41 Gadis Belia Desa Boneatiro Barat Buton Jalani Ritual Posuo

Buton, sultrademo.co – Sebanyak 41 orang gadis belia Desa Boneatiro, Kecamatan Kapuntori, Kabupaten Buton mengikuti ritual Posuo atau pingitan massal, pada Sabtu (8/7/2023). Prosesi Posuo ini akan berlangsung selama 8 hari 7 malam di sebuah ‘bantea’ dengan melakukan berbagai ritual.

Kepala Desa Boneatiro Barat, Ilyas menerangkan pada prosesi Posuo segala nasehat, agama dan budaya termasuk ajaran kehidupan ke depan diberika bagi seorang gadis dewasa.

Bacaan Lainnya

Dikatakannya, rangkaian kegiatan Posuo ini dimulai sejak hari Jumat yang diawali dengan Ritual Kangkilo untuk anak laki-laki menuju remaja sebanyak 15 orang kemudian Kasumba sebanyak 24 orang dan Posuo sebanyak 41 orang.

Selain Boneatiro kaya dengan budaya peninggalan Kesultanan Buton yang masih terus lestari, kata Ilyas Desa Boneatiro juga menyimpan situs Sejarah Kesultanan Buton, berupa tempat Labolontio sang Bajak laut ketika Buton masih berstatus Kerajaan.

“Kita akan terus memperbaiki dan memugar situs-situs peninggalan Kesultanan Buton yang ada di desa ini dengan memanfaatkan dana desa, untuk pengembanghan budaya di Desa Boneatiro Barat,” tuturnya.

Budayawan Buton, Budi Wahyudin menerangkan kata Posuo berasal dari suo yang artinya serambi sehingga posuo berarti berserambi. Artinya mengasingkan diri untuk membentuk karakter menuju gadis dewasa.

Ia menguraikan Posuo merupakan siklus hidup dari lahir hingga mati. Prosesi itu diawali sejak dari kandungan, aqiqah, dole-dole tandaki bagi laki-laki dan posuo bagi perempuan.

“Ritual Posuo dilaksanakan sebagai penanda transisi bagi seorang wanita, dari gadis remaja (Kabua-bua) menjadi seorang gadis dewasa (Kalambe). Posuo juga merupakan pembentukan karakter selama 8 hari 7 malam dan diharapkan ketika keluar dari posuo, seorang Wanita dewasa sudah dibatasi dengan nilai layaknya wanita dewasa dalam pergaulan,” jelas Budi.

Dikatakannya, dalam Suo dilakukan berbagai ritual sebagai sarana pendidikan bagi persiapan mental seorang perempuan remaja, menjadi seorang perempuan dewasa yang siap membentuk rumah tangga.

Agar pelajaran dapat diterima dengan baik, maka selama berada dalam Suo, para peserta Posuo hanya boleh bertemu dengan dukun yang memimpin upacara. Mereka akan dijauhkan dari segala pengaruh luar, baik dari keluarganya sendiri maupun dari pengaruh lingkungannya.

Laporan: Muh Sulhijah

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait