Bogotá, Sultrademo.co – Panggung demokrasi Kolombia diguncang oleh aksi kekerasan mengerikan. Miguel Uribe Turbay (39), salah satu kandidat kuat dalam pemilihan presiden Kolombia, menjadi korban penembakan brutal saat berkampanye di ibu kota, Bogotá, Sabtu malam (7/6). Dalam insiden tersebut, dua peluru bersarang di kepalanya dan satu lainnya mengenai lututnya.
Dikutip dari BBC, penembakan terjadi ketika Uribe tengah berpidato di hadapan sekelompok warga. Serangan terjadi secara mendadak dan menciptakan kepanikan luar biasa. Suasana berubah mencekam ketika terdengar tiga kali suara tembakan, diikuti teriakan dan dorong-dorongan dari massa yang berupaya menyelamatkan diri.
“Miguel saat ini berjuang antara hidup dan mati. Kami memohon doa seluruh rakyat Kolombia agar Tuhan membimbing tangan para dokter yang kini merawatnya,” ungkap sang istri, Maria Claudia Tarazona, dalam pernyataan emosional yang disampaikan pada Minggu (8/6).
Maria juga menyerukan solidaritas dari seluruh elemen masyarakat agar tidak tunduk pada teror dan tetap menjaga semangat demokrasi.
Aksi penembakan ini langsung mengundang gelombang kecaman dari berbagai pihak. Partai Centro Democratico, tempat Miguel bernaung, menyatakan bahwa tindakan ini merupakan ancaman serius terhadap nilai-nilai demokrasi dan kebebasan berpolitik. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, turut mengutuk keras insiden tersebut.
Presiden Kolombia, Gustavo Petro, yang berasal dari sayap kiri dan sering berseberangan pandangan politik dengan Uribe, menyampaikan sikap tegas.
“Ini bukan hanya serangan terhadap seorang kandidat, tapi terhadap fondasi demokrasi itu sendiri. Negara tidak boleh kalah oleh kekerasan,” ujar Petro dalam pernyataannya.
Pihak kepolisian telah bergerak cepat. Seorang remaja berusia 15 tahun berhasil ditangkap di lokasi kejadian dan diduga sebagai pelaku penembakan. Polisi juga mengamankan beberapa rekaman video dan suara yang memperlihatkan detik-detik penembakan berlangsung.
Saat ini, Miguel Uribe Turbay dirawat intensif di Klinik Sante Fe, di mana ratusan pendukungnya berkumpul dan menyalakan lilin sebagai bentuk dukungan dan doa.
Serangan ini memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya kekerasan politik menjelang pemilu Kolombia, dan mempertegas betapa rapuhnya situasi keamanan bagi para kandidat.
Laporan : Arini Triana Suci R












