Kahmi dan Politik Pemihakan kepada Rakyat Jelata

  • Whatsapp

Oleh : Musni Umar, Sosiolog, Rektor Univ. Ibnu Chaldun Jakarta

Dalam rangka pencalonan saya sebagai Presidium Majelis Nasional Kahmi yang akan melaksanakan  Musyawarah Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam ( Kahmi) ke 10 tanggal  17-19 November 2017 di Medan, Sumatera Utara, pada 11 November 2017, saya  telah menyampaikan visi dan misi di hadapan panitia seleksi Kahmi yang diketuai Prof. Dr. Laode M. Kamaluddin di hotel Century Park Jakarta.

Bacaan Lainnya

Topik visi dan misi  yang saya presentasikan ialah “Kahmi dan Pemihakan Kepada Rakyat Jelata”.

Saya memulai dengan mengemukakan bahwa seluruh anggota Kahmi sejatinya adalah ulama.  Kata “ulama” berasal dari bahasa Arab yang berarti  orang-orang yang berilmu yaitu para ilmuan atau cendekiawan.  Kata “ulama” adalah jama’ (plural) dan singular atau mufradnya disebut  ‘aalim” yaitu orang yang berilmu.

Kahmi sebagai organisasi  adalah tempat berhimpunnya ulama. Ulama menurut Nabi Muhammad SAW. Adalah pewaris para Nabi (Al ‘ulamaau warastatul anbiya).

Selain itu, anggota Kahmi adalah khalifah, sesuai firman Allah dalam surat Albaqarah ayat 30: “Inni ja’ilun fil ardhi khalifah (Sesungguhnya Saya (Tuhan) akan menjadikan  khalifah di muka bumi). Dalam surat An-Naml ayat 62. Allah berfirman “Wa jaj’alukum khulafaal ardh (Dan Allah menjadikan kamu khalifah di muka bumi).

Selain itu, anggota Kahmi adalah “khairu ummah” (sebaik-baik) umat yang dikeluarkan dari manusia kebanyakan untuk menyeru kepada amar ma’ruf dan nahi munkar, sesuai firman Allah dalam Alqur’an surah Ali Imran ayat 110 “Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi takmuruuna bil ma’ruufi  wa tanhauna  ‘anil munkar”.

Adapun visi yang saya kemukakan ialah “Kahmi menjadi organisasi perjuangan untuk mewujudkan peran keulamaan dan kekhalifahan”.

Sedang misi yang saya tawarkan ialah:
1)  Mewujudkan pengabdian kepada Allah dan rakyat jelata;
2)  Mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diredhai Allah;
3) Melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Organisasi Perjuangan

Untuk bisa mewujudkan misi keulamaan sebagai pewaris para Nabi  dan kekhalifahan manusia sebaik-baik umat, maka tidak mungkin bisa diwujudkan jika Kahmi tidak menjadi organisasi perjuangan.

Kahmi sebagai kelanjutan dari HMI yang mempunyai visi: Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah taa’la,” suka tidak suka dan mau tidak mau harus berjuang  mewujudkan visi HMI.

Visi HMI  apalagi Misi HMI khususnya poin 4 d Memajukan kehidupan umat dalam mengamalkan dinul Islam dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tidak mungkin bisa diwujudkan jika Kahmi hanya sebagai organisasi paguyuban.

Oleh karena itu,  Kahmi harus direvitalisasi menjadi organisasi perjuangan yang berani bersikap kritis, obyektif dan memihak total kepada kepentingan bangsa Indonesia terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan dalam pembangunan.

Lima Tantangan yang Dihadapi

Alumni HMI dari berbagai latar belakang keilmuan, dalam seluruh perjalanan bangsa dan negara  kesatuan Republik Indonesia  telah mengabdi kepada bangsa dan negara.  Akan tetapi hasilnya masih jauh dari yang diharapkan.

Setidaknya menurut pengamatan saya, ada lima tantangan yang dihadapi,  sehingga  pengabdian yang didarma-baktikan alumni HMI belum maksimal dan memberi dayaguna serta hasilguna bagi kemajuan seluruh bangsa Indonesia.

Pertama, alumni HMI belum pernah menjadi Presiden negara ini, sehingga konsep pembangunan yang diyakini dan dihayati belum memperoleh peluang dan kesempatan untuk diwujudkan.

Kedua,  Kahmi terlalu berorientasi kepada kekuasaan ketimbang kepada rakyat.  Pada hal sumber kekuasaan berasal dari rakyat. Akibatnya Kahmi lemah – tidak mempunyai posisi tawar yang kuat pada penguasa. Pada sisi lain, mayoritas bangsa Indonesia terutama umat Islam belum merasa bahwa keberadaan Kahmi dan alumni HMI memberi manfaat nyata bagi perbaikan kehidupan rakyat jelata yang mayoritas umat yang semakin hari bertambah susah kehidupan mereka.

