Korban Penipuan 4 Milyar Minta Hakim PN Kendari Adili Terdakwa

  • Whatsapp

KENDARI, SULTRADEMO. CO – Memasuki sidang ke duabelas kasus penggelapan dana perusahaan antara Pimpinan PT Putra Harapan Sultra Line, Saktiawan, dengan kedua terdakwa yang tak lain adalah kariyawan perusahaan itu sendiri, Sakti selaku pimpinan mulai gerah dengan sikap kedua terdakwa.

Pasalnya, pasca pembacaan tuntutan oleh hakim beberapa pekan lalu, kedua terdakwa yang sebelumnya telah mengakui kesalahannya memberikan pembelaan yang dinilai tidak benar dan dibuat-buat.

Bacaan Lainnya

Sakti mengaku, bahwa kedua terdakwa telah dituntut 1 tahun 3 bulan penjara , dan itu sudah paling ringan/minimal. Namun keduanya malah membuat pembelaan yang sama sekali tidak benar.

Pada hari Senin lalu, kedua terdakwa melalui kuasa hukumnya melakukan pembelaan di depan Majlis Hakim PN Kendari, salah satu point di pembelaan itu, pihak terdakwa mengaku telah sepakat dengan Sakti untuk diberikan ganti rugi senilai 1 M, namun belakangan Sakti menolak dan tidak mengakui itu.

“Semua itu tidak benar, pembelaan itu tidak benar, kerugian saya empat M loh. Memang kami telah dimediasi, dan saya terima biar 1 M yang kembali, kami sepakat dibayar cash, tapi belakangan mereka tidak mau bayar cash, maunya dicicil selama satu tahun, ini kan aneh, padahal mereka punya mobil tiga, punya aset, apa susahnya sih,” cetus Sakti membantah pembelaan itu.

Atas dasar itu, Sidang yang digelar Kamis kemarin, 20/6/19 Sakti melalui Jaksa Penuntut Umum (JPU) membantah dan menolak semua point tertulis pembelaan kedua terdakwa dan tetap pada tuntutan awal.

“Olehnya itu saya berharap Hakim dapat memutuskan perkara ini dengan seadil-adilnya,” tutupnya.

Untuk diketahui, kasus penggelapan itu dilaporkan sakti pada Desember 2018 lalu, ia melaporkan dua karyawanya yang berkerja di bagian operasional ke Mapolda Sultra karena telah menipunya dan menggelapkan dana mencapai Rp 4 miliar.

Menurut Sakti, uang itu adalah penagihan pembayaran dari pemilik kapal yang seharusnya masuk dalam rekening perushaan, alih-alih uang itu malah masuk di kantong terdakwa.

“Mereka ini kariyawan saya menerbitkan invoice penagihan atas nama saya dan perusahaan serta menagih ke owner kapal, tapi hasil penagihan tidak masuk ke perusahaan,” tutupnya.

Laporan : AK
Editor : Adhin

  • Whatsapp

Pos terkait