Menemukan “Senyum Tuhan” di Desa Tangkeno “Negeri di Awan”

  • Whatsapp

 

“Negeri di Awan”, itulah julukan sebuah desa di salah satu pulau di Sulawesi Tenggara. Terletak di Desa Tangkeno Kecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana Sulawesi Tenggara.

Bacaan Lainnya

Pada musim tertentu, desa ini di selimuti oleh awan, yang ketika dilihat dari ketinggian sepertinya ada pesan yang hendak disampaikan awan dari sang maha pencipta agar warisan yang tuhan berikan itu hendak selalu dijaga.


Pada musim itu juga, kita akan merasakan sentuhan tuhan yang begitu halus, segarnya hempasan awan yang diterpa angin sepoi-sepoi seolah tangan tuhan turut menyentuh kulit mengajak nikmati singgasana istana syurga

Cukup menguras akal, menebak makna indah dibalik suguhan negeri Tangkeno, “apa iya tuhan hendak mengajak bersyukur, menyaksikan kebesaran-Nya.

Begitu nampak cinta tuhan terhadap alam indah di desa yang begitu damai itu, campur tangan tuhan begitu melekat di sana. Entah Malaikat-Nya tak pernah terlelap tidur menjaga, atau mungkin juga Tangkeno adalah cerminan surga tuhan untuk hamba-Nya yang selalu bersyukur hingga tak ada waktu sedetik saja keindahan itu pupus dari pandangan mata, “sungguh dahsyat ciptaan tuhan.

Benteng tuntuntari, puncak gunung sabampolulu dengan ketinggian 1800 meter dari permukaan laut, air terjun lakambula dan masih banyak lagi. Semua itu dititip tuhan di sana, keindahan Tangkeno mewakili “Senyum Tuhan” dengan berbagai macam keindahan di dalamnya. Jika harus disebutkan satu per satu, barangkali tulisan ini tak akan pernah ada ujungnya.

Desa Tangkeno menyuguhkan destinasi wisata yang berbeda, selama ini sering kita temukan destinasi wisata yang berbasis wisata laut. Disinilah letak perbedaannya. Tangkeno memiliki basis keindahan alam dan gunung, saat indra penglihatan telah sampai di sana, kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang terhempas hingga ke ujung cakrawala. Di tempat ini pula para pemburu sunset dapat menyaksikan bagaimana sang surya tenggelem di batas cakrawala tepat di tengah lautan Pulau Sagori. Sungguh sebuah anugrah yang patut disyukuri.

Bagi penulis sendiri, dengan waktu lima hari menginjakan kaki di Desa Tangkeno rasanya belum cukup. Negeri di Awan ini seolah memberikan efek candu terhadap penulis agar kiranya dilain waktu hendak berkunjung lagi. Keramah tamahan masyarakat, gotong royong, adat istiadat, sikap saling mengasihi dan menghargai begitu jelas terlihat ketika penulis berada disana. Hingga terlintas difikiran “di sanalah nilai dari isi Pancasila itu lebih dimengerti. Sebab penulis menilai masyarakat Desa Tangkeno memiliki kecerdasan dalam berfikir dan pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila.

Desa Tangkeno memberikan banyak kesan dan pesan sehingga membuat penulis kesulitan dalam memilih kata untuk mewakili perasaan yang rasanya kata-kata terlampau miskin untuk mewakili warisan yang tuhan berikan itu.

Dalam suatu kesempatan tepatnya pada pagi hari, pandangan ini kembali di suguhkan dengan sebuah tulisan. Tulisan yang rasanya tidak asing lagi bagi penulis. Ya tulisan itu adalah “Desa Wisata Tangkeno Negeri di Awan.

Setelah akal menerawang lebih jauh, rupanya perjumpaan dengan tulisan ini adalah ketika pertama kali hendak menginjakan kaki di desa yang merupakan akar dari penerapan segala bentuk kearifan lokal dan keindahan surga tuhan di Tangkeno Pulau Kabaena.

Desa Tangkeno masuk dalam draft penyelenggara kegiatan Festifal Budaya tiap tahunya dalam agenda kegiatan tahunan Sulawesi Tenggara. Menjadi tuan rumah dalam kegiatan fotografer dan hiking se-Indonesia dan juga menjadi sasaran utama dalam kunjungan Sail Indonesia yang memiliki tujuan terhadap pengembangan serta kelayakan berbagai wisata di Indonesia.

Akan menjadi sebuah rasa syukur yang tak terhingga kepada sang pencipta, jika bertatap kembali dengan sebuah tulisan yang kerap diketemukan ketika hendak memasuki desa Tangkeno.

Penulis : Adhit Ungkedo/ Anggun Karsila
Editor : Adhin Koteo

Pos terkait