu melalui survey dan assesment yang terukur. Selanjutnya kandidat terpilih juga telah diprogramkan oleh Kemensos mengikuti Inkubasi Mentoring Bisnis (IMB) dan pendampingan sosial. Kalaupun usaha mereka tidak bisa berkembang besar, paling tidak dapat menopang ekonomi dasar agar memiliki hidup cukup tanpa harus meminta.

Kita pasti ingat Krisis Moneter 1997. Menurut para ekonom, koorporasi terkena dampak besar dari Krisis. Namun Indonesia tetap selamat bertahan, karena ditopang oleh UMKM. Sebagaimana Jepang membangun kembali pondasi Ekonominya pasca Bom Atom Hirosima Nagasaki, dengan memfokuskan pada pengembangan usaha kecil masyarakat dan sektor riil.

Menurut Menteri Koperasi Teten, untuk menjadi suatu negara maju, minimal tingkat kewirausahaan di Indonesia harus 4%. Indonesia baru 3.47%, masih kalah dengan Malaysia dan Thailand yang 5%. Singapura bahkan 9%, hingga AS yang mencapai 12%. Meskipun kategori Wirausaha yang dimaksud bukanlah UMKM, namun UMKM melalui bantuan sosial inilah yg bisa memberi kunci perubahan hidup bagi masyarakat menengah kebawah.

Tidak mungkin seorang yang miskin tiba-tiba menjadi kaya raya dan memiliki usaha besar, bila tidak melalui proses ajaib. Harus ada tangan Tuhan yang membantu, disinilah Kemensos telah dan dapat mengambil peran lebih maksimal serta mendalam. Kunci pintu itu telah dibuka, tinggal lebih lebar digerakan agar semakin banyak Rakyat Indonesia yang berubah hidupnya , dan berbalik mampu membantu sesama.

Seperti yang pernah dikatakan Bu Risma. “Kalau ada masalah hadapi. Yakinlah Allah itu Maha Segalanya, bisa mengatur semuanya. Tidak ada yang tidak mungkin,”. Dimulai dari program Kemensos ini, kita pasti bisa membuat Indonesia lebih baik, dan lebih maju. Yakin Usaha Sampai.

*Penulis : Wakil Sekretaris Jenderal DPP LIRA

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait