Pergantian Tahun: Merayakan Waktu atau Kehilangan Makna?

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag
(Dosen IAIN Kendari)

Pergantian tahun selalu hadir sebagai momen simbolik. Dentuman kembang api, pesta semalam suntuk, hitung mundur yang meriah, dan euforia kolektif seakan menjadi ritual wajib. Namun, di balik gegap gempita itu, terselip pertanyaan mendasar: apakah pergantian tahun hanya sekadar perayaan hedonistik, atau justru momentum muhasabah eksistensial sebagai manusia?

Bacaan Lainnya
 

Dalam budaya modern, pergantian tahun kerap direduksi menjadi ajang konsumsi dan hiburan. Malam tahun baru menjadi etalase kapitalisme: hotel penuh, tempat wisata sesak, musik hingar-bingar, dan media sosial dibanjiri narasi kebahagiaan instan. Waktu diperlakukan sebagai komoditas, bukan amanah. Perayaan semacam ini sering kali mengalihkan manusia dari refleksi makna hidup, seolah kebahagiaan diukur dari seberapa meriah pesta yang dirayakan, bukan seberapa dalam kesadaran yang ditumbuhkan.

Padahal, dalam perspektif spiritual—khususnya Islam—pergantian waktu bukanlah peristiwa netral. Al-Qur’an menempatkan waktu sebagai saksi kehidupan manusia. Allah bersumpah atas waktu (wal-‘ashr), sebuah penegasan bahwa setiap detik mengandung nilai moral. Setiap pergantian tahun sejatinya adalah pengurangan jatah umur, bukan sekadar pertambahan angka kalender. Maka, yang pantas dirayakan bukanlah berlalu-nya waktu, melainkan sejauh mana waktu itu bermakna.

Di sinilah muhasabah menemukan relevansinya. Muhasabah bukan ritual kesedihan, melainkan kesadaran kritis. Ia mengajak manusia menengok ke belakang bukan untuk larut dalam penyesalan, tetapi untuk membaca pelajaran. Apa yang telah kita lakukan dengan waktu yang Allah titipkan? Apakah kita menjadi manusia yang lebih adil, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih beradab dibanding tahun sebelumnya? Ataukah justru semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan?

Muhasabah juga menantang logika hedonisme yang menuhankan kesenangan sesaat. Hedonisme menjanjikan kegembiraan instan, tetapi sering meninggalkan kekosongan eksistensial. Sebaliknya, muhasabah mungkin sunyi dan hening, tetapi ia melahirkan kejernihan makna. Dalam keheningan refleksi, manusia menemukan kembali dirinya sebagai makhluk yang terbatas, namun bermakna ketika hidupnya diarahkan pada tujuan yang benar.

Namun, menempatkan muhasabah bukan berarti menolak kegembiraan. Islam tidak memusuhi kebahagiaan. Yang dikritik adalah kebahagiaan yang kehilangan arah moral.

Pergantian tahun dapat dirayakan secara sederhana, bermartabat, dan bernilai: berkumpul bersama keluarga, berbagi dengan yang membutuhkan, menata ulang visi hidup, dan memperbarui komitmen etis serta spiritual. Inilah kegembiraan yang tidak bising, tetapi berbekas.

Akhirnya, pergantian tahun adalah cermin. Ia memantulkan wajah peradaban kita. Apakah kita memilih menjadi masyarakat yang larut dalam euforia sesaat, atau komunitas yang menjadikan waktu sebagai guru kehidupan? Hedonisme mungkin memberi gemerlap malam, tetapi muhasabah memberi cahaya jalan. Dan dalam dunia yang semakin bising, barangkali yang paling kita butuhkan justru keberanian untuk hening—merenung, menata, dan memulai kembali dengan kesadaran yang lebih dewasa.

Wallahu A’lam bi al-Shawwab

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait