PT GMS Jelaskan Terkait Isu Pencemaran Lingkungan dan CSR Perusahaan

Ketgam : Pihak PT GMS saat Memberikan Klarifikasi

Kendari, Sultrademo.co – PT. Gerbang Multi Sejahtera (GMS) yang beroperasi di Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) sebelumnya telah disoroti akibat adanya aksi demonstrasi masyarakat lingkar tambang terkait isu pencemaran lingkungan.

Project Manager PT. GMS, Muhammad Haris mengatakan awal mula pihaknya dilaporkan oleh masyarakat setempat kepada pihak dinas terkait adalah akibat adanya kapal tongkang milik perusahaannya yang hampir karam didekat Jetty pada 30 Mei 2021 lalu.

Bacaan Lainnya

Akibat laporan masyarakat tersebut, pihaknya telah melakukan Rapat Dengar Pendapat (RPD) bersama pihak DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Selain itu, ia mengaku perusahaan tersebut telah ditemui oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup Daerah Konsel dan Provinsi Sultra serta Inspektur pertambangan.

Menurutnya, pihaknya telah diberikan sanksi berupa sanksi administrasi, sanksi pembenahan, pelengkapan izin-izin, dan masalah sedimen. Muhammad Haris menegaskan dari semua sanksi yang diterima oleh perusahaannya tidak ada sanksi pemberhentian aktivitas sementara perusahaan PT. GMS.

“Kita sudah menerima sanksi. Dari semua sanksi teguran tidak ada arah pembicaraan yang mengatakan pemberhentian akviitas sementara. Jadi bukan tidak ada langkah atau hal yang dilakukan oleh pihak pemerintah setempat yakni dinas terkait,” ungkap Muhammad Haris saat ditemui oleh awak Sultrademo.co, Sabtu (25/9/2021).

Ia menjelaskan, pihak perusaahannya juga telah memberikan dampak positif berupa jaminan Corporate Social Responsibility (CSR) kepada masyarakat sekitar  PT. GMS yang disepakati pihak perusahaan bersama 4 kepala desa melalui penandatanganan MOU.

“Sejak 2018 kami sudah ada MOU yang disepakati bersama masyarakat berupa CSR dan bantuan yang diminta oleh masyarkat. MOU itu dibuat antara masyarakat lingkar tambang dan PT. GMS, yakni terbagi 4 desa. sampai sekarang masih berlaku,” bebernya.

Ia menyayangkan adanya demonstrasi oleh masyarakat setempat. Sebelum adanya demonstrasi tersebut, masyarakat sempat meminta untuk diberikan kompensasi kepada nelayan karena menganggap apa yang terjadi di depan Jetty tersebut merupakan pencemaran lingkungan yang menyebabkan penurunan pendapatan nelayan.

Adapun permintaan kompensasi yang diajukan adalah senilai Rp 3 juta perbulan dan perkepala keluarga terhitung untuk empat desa.

“Yang melakukan demonstrasi itu adalah masyarakat yang berasal dari dua desa. Dua desa ini merupakan bagian dari empat desa penerima kompensasi termasuk nelayan. Itu sudah 3 kali pencairan terkait kompensasi. Sedangkan CSR sudah sebagian terealisasikan,” pungkasnya.

Ditempat yang sama, Kepala Teknik Tambang (KTT) PT. GMS Hipmi, saat ditanyai terkait dugaan pencemaran lingkungan mengatakan  pihaknya selalu mengikuti regulasi yang ada serta mengurus perizinan yang dibutuhkan.

Sedangkan terkait keruhnya air laut disekitaran kecamatan Laonti, ia menyanggah bahwa pada musim angin timur dan musim penghujan menyebabkan tergerusnya endapan sedimen didasar laut, sehingga terdapat perubahan warna air laut yang signifikan.

“Kita sudah memiliki dokumen perizinan tersus, IUP, amdal tambang, amdal tersus, sebntar kita perlihatkan. Kita tidak mungkin melakukan kegiatan kalau tidak memiliki izin. Kecuali izin limbah B3, itu sedang dalam tahap proses penyelesaian, karena di managemen yang lama belum diselesaikan izinnya,” tuturnya.

Sedangkan Humas PT. GMS, Airin Shakoya mengungkapkan permohonan maaf kepada masyarakat Laonti karena pihak perusahaan belum dapat memenuhi permintaan kompensasi tersebut karena pendapatan perusahaan menurun akibat cuaca buruk.

Ia berharap, masyarakat lingkar perusahaan PT. GMS dapat bersinergi dengan baik bersama perusahaannya.

“Kami juga tidak bisa memberikan kompensasi jika tidak jelas dasarnya misalkan pendapat dari pihak yg berkaitan. Jika diberikan kompensasi juga pertanyaanya sampai kapan batas waktunya, karena tidak dijelaskan. Kita ingin menyampaikan bahwa apa yg disampaikan ini cukup besar, apalagi kita ada perjanjian MOU, sekarang ini kondisi masih tidak memungkinkan untuk merealisasikan, kita fokus aja lah dulu di realisasi MOU,” tutupnya.

Untuk diketahui, PT. GMS sudah merealisasikan CSR perusahaan melalui bantuan sembako di 19 desa dan bantuan masjid di 9 desa. Selain itu, ambulance laut dan bus sekolah tinggal menunggu waktu untuk di antar ke Laonti.

Pihak perusahaan juga sedang menunggu data siswa dan mahasiswa dari pemerintah desa setempat untuk diberikan bantuan pendidikan berupa beasiswa dari tingkat SD hingga perguruan Tinggi.

Penulis: Luthfi Badiul Oktaviya
Editor: AK

Pos terkait