Ketiga, alumni HMI adalah kader hebat dan terlatih,  yang sejatinya bersinergi  untuk mewujudkan visi dan misi HMI. Dalam kenyataan,  kebersamaan dan persatuan masih menjadi tantangan yang harus dijaga dan ditingkatkan, karena pertolongan Allah akan datang jika ada kebersamaan, persatuan dan kesatuan “Yadullaahi ‘alal jama’ah”.

Keempat, permisif kepada penguasa.  Sikap politik yang abu-abu, mencari aman, dan tidak berani mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah,  semakin memperlemah posisi Kahmi dan umat Islam dalam segala bidang.  Kader HMI dari waktu ke waktu selalu mendapat kue kekuasaan, tetapi tidak memberi dampak positif yang signifikan bagi perbaikan kehidupan mayoritas Muslim.

Kelima, terlalu mencintai kekuasaan. Resiko terlalu mencintai kekuasaan, takut berbuat untuk mewujudkan kemajuan bagi mereka yang tidak mempunyai kekuasaan.

Memihak Yang Lemah

Sebagai organisasi  dan anggota Kahmi, posisi Kahmi sekarang bagaikan pribahasa  “ke atas tidak berpujuk, ke bawah tak berakar”.

Dalam era demokrasi di mana kedaulatan di tangan rakyat, Kahmi dan para kader HMI harus melakukan revitalisasi dan reorientasi politik. Pertama, pemihakan total kepada mereka yang lemah (Al musthad’afiin). Pemihakan total kepada yang lemah merupakan investasi politik jangka panjang supaya Kahmi dan para
kader HMI bertahta di hati rakyat, maka mulai dari Kahmi nasional, Kahmi Wilayah, maupun Kahmi daerah harus memiliki desa binaan. Yang dibina pendidikan seperti memberi beasiswa kepada putera-puteri mereka.  Ini amat penting supaya Kahmi berakar di masyarakat bawah.

Jika sudah berakar di masyarakat, maka pasti akan bertahta di hati rakyat.  Dengan demikian, Kahmi akan kuat dan kekuasaan politik akan lebih mudah diraih.  Oleh karena itu, politik Kahmi dan kader HMI haruslah politik  pemihakan kepada yang lemah.

Nabi Muhammad SAW sudah pernah mengingatkan sesuai sabdanya: “Innamaa tunsharuuna wa rurzaquuna bidhuafaaikum” (Sesungguhnya kalian semua ditolong (untuk mendapat kekuasaan) dan memperoleh rezeki karena sebab orang-orang lemah).

Di Indonesia, mayoritas penduduknya masih orang-orang lemah yang sering disebut wong cilik. Maka seorang calon Gubernur tidak akan terpilih dalam pemilihan Gubernur jika wong cilik tidak menjatuhkan pilihan  mereka kepada seorang calon Gubernur.  Apalagi calon Presiden RI.

Kedua, melayani mereka yang lemah.   Di Indonesia, mereka yang  memperoleh kekuasaan dari pemilihan umum, setelah berkuasa,  lupa atau mengabaikan mereka yang telah memilih.  Pertanyaannya,  mengapa ini terjadi? Setidaknya ada tiga jawabannya.  1) Politik sangat mahal.  Hanya mereka yang memiliki  dana yang banyak bisa terpilih menjadi penguasa (eksekutif dan legislatif). Karena politik mahal, maka mereka yang mau menjadi calon penguasa  harus berkolaborasi dengan pemilik modal. Setelah berkuasa, kolaborasi akan berlanjut dan lebih intensif, sehingga kue pembangunan ekonomi jatuh kepada mereka.
2) Politik kartel. Partai-partai politik dikuasai oleh para ketua umum yang pada umumnya kuat secara financial. Untuk melindungi kepentingan ekonomi dan politik mereka, maka mayoritas dari mereka berkolaborasi dengan penguasa.  Selanjutnya para anggota parlemen,  mereka kendalikan dan jadikan sebagai  alat untuk melindungi kekuasaan politik dan ekonomi mereka.  Dampak negatifnya,  rakyat jelata yang mayoritas Muslim semakin terpinggirkan.

3) Ormas dan masyarakat madani dilumpuhkan. Caranya ialah
dengan menguasai,  mengendalikan dan memperlemah mereka melalui tindakan represif seperti menangkap para aktivis dengan tuduhan makar,  isu radikalisme, UU ITE, Perppu Ormas dan sebagainya.

Ketiga, memelihara, menjaga dan merawat kebersamaan, persatuan dan kesatuan internal Kahmi,  internal umat Islam, dan eksternal sesama anak bangsa dan dengan pemerintah.

Dengan melakukan hal-hal yang dikemukakan di atas, maka yakin usaha sampai yaitu Kahmi dan kader alumni HMI akan semakin survive dalam mengabdi kepada bangsa dan negara di masa depan. Insya Allah akan sukses mengubah Indonesia ke arah yang lebih adil dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia.

Allahu a’lam bisshawab. Billahit Taufiq Walhidayah

Jakarta, 11/10/2017,

Pos terkait