Kendari, Sultrademo.co – Di penghujung tahun 2025, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengajak segenap elemen warga Nahdliyin untuk berhenti sejenak dan menengok ke belakang. Sebuah perhelatan bertajuk “Refleksi Akhir Tahun” digelar di Eropa Resto & Café, Kendari, Minggu (28/12/2025). Pertemuan ini bukan sekadar seremoni tutup tahun, melainkan sebuah ikhtiar intelektual dan spiritual untuk mengevaluasi peran organisasi di tengah masyarakat Bumi Anoa.
Mengusung tema “Mendialogkan NU Masa Depan; Refleksi dari Bumi Anoa Sulawesi Tenggara”, acara ini dirangkaikan dengan dialog publik yang menghadirkan pemikiran-pemikiran strategis dari para narasumber, yakni Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A., Kombes Pol Masjaya, M.Si., dan Prof. Dr. H. Nasruddin Suyuti, M.Si.
Ketua Tanfidziyah PWNU Sultra, K.H. Muslim, dalam sambutannya menekankan pentingnya autokritik bagi organisasi. Ia mengajak seluruh pengurus dan badan otonom untuk mengukur sejauh mana kehadiran NU telah memberikan dampak nyata. Menurutnya, predikat khairu ummah (umat terbaik) tidak cukup hanya menjadi klaim teologis semata, tetapi harus diterjemahkan ke dalam aksi sosial yang dirasakan manfaatnya oleh publik.
“Ke depannya, kita akan tingkatkan lagi dan lebih menyesuaikan dengan tuntutan yang ada. Sebagai ormas, kita harus berdampingan dengan pemerintah untuk melakukan aksi-aksi yang lebih baik,” ujar K.H. Muslim.
Ia juga menyoroti tantangan demografi dan sosiologis yang dihadapi NU. Merujuk data terbaru, warga NU kini mencapai 56,9 persen atau separuh dari penduduk Indonesia. Besarnya jumlah ini membawa konsekuensi logis berupa keragaman pandangan di internal organisasi.
“Di dalamnya pasti penuh dengan perbedaan pendapat. Perbedaan itu adalah fitrah. Boleh berbeda, tapi jangan bercerai-berai. Boleh berbeda, tapi jangan berseteru,” tegasnya mengingatkan pentingnya soliditas di tengah keberagaman internal.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Sulawesi Tenggara, H. Mansur, mengapresiasi langkah PWNU Sultra. Ia menilai kegiatan ini sebagai momentum krusial untuk melakukan muhasabah (introspeksi) terhadap perjalanan umat dan bangsa sepanjang tahun 2025.
“Tahun 2025 adalah tahun yang penuh dinamika. Kita menghadapi tantangan global dan nasional yang semakin kompleks, mulai dari transformasi digital, perubahan sosial yang cepat, isu intoleransi, krisis moral, hingga tantangan ekonomi,” ungkap Mansur.
Dalam konteks inilah, peran NU dinilai sangat strategis. Mansur menegaskan bahwa NU, dengan prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah yang mengedepankan nilai tawassuth (tengah-tengah), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (tegak lurus), telah terbukti menjadi pilar utama dalam menjaga wajah Islam yang ramah dan moderat di Indonesia.
Nilai-nilai tersebut, lanjut Mansur, sejalan dengan program prioritas Kementerian Agama, yakni Moderasi Beragama. Ia pun mengutip dawuh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, “Hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air adalah sebagian dari iman), sebagai landasan teologis yang memperkuat sinergi antara ulama dan umara.
“Kemenag Sultra memandang NU sebagai mitra strategis. Sinergi ini telah terwujud nyata, mulai dari pendidikan keagamaan, dakwah, penguatan pesantren, hingga pembinaan umat di akar rumput,” tambahnya.
Suasana keakraban tampak kental dengan kehadiran sejumlah tokoh, termasuk Sekretaris PWNU Sultra yang juga menjabat Kakanwil Kemenag Kalimantan Utara, H. Muhammad Saleh. Turut hadir pula perwakilan badan otonom (Banom) NU, mulai dari Muslimat, Fatayat, GP Ansor, JATMAN, hingga PMII, yang menandakan solidnya struktur organisasi hingga ke level kaderisasi.
Menutup pandangannya, H. Mansur mengajak seluruh elemen NU untuk menatap tahun 2026 dengan semangat kolaborasi. Ia menekankan pentingnya memperkokoh ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan).
“Refleksi yang jujur akan melahirkan perbaikan yang berkelanjutan. Mari kita rawat keberagaman sebagai sunnatullah dan jadikan agama sebagai inspirasi untuk menghadirkan kedamaian di Sulawesi Tenggara,” pungkasnya.
Laporan: Muhammad Sulhijah








