Kendari, Sultrademo.co — Puluhan jemaah umrah asal Kota Kendari mengalami keterlambatan perjalanan pulang dan sempat tertahan di Filipina akibat dugaan kelalaian pihak penyelenggara perjalanan, Smarthajj.id.
Peristiwa ini menjadi perhatian publik setelah influencer sekaligus pembawa acara, Inal Tora, membagikan pengalaman tersebut melalui akun Instagram pribadinya. Dalam unggahannya, ia menceritakan berbagai kendala yang dihadapi jemaah, terutama saat hendak kembali ke Indonesia.
Sesuai jadwal, jemaah seharusnya tiba di Kendari pada Sabtu (2/2/2025). Namun, perjalanan mereka mengalami kendala dengan rute transit di Filipina dan Malaysia sebelum menuju Jakarta. Saat tiba di Bandara Internasional Ninoy Aquino (Naia), Manila, rombongan menghadapi persoalan administrasi hingga tertahan oleh pihak imigrasi setempat.
“Imigrasi belum mau melepas teman-teman saya karena persoalan administrasi yang cukup ketat. Beruntung, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Filipina sangat sigap membantu kami,” ujar Inal Tora, Jumat (14/2/2025)
KBRI Filipina turun tangan dengan melakukan negosiasi kepada otoritas setempat serta menyediakan fasilitas konsumsi bagi jemaah. Kendati demikian, tantangan yang dihadapi jemaah tidak berhenti di situ.
Inal Tora, yang menjadi satu-satunya jemaah dengan paspor sendiri, mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengalami penipuan saat mendapatkan tiket pesawat dengan kode booking palsu.
Selain itu, selama jemaah tertahan di imigrasi, ia rela begadang demi menjaga koper rombongan.
Tragisnya, dalam perjalanan panjang dari Jeddah menuju Manila, salah satu jemaah pria meninggal dunia sebelum pesawat mencapai Malaysia.
Smarthajj Beri Klarifikasi
Agen travel umrah Smarthajj akhirnya angkat bicara terkait kabar yang menyebut mereka menelantarkan jemaah umrah. Dalam wawancara dengan wartawan pada Minggu (16/2/2025), perwakilan Smarthajj, Juleo Adi Pradana, menegaskan bahwa pihaknya merupakan agen resmi yang bekerja sama dengan Duta Putra Delima dan beroperasi sesuai prosedur yang diatur oleh Kementerian Agama.
“Smarthajj itu pusat informasi haji dan umroh, kami salah satu agen Duta Putra Delima. Nanti boleh dicek di Siskopatu ada namanya Duta Putra Delima. Jadi kalau dibilang keberangkatan kami ilegal itu tidak benar karena kami resmi, menggunakan Siskopatu yang dikeluarkan oleh Kemenag. Kami berangkat sesuai dengan legalitas Duta Putra Delima. Kemudian secara visa kami juga menggunakan visa yang resmi, yakni visa umrah, bukan visa ziarah,” jelasnya.
Juleo juga membantah tudingan bahwa pihaknya menyediakan tiket palsu. Ia menegaskan bahwa tiket telah dibeli dari vendor resmi dan bukti pembayaran sudah disertakan dalam invoice.
“Mengenai tiket palsu, kami ini ada kerja sama dengan vendor tiket. Kita sudah melakukan pembayaran secara lunas, ada invoicenya terlampir dari jumlah pembayarannya hingga jadwal keberangkatan, mulai dari tiket pergi sampai dengan tiket kepulangan,” katanya.
Kronologi Keberangkatan dan Kendala di Perjalanan
Menurut Juleo, jemaah semestinya berangkat pada 22 Januari 2025 dari Makassar dengan rute Makassar–Kuala Lumpur–Jeddah dan kembali dengan rute yang sama. Namun, pihak vendor tiket tidak menyediakan tiket domestik yang seharusnya menggunakan Batik Air dan baru menginformasikan kendala ini enam hari sebelum keberangkatan. Akibatnya, Smarthajj harus mengatur ulang rute perjalanan melalui Jakarta–Singapura–Jeddah.
“Jamaah berangkat, namun sempat tertahan beberapa hari di Bangkok karena menunggu tiket dari vendor. Saat kepulangan pun, tiket kami belum tersedia. Pada 2 Februari, sekitar 60 tiket keluar dengan rute Jeddah–Manila–Malaysia–Jakarta. Namun, saat tiba di Manila, tiket Manila–Malaysia belum rilis, sehingga jemaah tertahan di imigrasi,” ujarnya.
Juleo menambahkan bahwa tiket yang akhirnya dikirim oleh vendor ternyata tiket palsu. Hal ini baru diketahui setelah jemaah keluar dari imigrasi dan mendapati nama mereka tidak tercantum di manifest penerbangan.
Ia menegaskan bahwa Smarthajj tidak pernah berniat mencelakakan jemaah dan menuding vendor tiket, dari PT. Baruna Java Celebes, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kejadian ini.
Penanganan Jemaah dan Kasus Kematian Salah Satu Jemaah
Smarthajj juga menjelaskan mengenai salah satu jemaah yang meninggal dunia dalam perjalanan pulang. Juleo menegaskan bahwa pihaknya telah memberikan bantuan maksimal.
“Terkait korban yang meninggal dunia, jamaah sudah terbang dari Filipina. Ketika mendarat di Malaysia, saat berdiri dari kursi, ia terjatuh dan tidak sadarkan diri. Kami langsung mengirimkan orang dari Jakarta yang memahami proses pengurusan jenazah dan berkoordinasi dengan keluarga. Alhamdulillah, jenazah bisa dipulangkan ke Indonesia sampai di Baubau dengan seluruh biaya ditanggung pihak travel,” ujarnya.
Sanusi (68), salah satu jemaah umroh yang mengalami langsung insiden keterlambatan tiket di Manila, menegaskan bahwa dirinya tidak merasa ditelantarkan oleh pihak travel, meskipun ada keterlambatan tiket.
“Memang perjalanan agak jauh karena pindah-pindah pesawat, tapi tetap kami dijamin oleh pihak travel. Cuma di Manila ada sedikit keramaian karena keterlambatan tiket. Pada intinya, pihak travel tidak lepas tangan,” tambahnya.
Smarthajj Akan Tempuh Jalur Hukum
Juleo menegaskan bahwa pihaknya telah melayangkan somasi kepada vendor tiket dan akan membawa kasus ini ke Polda Sulawesi Tenggara.
“Kami sangat dirugikan oleh pihak vendor tiket. Jemaah yang niatnya beribadah dengan khusyuk justru harus mengalami kelelahan dan emosi akibat masalah ini. Kami sudah mengirimkan somasi kedua kepada pihak vendor tiket, insyaAllah besok kita akan lanjutkan ke Polda untuk laporan kepolisian,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa Smarthajj tidak menelantarkan jemaah dan tetap bertanggung jawab hingga para jemaah kembali ke Indonesia dengan selamat.
“Terkait laporan di Polda Sultra, pastinya kita tidak akan lari dari proses hukum yang ada. Kami akan tetap mengikuti proses ini sampai tuntas,” tutupnya.










