IDi-SI : PAW Gerindra Harus Selektif

Kendari, Sultrademo.co – Sultra baru saja kehilangan salah satu sosok politisi terbaik. Drs. H. Imran, M.Si, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) Dapil Sulawesi Tenggara yang berasal dari Partai Gerindra berpulang pada Sabtu 28 Maret 2020.

“Sultra telah kehilangan Politisi terbaik. Dalam hal ini Anggota DPR-RI Dapil Sultra yang berasal dari partai yang berlambang burung Garuda tersebut atau dikenal dengan Partai Gerindra,”ujar Enggi Indra Syahputra, Direktur Institut Demokrasi dan Social Indonesia

Bacaan Lainnya
 

Enggi Indra Syahputra menilai terkait Pergantian Antar Waktu (PAW), Partai Gerindra harus lebih selektif memilih kader yang lebih berintegritas dan berkualitas untuk mengganti H.Imran.

“Mengingat Almarhum H.imran merupakan kader Gerindra yang mempunyai rekam jejak yang bagus dalam karier politiknya terkhusus di Sultra” kata Enggi Indra Syahputra saat dihubungi via Celuller, kamis (2/3/2020)

Menurut Enggi meskipun pada perhelatan pemilihan Anggota DPR-RI Dapil Sultra di Partai Gerindra setelah H. Imran adalah Bapak Haerul Saleh, akan tetapi Ia menilai Partai Gerindra harus lebih selektif lagi demi menjaga nama baik dan basis massa Partai Gerindra di Sultra.

“Ada Catatan buruk yang ditorehkan pada pilcaleg periode sebelumnya, yaitu pada tahun 2014 silam, dimana Haerul Saleh telah digugat oleh calon lain dalam hal ini atas nama H.Aptati Kamaruddin” Ungkap Enggi.

Enggi membeberkan diduga terjadi penggelembungan suara oleh Haerul Saleh, sehingga pada saat itu Dewan Kehormatan Penyelenggaraa Pemilu (DKPP) memecat 5 komisioner KPUD Kolaka karena kasus tersebut.

“Sehingga PAW Partai Gerindra harus lebih selektif dan memperhatikan kepentingan jangka panjang untuk melakukan hal terbaik demi masyarakat Sultra dengan memilih PAW yang lebih berintegritas dan berkualitas” Pungkasnya.

*) Follow Kami di GOOGLE NEWS Untuk Mendapatkan Berita Terkini Lainnya
 

Konten sponsor pada widget dibawah ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Sultrademo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Pos terkait