Kendari, Sultrademo.co — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah menjadi perbincangan di kalangan orang tua siswa, khususnya para ibu, menuai berbagai keluhan terkait menu makanan yang diterima anak-anak sekolah dari tingkat TK hingga SMA.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan kota Kendari, Saemina menjelaskan bahwa variasi menu MBG tidak ditentukan langsung oleh dinas pendidikan, melainkan disesuaikan oleh masing-masing dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Menunya tergantung dari dapur SPPG masing-masing, dan sekarang sudah ada 33 SPPG. Dari dinas pendidikan kami hanya memantau berapa jumlah siswa yang sudah menerima,” ujar Saemina saat di konfirmasi, Rabu, (25/02/2026).
Ia menegaskan, terkait kualitas makanan, pengawasan menjadi kewenangan lembaga khusus, yakni badan gizi. Menurutnya, badan tersebut bertugas memeriksa makanan, memastikan kecocokan serta terpenuhinya standar gizi bagi siswa.
“Kalau soal kualitas, ada badan gizi yang memeriksa makanannya, melihat apakah sudah memenuhi standar gizinya. Kami di dinas tidak punya kewenangan ke sana,” katanya.
Keluhan warga salah satunya muncul selama bulan Ramadan, karena sebagian siswa disebut hanya menerima roti dan kurma. Namun Saemina menyebut menu sebenarnya bervariasi.
“Yang saya lihat, ada roti dengan kacang, telur, kadang buah seperti pisang. Jadi berbeda-beda sesuai SPPG masing-masing,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan besaran anggaran makanan berbeda berdasarkan jenjang kelas. Untuk siswa kelas IV, V, dan VI maksimal Rp10.000 per anak, sedangkan kelas I, II, dan III sebesar Rp8.000 per anak.
Saemina mengakui mekanisme pelaksanaan di lapangan merupakan instruksi pemerintah pusat sehingga dinas pendidikan hanya berperan pada pendataan penerima.
“Kami tidak tahu detail pelaksanaannya, karena itu program pemerintah. Kami hanya memantau siswa yang menerima,” ujarnya.
Terkait keberlanjutan program selama Ramadan hingga Idulfitri, pihaknya belum menerima kepastian teknis. Namun biasanya saat hari libur sekolah, siswa tetap mendapatkan makanan kering.
“Biasanya kalau libur, mereka tetap diberi bahan kering seperti roti. Untuk menjelang Lebaran apakah tetap diberikan, kami masih menunggu informasi lebih lanjut,” pungkasnya.








