Relevansi dan Idealisme HMI di Era Kontemporer: Refleksi dalam rangka Milad HMI ke-78

Oleh: Dr. Edy Gunawan, SE, MM
(KAHMI Cabang Kendari)

A. Tantangan dan Adaptasi HMI di Era Moder

Bacaan Lainnya

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat ini menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan refleksi dan adaptasi agar tetap relevan dalam konteks zaman. Berikut beberapa tantangan utama yang dihadapi dan adaptasi yang perlu dilakukan oleh HMI:

1. Peran dan Tantangan Internal

Sebagai organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia, HMI memiliki sejarah panjang dalam pergerakan nasional. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, HMI kerap menghadapi fragmentasi dan perpecahan internal. Perbedaan
ideologis dan kepentingan politik sering kali menghambat efektivitas organisasi. Konflik kepentingan di antara anggota juga melemahkan daya gerak organisasi.

2. Kualitas Kaderisasi

Di era globalisasi dan digitalisasi, HMI perlu memastikan kader-kadernya mampu memahami isu-isu lokal sekaligus isu global yang memengaruhi umat Islam dan masyarakat umum. Penurunan kualitas intelektual dan moral kader dapat
menghambat HMI dalam menjalankan peran pembinaan intelektual dan moral mahasiswa Islam.

3. Adaptasi terhadap Perubahan Zaman

HMI dituntut untuk mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan zaman. Sistem perkaderan yang relevan dengan era digital sangat diperlukan. Metode pelatihan dan pembinaan perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan zaman agar tetap efektif.

4. Kembali ke Jati Diri

Refleksi terhadap jati diri HMI sebagai organisasi yang menjunjung nilai-nilai keislaman dan kebangsaan sangat penting. HMI harus menjadi laboratorium intelektual dan moral yang membentuk kader kritis, peduli sosial, dan berkomitmen pada nilai keislaman serta kebangsaan.

5. Menghadapi Tantangan Eksternal

Selain tantangan internal, HMI juga menghadapi tekanan eksternal seperti dinamika politik dan sosial. Mengutip teori Gramsci tentang hegemoni, HMI harus menjaga independensi dan fokus pada perjuangan keadilan dan kebenaran, tanpa tunduk pada pengaruh eksternal.

B. Komisariat dan Cabang: Pilar Perjuangan HMI

Komisariat HMI adalah kawah candradimuka intelektual, tempat kader ditempa menjadi pejuang idealisme. Sementara itu, Cabang menjadi perpanjangan tangan perjuangan tersebut.

Di Komisariat, kader diharapkan tidak hanya menguasai nilai-nilai keilmuaan, keorganisasaian, keagamaan dan kebangsaan tetapi juga memiliki idealisme yang tajam. Jika Komisariat adalah tempat belajar berpikir kritis, maka Cabang menjadi wadah untuk belajar politik. Namun, politik seperti apa yang seharusnya dipelajari?

Sayangnya, idealisme di Cabang sering bergeser. Banyak Cabang lebih sibuk dengan kegiatan seremonial dan pencitraan dari pada mengadvokasi isu strategis. Hal ini bertentangan dengan semangat idealisme yang seharusnya diusung HMI.

Mengutip Antonio Gramsci dalam Selections from the Prison Notebooks, “kekuatan sosial tidak hanya dipertahankan melalui paksaan, tetapi juga melalui persuasi dan konsensus” Apakah Cabang saat ini terjebak dalam real-politik yang pragmatis, alih-alih menjadi agen perubahan?

Tan Malaka dalam Dari Penjara ke Penjara menegaskan bahwa “idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda” Kutipan ini mengingatkan pentingnya mempertahankan idealisme, terutama bagi kader HMI yang menjadi tulang punggung perubahan.

Selain itu, Albert Einstein dalam The World As I See It menyatakan bahwa “hanya mereka yang berusaha keras mencapai tujuan tinggi yang akan sukses”. Idealisme dan kerja keras adalah kunci perubahan berarti.

Dalam organisasi seperti HMI, idealisme mengandung makna:

  1. Mendorong Pemikiran Kritis Idealisme mendorong individu mempertanyakan status quo, memicu inovasi, dan perubahan besar. Banyak gerakan sosial berhasil berkat idealisme, seperti perjuangan Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela.
  2. Menjaga Moralitas Idealisme menjadi panduan moral bagi kader HMI agar tetap berpegang pada nilai luhur, menjauh dari pragmatisme yang merugikan, dan menjaga kepercayaan masyarakat.

Namun, idealisme yang terlalu kaku bisa menjadi penghalang adaptasi. Penting menemukan keseimbangan antara idealisme dan realisme. Seperti yang dikatakan John F. Kennedy, “Idealism without realism is impotent. Realism without idealism is empty.” Kutipan ini menegaskan pentingnya menggabungkan idealisme dan realisme untuk hasil yang efektif dan berkelanjutan.

Komisariat harus tetap menjadi pusat intelektual, sementara Cabang berhenti terjebak dalam seremonial dan politik praktis. HMI harus kembali menjunjung tinggi idealisme, menjadikan Komisariat laboratorium intelektual dan Cabang sebagai perpanjangan perjuangan.

Sebagai penutup, untuk tetap relevan, HMI perlu melakukan otokritik, memperkuat kaderisasi, dan menghadapi tantangan zaman dengan bijak. Refleksi, adaptasi, dan kembali pada jati diri adalah langkah penting untuk masa depan HMI.

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Penulis: -
Editor: Muhammad Sulhijah

Pos terkait