Kendari, Sultrademo.co – Sebuah kisah perjuangan hidup datang dari perairan pesisir Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Aldi Novel Adilang, remaja berusia 18 tahun, harus menghadapi kerasnya kehidupan sebagai penjaga lampu di sebuah rompong—rakit tradisional sederhana yang terapung di laut lepas tanpa mesin maupun alat navigasi.
Di atas rakit berbahan bambu dan beratap terpal itu, Aldi hidup seorang diri selama berbulan-bulan. Tugasnya menyalakan generator setiap malam agar cahaya lampu menarik ikan berkumpul. Kebutuhan hidupnya sepenuhnya bergantung pada kapal pasokan yang datang seminggu sekali membawa logistik dan mengambil hasil tangkapan.
Namun, pada 14 Juli 2018, badai besar mengubah segalanya. Angin kencang dan gelombang tinggi menghantam perairan hingga memutus tali tambang yang menambatkan rompong Aldi. Rakit tersebut hanyut tak terkendali menuju Samudra Pasifik. Upaya penyelamatan dari kapal nelayan di sekitar lokasi gagal akibat kondisi cuaca ekstrem.
Bertahan di Tengah Ancaman Laut Lepas
Hari-hari berikutnya menjadi ujian berat bagi Aldi. Persediaan makanan dan air yang terbatas segera habis. Ia terpaksa bertahan dengan memancing ikan, bahkan memanggangnya menggunakan kayu dari bagian rompong yang dibongkar sendiri. Saat bahan bakar habis, ia tak segan mengonsumsi ikan mentah.
Krisis air menjadi tantangan paling berat. Aldi mengandalkan air hujan, dan ketika hujan tak turun, ia memeras pakaian yang telah dibasahi air laut demi sekadar membasahi tenggorokannya.
Selain penderitaan fisik, tekanan mental juga menghantui. Ombak besar kerap menghantam rakitnya, sementara hiu-hiu besar berulang kali mengelilingi bahkan menabrak struktur bambu tersebut. Dalam kondisi terisolasi, Aldi juga beberapa kali melihat kapal besar melintas. Ia berteriak dan melambaikan tangan, namun tak satu pun kapal melihatnya.
Rasa putus asa sempat memuncak hingga ia berniat mengakhiri hidupnya. Namun, pesan orang tuanya untuk selalu berdoa di saat genting membuatnya mengurungkan niat. Ia kemudian menguatkan diri dengan membaca Alkitab dan menyanyikan lagu rohani.
Diselamatkan Setelah 49 Hari
Harapan akhirnya datang pada hari ke-49. Pada 31 Agustus 2018, sebuah kapal kargo berbendera Panama, M.V. Arpeggio, melintas di dekat posisinya yang saat itu telah hanyut ribuan kilometer mendekati perairan Guam.
Awalnya, lambaian tangan Aldi tak terlihat. Namun, ia teringat untuk menggunakan radio panggil (HT). Dengan sisa daya dari panel surya, ia mengirimkan sinyal darurat dengan teriakan “Help!”.
Panggilan itu diterima kru kapal. Kapten segera melakukan manuver untuk mendekat, meski ombak besar menyulitkan proses evakuasi. Setelah beberapa kali percobaan, tali akhirnya berhasil dilemparkan.
Dalam momen krusial, Aldi memutuskan melompat ke laut dan berenang menuju tali tersebut. Ia berhasil ditarik naik ke kapal, mengakhiri 49 hari perjuangan hidup di tengah samudra.
Dipulangkan dan Bertemu Keluarga
Di atas kapal, Aldi mendapatkan perawatan intensif dari kru. Ia diberi makanan secara bertahap, pakaian layak, dan tempat istirahat. Setibanya di Pelabuhan Tokuyama, Jepang pada 6 September 2018, kondisinya dinyatakan stabil oleh otoritas setempat.
Pemerintah Indonesia melalui Konsulat Jenderal RI di Osaka segera memfasilitasi pemulangannya. Setelah proses administrasi, Aldi akhirnya kembali ke Tanah Air dan bertemu keluarganya di Manado pada 9 September 2018 dalam suasana haru.
Sorotan terhadap Keselamatan Kerja
Di balik kisah heroik ini, tersimpan realitas pahit. Peristiwa hanyutnya Aldi bukan yang pertama, melainkan sudah terjadi hingga tiga kali akibat putusnya tali rompong. Hal ini menyoroti lemahnya standar keselamatan kerja di sektor tersebut.
Aldi diketahui mulai bekerja sejak usia 16 tahun setelah putus sekolah karena keterbatasan ekonomi. Ia mempertaruhkan nyawa di laut lepas dengan upah sekitar dua juta rupiah per bulan.
Pengalaman tersebut juga meninggalkan trauma mendalam. Sekembalinya ke daratan, Aldi menolak kembali ke laut dan memilih mengubah cita-citanya demi menjauhi kehidupan yang pernah hampir merenggut nyawanya.
Kisah Aldi Novel Adilang menjadi potret ketangguhan manusia dalam menghadapi batas kehidupan, sekaligus pengingat akan pentingnya perlindungan bagi pekerja di sektor maritim tradisional.









